Produksi Melimpah, Harga Garam Anjlok

Kabupaten Cirebon
dri---terbaru-garambendungan-(1)Sejumlah petani garam di Desa Bendungan mulai melakukan panen raya. Harga garam di wilayah ini masih tergolong tinggi karena terserap maksimal oleh industri rumahan pembuatan garam.FOTO:ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON-Musim panen garam di Kabupaten Cirebon kini masuk masa puncak. Produksi garam pun kini hampir bisa dilihat setiap hari di beberapa wilayah produsen garam, khususnya yang berada di Wilayah Timur Cirebon. Kondisi tersebut membuat harga garam dalam beberapa hari terakhir anjlok. Diperparah lagi dengan harga garam yang dikendalikan para tengkulak.

Sejumlah petani di beberapa wilayah mengeluhkan murahnya harga garam saat ini. Di beberapa wilayah kantong-kantong produsen garam, harga bahkan sudah berada di bawah Rp1.000/kg. Namun kondisi tersebut tidak berlaku di Desa Bendungan, Kecamatan Pangenan. Harga garam di desa tersebut kini masih di antara Rp1.000 sampai Rp1.200/kg. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kondisi yang terjadi di Desa Bendungan tidak seperti desa-desa lainnya.

Dedi, salah satu petani garam yang ditemui Radar Cirebon mengatakan, meskipun saat ini sedang musim panen raya dan harga garam cenderung turun, namun di wilayahnya harga garam masih sedikit lebih mahal ketimbang daerah lainnya. “Ini karena di sini permintaan akan garamnya tinggi. Saat ini saja, ada lima pengepul garam yang membeli garam milik para petani,” ujarnya.

Garam-garam milik para petani tersebut, menurut Dedi, diproses untuk pembuatan garam kemasan yang nantinya didistribusikan ke pasar-pasar tradisional. “Di sini pengepul garamnya punya usaha pembuatan garam kemasan. Jadi, kebutuhannya banyak. Petani kan jadinya tidak perlu jauh-jauh jual garam atau khawatir garamnya tidak laku terjual,” imbuhnya.

Namun diakuinya, meskipun harga garam di tingkat petani begitu murah, kenyataannya harga garam krosok produksi petani tersebut, perkilonya masih di harga antara Rp2.000 sampai Rp2.500. “Ini kan aneh juga. Masa di petani harganya paling seribu, di pasar tradisional harganya masih Rp2.000 sampai Rp2.500. Harganya dimainkan tengkulak, kita untung sedikit mereka yang untung banyak,” jelasnya.

Dedi pun memperkirakan jika dalam beberapa waktu ke depan harga garam akan semakin murah. Di saat itu, biasanya para petani sudah mulai menyimpan garamnya untuk dijual kembali jika harga mulai merangkak naik. “Kalau harga turun 800 kita masih jual. Tapi kalau sudah lima ratus atau di bawahnya kita simpan lagi. Kita jual lagi kalau musim hujan. Biasanya harga saat itu bisa dua ribu. Tapi masalahnya tidak semua petani punya gudang,” paparnya.

Sementara itu, petani lainnya Sabri kepada Radar Cirebon mengatakan, produksi garam saat ini dengan panas yang konstan bisa dilakukan paling cepat dua hari sekali. Kondisi tersebut hanya akan berlangsung beberapa bulan sampai akhirnya musim hujan datang kembali. “Kita sekarang produksi atau panen dua hari sekali. Tapi paling lama itu kalau seperti ini, empat bulan sudah bagus. Biasanya cuma tiga bulan produksi saja langsung datang musim hujan,” ungkapnya. (dri)