Ramadhan di Negeri Musa dan Fir’aun

916
Abdus Salam Muharam
Abdus Salam Muharam

Sudah menjadi kewajiban bagi seorang Muslim untuk melaksanakan ibadah puasa ketika ramadhan tiba.

Allah berfirman dalam surat Al-baqarah : 183.

[ يا أيها الذين أمنوا كتب عليكم الصيام كما كتب على الذين من قبلكم لعلكم تتقون ].

Artinya:
“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa sebagaimana (Allah) wajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa”.

Nah,bagaimana sahabat menurut kalian jika berpuasa sebulan penuh di Negeri orang? Tentu memiliki perbedaan dengan Negeri sendiri bukan? Kebetulan sekali,ramadhan tahun ini menjadi yang pertama kalinya bagi saya dapat menjalankan ibadah puasa di Negeri orang.

Negeri Mesir yang masyhur dengan Piramida sebagai sejarah peradaban kuno,sungai Nil sebagai salah satu sungai terpanjang di dunia, universitas Al-Azhar sebagai pusat studi islam tertua yang didirikan sejak dinasti fatimiyyah, cerita fiksi ayat-ayat cinta dan Ketika Cinta Bertasbih (KCB) yang ditulis oleh novelis alumni Al-Azhar Mesir Habiburrahman El-Shirazy atau yang akrab disapa Kang Abik sebagai kisah cinta asmara yang membuat syahdu hati para remaja Indonesia.

Dan tahukah kalian? Ramadhan di Mesir beberapa tahun ini datang ketika awal musim panas tiba. Ketika musim panas, waktu siang berjalan lebih lama dari pada malamnya. Yang sudah pasti puasanya lebih lama di bandingkan dengan Indonesia.

Jika saja puasa di Indonesia berdurasi kurang lebih sekitar empat belas jam, maka puasa musim panas di mesir biasanya berdurasi kurang lebih sekitar lima belas hingga enam belas jam. Dimulai dari imsak kurang lebih pukul 03.00 clt hingga buka puasa pada kurang lebih pukul 19.00 clt(waktu Kairo setempat). Mungkin jika ramadhan dua puluh tahun lalu akan berbeda ceritanya dengan ramadhan saat ini. Kala itu puasa hanya dua belas jam,dimulai imsak kurang lebih pukul 05.00 dini hari dan berbuka kurang lebih pukul 17.00 sore hari.

Wah,alangkah nikmatnya ya..hhe.

Memang hanya selisih satu atau dua jam dengan Indonesia jika berpuasa di musim panas. Namun, udara hangat disertai debu-debu gurun Mesir yang seakan-akan memanggang hidup-hidup bagi penduduknya akan terasa lebih berat untuk menunaikannya.

But, keep calm guys.Kembalikanlah sepenuhnya kepada Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.Karena Allah tidak akan membebani manusia,melainkan ia dapat menjalankannya.
Pasti sahabat semua masih Ingat dengan firman Allah pada surat Al-baqarah : 286?

Allah berfirman :

[لا يكلف الله نفسا إلا وسعها …]

Artinya :

 “Allah tidak akan membebani seseorang melainkan berdasarkan kemampuan(hamba)-Nya”.

Sudah jelas bukan?Allah telah mewajibkan berpuasa kepada hambanya dan pasti mereka dapat menunaikan perintahnya.

Ternyata dibalik semua itu Allah memberi hikmah dan nikmat yang besar kepada kita semua.

Penduduk asli Mesir memang terkadang membuat kita agar selalu mengelus dada sebagai tanda sabar atas prilakunya yang “Sok kenal, sok dekat” dengan kita. Gaya bicara mereka memang keras. Sulit untuk mengetahui kapan ketika mereka bercanda dan kapan ketika mereka memang benar-benar marah. Retorika tubuh mereka memang unik, namun menyebalkan. Karena memang sifat mereka abstrak dan sulit ditebak. Namun sifat ini relatif, tidak semua penduduk bersifat demikian.

Namun, coba teman-teman perhatikan. Sifat mereka di atas akan berubah menjadi 180° dari sifat Fir’aun menjadi sifat Nabi Musa.

Ketika sore hari sebelum berbuka, dapat kita jumpai di pinggir jalan raya maupun depan rumah dan toko-toko pribadi milik warga yang berkecukupan dalam ekonominya, mereka menyediakan bangku, meja, seperangkat alat makan dan juga tenda sebagai penghias tempat. Sigap, mereka menarik lengan siapa pun yang melewati depan lapaknya untuk berbuka bersama dengan mereka. Terkadang mereka berebut dengan pemilik lapak lain untuk mendapatkan seseorang agar berbuka bersama di lapak miliknya.

Mereka ingin bersedekah dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Menyediakan hidangan berbuka puasa kepada sesama muslim yang tak dikenalnya. Dengan menu khas mereka menyediakan 3 butir kurma, air putih atau ‘Asyir (jus buah), nasi putih beserta lauk pauk berupa daging ayam atau daging sapi, sayur kentang dan kacang (Fuul) plus roti ala mesir yang tengahnya disobek (‘isyh).

Bagaimana dengan mereka yang kurang dalam ekonominya? Terkadang mereka menyediakan air putih dingin dengan gelas plastik atau sekedar jus kotak membagikannya secara cuma-cuma kepada para pejalan kaki yang belum sempat berbuka puasa.

Subhanallah, Maha Suci Engkau Yang Maha Membolak-balikan hati manusia.

Jika ramadhan tiba, maka bukanlah waktu yang tepat untuk bermalas-malasan disiang hari. Bagi para mahasiswa baru seperti saya biasanya kami menyibukkan hari-hari kami untuk menghafalkan Al-qur’an atau mengikuti Dars (kajian agama) bersama para Masyaikh(Syaikh atau Guru Besar) Al-Azhar selepas sholat berjama’ah.

Banyak dari polisi atau tentara yang sedang bertugas menjaga pos di depan masjid atau kantornya, mereka membawa mushaf Al-qur’an untuk dibacanya ketika sedang berjaga.
Tak kalah saing dengan polisi, kondektur (kenek) bus dalam kota pun melakukan hal yang sama di dalam bus,yaitu membawa mushaf Al-Qur’an dan membacanya setelah menarik tiket kepada para penumpang.

Waktu tarawih tiba, masjid-masjid pun dipenuhi oleh jama’ah dari berbagai sudut kota tua ini. Sebagai Ibu Kota Mesir, Kairo memiliki banyak sekali masjid-masjid besar yang bersejarah dan menjadi tempat destinasi ruhani dalam menunaikan sholat tarawih berjama’ah.

Diantaranya beberapa masjid yang masyhur adalah masjid Al-Azhar, masjid Sayyidina Imam Husen, masjid Imam Syafi’ie, masjid Ibnu Tholun, masjid Muhammad Ali Pasha (Benteng Solahuddin Al-Ayyubi) dan lain sebagainya. Masjid-masjid itu memiki arsitektur yang khas serta memiliki masing-masing sejarah berdasarkan periode pembangunannya.

Ada salah satu masjid yang rumornya paling ramai dikunjungi ketika malam ‘Asyroh Awaakhir (10 hari terakhir ramadhan) atau malam-malam Lailatul Qadr. Jika kita ingin menunaikan sholat tarawih di sana, maka mulai sholat ashar berjama’ah disarankan sudah berada di masjid tersebut. Karena jika tidak,sulit bagi kita untuk mendapatkan shoff (barisan) untuk sholat.

Apakah kalian tahu masjid apakah itu? Itu adalah Masjid Amru bin ‘Ash. Masjid ini terkenal sejarahnya karena masjid inilah yang pertama kali dibangun di Benua Afrika oleh Gubernur Amr bjn ‘Ash pada masa kepemimpinan Khalifah Umar bin Khattab. Setelah menaklukan atau melakukan pembebasan terhadap mesir, Gubernur Amr bin ‘Ash mendirikan masjid ini untuk pertama kalinya. Dan sekarang masjid ini telah melakukan renovasi dan perluasan halaman, beberapa saat yang lalu.

Begitu juga dengan Masjid Al-Azhar. Masjid ini biasanya ramai oleh mahasiswa-mahasiswa asing dari berbagai macam negara yang sedang menuntut ilmu di Universitas islam ini. Di masjid yang bersejarah ini, rutin menghabiskan bacaan Al-qur’an satu Juz tiap malamnya. Di Imami oleh para Masyaikh Al-Azhar dengan jadwal yang berbeda dan bacaan Riwayat Qiro’at Al-qur’an yang terkadang juga berbeda tiap malamnya. Membuat hati ini luluh pada tiap sujudnya.

Allahu Akbar.

Jika saya pribadi merasakan hidup di Negeri Para Nabi ini seperti hidup di dalam Museum Raksaksa yang mempunyai ribuan bahkan jutaan sejarah dan peradaban. Mungkin jika bangunan-bangunan tua tersebut dapat berbicara,mereka akan bercerita secara langsung dan detail tentang sejarah yang telah mereka lewati… hehe.

Begitulah kurang lebihnya gambaran suasana singkat Ramadhan yang indah di Negeri Musa dan Fir’aun.

Semoga bermanfaat.

Akhukum Fillah – Abdus Salam Muharam, Santri Universitas Al-Azhar, Kairo