Rg Bagus Warsono, Membumikan Sastra Lewat Buku Lumbung Puisi

Kota Cirebon
EKSIS: Pegiat sastra Rg Bagus Warsono bersama keluarganya.

Meluapkan isi hati dalam bait dan rima yang membentuk untaian kata. Sastra, membuat Rg Bagus Warsono lebih sadar bahwa hidup tak seperti dongeng impian tapi mengantarkan pada sebuah realita.

Laporan: MIKE DWI SETIAWATI, Cirebon

SIAPA yang tak kenal dengan “Si Binatang Jalang”? Julukan seorang Chairil Anwar, penyair terkemuka di Indonesia. Ada pula Goenawan Mohamad, sastrawan dan salah seorang pendiri majalah ternama. Atau Sapardi Joko Damono, keahliannya melakukan lompatan berbahasa sesuai masa tanpa meninggalkan karakternya, membuat sajak-sajaknya mudah dicinta siapa saja, bahkan mereka yang tak paham sastra.

Ya, sastra bukan sekadar rangkaian kata-kata yang puitis, mendayu-dayu dan membuat orang terpesona. Sastra, adalah upaya untuk menggali suara dari nurani melalui bahasa. Rg Bagus Warsono, adalah satu diantara sastrawan yang sampai saat ini aktif berkarya.

Kecintaannya pada dunia sastra sudah sejak tahun 1984. Awalnya hanya kegemaran membaca saja. Namun, setelah mulai menulis jadi ketagihan. Ada banyak hal yang menarik bagi pria yang akrab disapa Bagus itu selama aktif di dunia sastra. “Menulis karya sastra bukan sekadar menghibur atau pengantar tidur. Tetapi karena memang ada sesuatu yang ingin aku sampaikan dan harus diungkapkan,” ujarnya.

Selama 32 tahun aktif berkarya, ada satu pengalaman yang tak bisa Bagus lupakan. Ia mengaku pernah membuat surat cinta kepada salah seorang perempuan. Perempuan yang ia kirimi surat cinta itu tak percaya kalau dirinya sungguh-sungguh, karena surat tersebut dalam bentuk puisi.

“Setelah aku berkeluarga dan orang yang kusurati juga berkeluarga dalam sebuah kesempatan bertemu, aku bilang bahwa dulu itu serius. Sambil tertawa perempuan itu teringat suratku dulu, katanya kenapa tak terus terang? Ngomong pakai puisi segala,” ceritanya.

Untuk terus membumikan sastra, Bagus berinsiatif membuat Lumbung Puisi sejak tahun 2013. Lumbung Puisi, sebuah kegiatan sastra rutin bagi penyair Indonesia dalam rangka mendokumenasikan karya-karya sastra. Selain penggagas, Bagus juga sebagai kurator dalam usaha menjadikan pusat dokumentasi sastra terkini. “Kegiatan ini nonprofit tetapi atas dasar gotong royong bagi sahabat penyair yang sudi bersama memajukan satra Indonesia,” terang pria kelahiran Tegal, 29 Agustus 1965.

Lumbung Puisi, diakui Bagus, bukan kegiatan sastra yang besar. Bagus sudah menerbitkan Buku Antologi Lumbung Puisi Jilid IV di tahun ini. Buku Lumbung Puisi, berisi puisi yang direkrut dari penyair se-Indonesia sebagai wahana baca. Lumbung Puisi juga tidak berurusan dengan komunitas apapun, golongan apapun atau angkatan apapun. “Tidak ada kendala bahkan terasa bebas, karena tak ada paksaan dalam berkarya,” tuturnya.

Menjamurnya kegiatan sastra merupakan angin segar bagi pertumbuhan sastra dan pelakuknya di Tanah Air. Menurut Bagus, hal ini sebagai kegembiraan bagi kalangan pegiat sastra bahwa Indonesia semakin banyak tumbuh pengguna sastra. Sebuah harapan kedepan akan perkembangan ini secara nyata akan merubah iklim bahasa serta psikologis di masyarakat menjadi semakin baik. “Karena sastra itu memiliki makna tersendiri bagi karakter bangsa ini,” pungkasnya. (*)