Putar Balik Lagi karena Jalur ke Masjidilharam Sudah Ditutup

MAKKAH-UMRAHBALIK LAGI: Sebagian jamaah memilih putar balik karena jalur menuju Masjidilharam sudah ditutup dua jam jelang Salat Jumat. FOTO: ABDUL HAMID/RADAR CIREBON

Makkah jadi kota yang tak pernah tidur. Apalagi selama Ramadan. Sepanjang jalan menuju Masjidilharam, Kota Makkah menjadi lautan manusia. Seperti Salat Jumat kemarin. 

======================

AWALNYA saya berangkat menuju Masjidilharam pukul 09.30 waktu setempat. Sesampainya di kilometer dua jalur Misfalah menuju Masjidilharam, pintu sudah ditutup. Ada ratusan askar (polisi) yang berjaga agar jamaah tidak masuk ke masjid.

Kemudian, saya dan jamaah Umrah Ramadan Bersama Salam Tour yang menuju Masjidilharam bersama-sama menunggu beberapa saat. Siapa tahu ada celah untuk masuk. Namun, saking berjubelnya jamaah dan kawalan ratusan askar, tidak ada yang bisa masuk.

Sempat beberapa kali jamaah luar Indonesia adu mulut dengan askar. Tetap saja jamaah dilarang masuk sekalipun nangis-nangis sesenggukan.

“Kita balik lagi saja. Salat Jumat di depan hotel kita menginap. Jamaah sangat banyak, takut berdesakan,” kata salah satu jamaah Umrah Ramadan Bersama Salam Tour, Muhammad Dzaky.

Suhu Kota Makkah yang mencapai 45 derajat celcius membuat kami balik lagi setelah berjalan 1 kilometer. Dzaky yang merupakan jamaah termuda dalam rombongan (kelas X SMA) sempat mengusulkan Salat Jumat di salah satu food court tak jauh dari pintu yang ditutup askar.

Namun, di sana tempatnya kotor dan banyak sampah. “Waduh, jadi kita salat di mana nih?” tanya Haji Hasan, jamaah lainnya.

Sambil melawan arus jamaah yang mau ke Masjidilharam, kami tetap jalan menuju hotel.  Beberapa meter lagi sampai di Hotel Fajar Badi, tempat menginap rombongan Umrah Ramadan Bersama Salam Tour, Dzaky punya ide. “Daripada Salat Jumat di aspal (lapangan), mendingan kita salat di masjid dekat hotel,” sarannya.

Dzaky memang cukup hafal wilayah Misfalah. Soalnya, dia sering melaksanakan ibadah umrah. Sesampainya di masjid, sekitar pukul 10.15, suasana masih sepi. Berbeda ketika melihat jamaah yang menuju Masjidilharam, berbondong bondong dan berdesakan mencari pahala besar salat di sana.

Mendekati adzan Dzuhur, jamaah di masjid yang kami tempati mulai dipadati. Hingga adzan pertama, jamaah terus berdesakan. Tidak sedikit yang bertengkar untuk berebut tempat. Saking banyaknya jamaah Salat Jumat, ada yang salat hingga keluar masjid.

Satu saf salat yang biasa, diisi dua saff. Jarak antarsaf jadi pendek. “Insya Allah pahala salat di sini sama dengan di Masjidilharam karena masih satu tempat,” kata Dzaky.

Jelang khutbah, jamaah di masjid bernama Mahmudallah terus merangsek masuk. Sambil menunggu adzan, saya sempatkan diri untuk menulis berita ini. Karena sering memperlihatkan ponsel, dan itu terkesan aneh di hadapan jamaah, saya sempat ditegur seseorang di belakang saf saya.

Dengan bahasa Arab, orang berjanggut itu menunjuk ponsel saya, dengan gestur tak senang. Lalu, saya jawab dengan menggunakan bahasa Inggris, “I’m reporter from Indonesia. So, I write my report on this phone,”. Akhirnya pria paruh baya itu mengangguk, tanda memahami kondisi tersebut.

Dalam khutbahnya, khatib menganjurkan perbanyak ibadah di 10 hari terakhir. Seperti yang dilakukan Rasulullah SAW. Khatib juga mengajak para jamaah untuk beriktikaf. Saat salat, saf salat menjadi lebih sempit. Untuk sujud saja harus menekuk pinggang. Bahkan, di samping ujung kaki saya ada kepala orang yang sedang sujud.

Setelah selesai Salat Jumat, kami kembali ke hotel. Nahas, sandal kami raib. Hanya punya Haji Hasan yang utuh. Ini jadi pelajaran berharga bagi jamaah yang menetap di Misfalah.

Jika Salat Jumat tak kebagian tempat di Masjidilharam, bisa salat di salah satu masjid terdekat. Lalu, jangan sampai sandal Anda ditaruh di penitipan yang tanpa penjaga. Lebih baik, bawa sandal Anda ke dalam masjid dengan tas. (*)