Ramadan, Konsumsi Gas Melon Diprediksi Melonjak sampai 400 Persen

okri--hiswana-migas-sidak-ke-pangkalan-(4)Pemerintah Kota Cirebon juga melakukan pantauan lapangan, karena menjelang Ramadan biasanya terjadi kenaikan harga. Inspeksi ini juga diikuti PT Pertamina Retail dan Himpunan Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas).FOTO:OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Persediaan gas kemasan 3 kilogram (kg) terpantau aman untuk menghadapi momen Ramadan. Meski demikian, Pemerintah Kota Cirebon, tetap mengajukan kuota tambahan untuk menjaga ketersediaan di pasaran.

Pemerintah Kota Cirebon juga melakukan pantauan lapangan, karena menjelang Ramadan biasanya terjadi kenaikan harga. Inspeksi ini juga diikuti PT Pertamina Retail dan Himpunan Himpunan Wiraswasta Minyak dan Gas Bumi (Hiswanamigas).

“Harga diprediksi naik. Ini karena rumah tangga dan pedagang kecil pemakaiannya juga lebih dari biasanya,” ujar Kepala Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Drs Sosro Harsono, kepada Radar Cirebon.

Kenaikan dalam penggunaan gas ini, dikhawatirkan bakal memicu kelangkaan. Terutama di pertengahan Ramadan dan menjelang Idul Fitri. Sebagai antisipasi, pemkot mengajukan tambahan 400 persen dari kuota normal kepada pemerintah pusat. Kuota tersebut diharapkan mencukupi permintaan elpiji bersubsidi mulai awal Ramadan sampai H+7 lebaran nanti. “Tambahan kuota itu sudah disetujui. Sudah berjalan mulai 1 Mei,” katanya.

Rincian dari tambahan kuota itu, dipakai apda 1 Mei sebanyak 100 persen. Kemudian 10 Mei meningkat jadi 150 persen. Sisa 150 persen lagi akan digunakan pada akhir Ramadan atau pasca lebaran. Selain menjamin ketersediaan, diharapkan stok elpiji yang melimpah dibarengi dengan ketepatan sasaran. Sebab, gas melon ini hanya diperuntukan bagi masyarakat tidak mampu dan usaha kecil.

Ketua Hiswanamigas Wilayah Cirebon Adhy Alamsyah juga menjamin ketersediaan gas elpiji. Pasalnya berapapun kuota yang diminta anggotanya selalu terpenuhi oleh Pertamina. Namun Adhy juga meminta kesabaran dari para konsumen bila terjadi keterlambatan distribusi. Ini dipengaruhi oleh kemacetan di beberapa titik jalan yang dilalui arus mudik. “Gangguan distribusi bisa saja terjadi, antisipasinya kita coba koordinasi sama polisi dan dishub,” tuturnya.

Dari koordinasi itu, jalur distribusi bisa diubah. Misalnya informasi ke dishub terkait peta jalan mana yang dihindari karena faktor kemacetan. Kemudian berkoordinasi dengan polisi untuk mengawal truk mulai dari SPBE sampai ke gudang agen.

Mengenai lonjakan harga, Hiswanamigas memang tidak bisa berbuat banyak. Sebab, hanya bisa memberi patokan ke agen sampai pangkalan. Setelah itu mulai dari penjual atau pengecer hingga diterima konsumen, biasanya ada perubahan harga. Tetapi diharapkan perubahan harga ini tidak terlalu tinggi. “Saya kasih contoh. Di pangkalan harga elpiji Rp16.500. Jadi di tingkat pengecer sampai diterima konsumen jangan lebih dari Rp20 ribu,” tuturnya.

Sales Executive LPG Rayon X Pertamina, Wilson Adiwijaya mengaku berupaya melayani permintaan baik dari Hiswanamigas maupun pemda terkait penambahan kuota. Pertamina juga berupaya menjaga supply-demand agar terjaga dan seimbang. “Elpiji aman. Untuk pengawasan, kita rutin sidak,” katanya. (gus)