Polemik Gedung Setda Kota Cirebon, Eks Manajer Proyek PT Rivomas Polisikan Mandor

Kota Cirebon
okri--gedung-setda-(3)Tampak depan pembangunan Gedung Sekretariat Daerah.FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON – Polemik di internal PT Rivomas Pentasurya, mencuat juga ke publik. Perselisihan kontraktor proyek gedung setda Kota Cirebon 8 lantai, merambat sampai ke tingkat mandor pekerja.

Eks Manajer Proyek, Tajudin membuat laporan dugaan pencurian yang dilakukan salah seorang mandor bernama Alim, Minggu (19/8) . Sementara menurut pengakuan Alim, dirinya diperiksa Unit Reskrim Polsek Utara Barat (utbar), terkait tuduhan mencuri mobil Inova milik Tajudin beberapa waktu lalu.

Padahal, sebelumnya antara dia dan Tajudin sudah ada kesepakatan lisan. Bilamana pembayaran pekerjaan yang tertunggak dari November 2017 sampai Februari 2018 belum dibayarkan, sebagai jaminannya adalah mobil milik Tajudin.

“Nilainya Rp 86 jutaan, dari bulan April dia selalu menjanjikan untuk ditransfer. Tapi sampai saat ini dia selalu ingkar,” ujar Alim kepada Radar Cirebon, Minggu (19/8).

Alim beralasan, susah menghubungi Tajudin, sehingga sekali waktu bertemu dia langsung meminta jaminan. Tujuannya agar ada itikad baik dari Tajudin untuk segera melunasi tunggakan pembayaran pekerjaan.

Bukannya pembayaran yang dirinya terima, malah beberapa hari lalu dia didatangi Tajudin dengan membawa banyak orang. Mengintimidasi dirinya untuk menyerahkan mobil jaminan.

Tentu saja Alim menolaknya, hingga akhirnya Tajudin melaporkan Alim ke polisi dengan tuduhan pencurian mobil. “Saya merasa takut, Mas. Saya ini hanya bekerja menurut perintah dari manajer proyek. Dengan kasus ini mohon kepada semua pihak bisa membantu,” ucapnya.

Alim menyebutkan, mandor proyek yang bekerja sekarang berjumlah sekitar tujuh orang. Alim sendiri membawa 14 pekerja. Sedangkan dulu pada awal pembangunan bisa sampai membawa 130 pekerja.

“Ada mandor Nana dengan 35 orang pekerja, Salim 27, Liam 25, Warni 150 dan mandor lainnya yang belum saya kenal,” tukasnya.

Sebelumnya, informasi ini ditampik perwakilan perusahaan, Kiki Siregar. Awalnya ia menolak dikaitkan dengan persoalan proyek gedung delapan lantai itu. “Kalau Gedung Setda jangan tanya saya. Nggak tau, nggak tau,” kata Kiki, saat dihubungi via telepon selular.

Kiki menolak untuk ditemui secara langsung. Alasannya, dia sibuk mengurus beberapa pekerjaan. “Ini tiap hari pulang malam. Nanti deh,” kilahnya.

Kendati demikian, Manajer Proyek PT Ratu Karya yang mengerjakan proyek Dana Alokasi Khusus (DAK) Rp 96 miliar di Kecamatan Harjamukti ini mengakui, sedang ada di Kota Cirebon. Salah satu keperluannya mengurus pergantian manajer proyek Gedung Setda. (gus)