Restoran Menu Indonesia, Rasanya seperti di Rumah Sendiri

umrah-radar-cirebon-groupTINGKATKAN SPIRITUAL: Tidak ada atribut Piala Dunia 2018 di salah satu wilayah di Kota Makkah. Tepatnya di wilayah Misfalah, bersih dari ingar-bingar pesta sepak bola sejagat tersebut. FOTO: Abdul Hamid/Radar Cirebon

WARGA negara Indonesia (WNI) tidak usah takut selera makan menjadi bad mood ketika berada di Arab Saudi. Ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia. Lokasinya sangat dekat dengan Masjidilharam, Makkah. Tepatnya di Lantai P3 Zam Zam Tower, di bawah Royal Clock Tower (satu gedung).

Sejumlah makanan khas tersedia. Mulai dari aneka takjil jenis kolak seperti bubur pacar, bubur sumsum, kolak pisang, candil, es campur, hingga lauk untuk makan berat. Yakni, rendang, balado terong, opor ayam, oreg, tempe-tahu, sambal, lalapan, ayam bakar, plus aneka sayur.

Restoran yang berdiri sekitar dua tahun lalu ini dipenuhi jamaah asal Indonesia saat sahur dan buka puasa. Wartawan koran ini menyempatkan berbuka puasa di restoran bernama Mat’am Kuwais tersebut.

Rasa makanannya memang khas Indonesia. “Rasanya seperti berada di rumah,” kata Anis Safitri, jamaah asal Depok. Restoran ini memang duplikat dari yang ada di Indonesia. Kalau biasanya takjil makan makanan Rasulullah seperti roti dan susu keju atau laban, di sini menunya tetap kolak.

“Disunnahkan makan yang manis dulu. Lidahnya memang sudah kecele, harus ke-Indonesiaan,” tambah ibu yang punya seorang putri bernama Salsabila Safitri ini. Soal rasa, dia merasa cocok. “Saya biasa masak masakan ini loh. Sekarang tinggal beli. Ngga usah capek-capek masak,” katanya.

Dia bersyukur ada restoran yang menyajikan makanan Indonesia. Setelah berbuka dengan makan berat, Restoran Mat’am Kuwais juga menyediakan bakso. Ya, makanan yang satu ini sangat favorit diburu kaum hawa. Khususnya ibu-ibu. Pengelola restoran sering kewalahan menyiapkan pesanan. “Apalagi kalau buka puasa. Banyak yang pesan,” ujar Muhammad Haekal Hafidz, manajer Restoran Mut’am Kuwais.

Dia menyebut bahwa WNI yang berkunjung ke Makkah untuk ibadah merespons positif adanya restoran Indonesia. Beberapa jamaah merasa puas adanya restoran tersebut. Dia berjanji akan memaksimalkan layanan kepada WNI. “WNI di Makkah cukup banyak. Saya rasa restoran khas makanan Indonesia harus diperbanyak,” tutur pria asal Banyuwangi ini.

Untuk SDM, dia menyebut berjumlah 12 orang. Bidang-bidang SDM dibagi khusus. Seperti koki, didatangkan langsung dari Indonesia. “Semua karyawan orang Indonesia. Ini sebagai bentuk tradisi agar rasa makanan tidak berubah dari asalnya. Siapa tahu kalau yang masak bukan orang Indonesia, nanti rasanya lain,” jelasnya kepada Radar.

Dia mengaku bahwa bahan-bahan makanan yang diolah, khusus berjenis dari Indonesia. Misalnya, rempah-rempah di Arab Saudi yang sama, digunakan untuk bumbu. Ada juga sebagian didatangkan dari Indonesia. Seperti untuk bumbu sayur lodeh. Haekal mengatakan, racikan yang pas mengambil dari bumbu Indonesia. “Koki tentu paham soal bumbu,” ujarnya.

Ditanya menu favorit, Haekal menyebut bahwa ikan bakar sangat diminati selain bakso. Bahkan, ada sejumlah WNA yang ketagihan dan jadi langganan. WNA tersebut berasal dari Turki, Ini Emirat Arab, Mesir, dan orang Arab Saudi sendiri. Pada umumnya, mereka heran dan coba-coba soal rasanya. Khususnya yang hobi kuliner.

“Awalnya mereka nanya-nanya. Ini makanan apa? Lalu setelah mencoba sendiri malah ketagihan,” jelas Haekal, pria yang langsung klik dengan saya karena di rumahnya di Banyuwangi dia berlangganan Radar Banyuwangi (Radar Cirebon Group).

Mat’am Kuwais saat Ramadan buka pada pukul 16.00 dan tutup pada pukul 04,00 pagi setelah sahur. Kalau hari biasa (selain Ramadan), buka normal, yakni pukul 09.00 pagi dan tutup pukul 21.00.”Kalau Ramadan, aktivitas memang malam hari. Kalau siang, kita tutup. Baru menjelang berbuka, kita open gate,” pungkasnya. (*)