Petani Jamur Sulit Penuhi Permintaan Pasar

Pengembangan usaha budidaya jamur tiram di Desa Babakan Gebang terkendala modal. Sampai saat ini, produksi jamur lokal belum mampu memenuhi permintaan pasar. FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBONPengembangan usaha budidaya jamur tiram di Desa Babakan Gebang terkendala modal. Sampai saat ini, produksi jamur lokal belum mampu memenuhi permintaan pasar.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Sejumlah petani jamur tiram di Wilayah Timur Cirebon (WTC) mengaku kesulitan memenuhi permintaan pasar yang begitu tinggi. Alhasil, produksi yang ada saat ini belum mampu memenuhi kebutuhan dan hanya mampu memenuhi sebagian pasar lokal saja.

Salah satu petani jamur tiram, Yeni warga Desa Babakan Gebang saat ditemui Radar mengatakan, dari 15 ribu baglog jamur yang ia miliki, setiap harinya ia saat ini hanya mampu memproduksi paling banyak 25 kilogram. Sementara permintaan jamur setiap hari selalu tinggi. Terlebih, jamur sejak dulu sudah jadi makanan favorit sehari-hari sebagian warga Cirebon.

“Kita punya 15 ribu baglog. Dari sebanyak itu, kita hanya mampu perharinya produksi 25 kilogram. Itu sangat kurang untuk memenuhi kebutuhan pasar, permintaan sangat banyak tapi kita terbentur kapasitas produksi,” ujarnya.

Menurut Yeni, untuk menambah produksi tentu sangat dibutuhkan modal yang tidak sedikit. Untuk satu baglog saja, paling murah dihargai Rp2000. Untuk meningkatkan kapasitas produksi menjadi 50 kilo perhari paling tidak harus menambah modal Rp30 juta hanya untuk baglognya saja. “Belum ditambah dengan modal pembuatan saung dan rak-rak tempat baglog. Bisa jadi membengkak lagi. Harapan kita ada bantuan, ada perhatian dari pemeritah untuk membantu permodalan,” imbuhnya.

Diakuinya, ia baru saja memulai usaha tersebut kurang dari setahun yang lalu. Dia memulai usaha dengan modal tak kurang dari Rp10 juta. Saat ini, usahanya terus berkembang dan akhirnya bisa menyuplai jamur untuk beberapa pasar yang ada di Wilayah Timur Cirebon. “Wilayah edar jamur kita dari mulai Pasar Babakan, Pasar Pabuaran, Ciledug dan bebrapa pasar lainnya. Selain itu, kita melayani juga pembelian langsung ke saung ataupun ke rumah,” jelasnya.

Sementara itu, salah satu pekerja budidaya jamur, Suhaya kepada Radar  Cirebon menuturkan, selain faktor penyakit dan hama, ada banyak hal yang mempengaruhi proses budidaya jamur di antaranya adalah iklim dan cuaca. “Kalau kemarau harus sering disemprot air. Kondisi sekitar jamur harus selalu lembab. Selain menguras tenaga, produksi jamur juga turun drastis jika kemarau. Beda dengan musim hujan seperti sekarang, bisa lebih santai dan produksi naik tajam,” ungkapnya. (dri)