Sastra Postcolonial III

Oleh: Fathan Mubarak

FATHAN-MUBARAK-BRO

BAGI Prof Faruk, diloloskannya novel Siti Nurbaya oleh lembaga penerbitan pemerintah kolonial, Balai Pustaka, disebabkan oleh keberhasilan pengarangnya dalam membangun kesan—bahwa roman Siti Nurbaya seakan membela Belanda, padahal sebaliknya. Saya tak setuju. Daripada menyerupai muslihat seorang penyelundup untuk mengelabui pihak pabean di bandara, ambiguitas dan ambivalensi novel Siti Nurbaya lebih karena “teks” tersebut memang lahir dari dunia “antara” dalam perbincangan postcolonial.

Roman Siti Nurbaya mengetengahkan konflik antara “yang lama” dan “yang baru”, “yang dalam” dan “yang luar”, “yang akrab” dan “yang asing”. Samsul Bahri sebagai tokoh utama mengemban pikiran-pikiran maju dan modern. Sedang Datuk Meringgih, lawannya, mewakili tradisi kolot bangsa Minang yang feodal dan oligarkis. Dalam roman tersebut, sejumlah kata kunci postcolonial seperti mimikri, liminal, hibrida, third space, begitu melekat pada sosok Samsul Bahri.

Samsul Bahri, putra Padang yang mengenyam pendidikan Belanda, memang tampak begitu Belanda. Sekali waktu ia mengenakan jas tutup putih dan celana pendek hitam yang berkancing di ujungnya. Sepatunya hitam tinggi, tersambung ke atas dengan kaus sutra yang diikatkan kaus getah pada betis. Kepalanya tertutupi topi rumput putih yang biasa dipakai bangsa Belanda. Pemuda itu pun kerap memegang buku dan bercakap dalam bahasa Belanda. Sepintas memang ia Belanda. Namun dari jarak dekat, akan didapati betapa “…kulitnya kuning sebagai kulit langsat, rambut dan matanya hitam sebagai dawat”.

Di tengah sebagian besar bangsanya yang buta huruf, Samsul kerap menceritakan fable-fabel Belanda pada Siti Nurbaya. Ia mengajarkan matematika dasar, menjelaskan hilir-mudik kapal-kapal, juga sesekali menjalani gaya hidup Eropa. Pada suatu malam menjelang Samsul berangkat ke Batavia, ia dan teman-temannya pun berpesta.

Phonograph memutar lagu wals. Kue-kue, teh, coklat, sirop, lemonade, semua dihidangkan. Samsul menarik tangan Siti Nurbaya hingga mereka larut dalam tarian dan gelak tawa. Usai dengan Samsul, Siti berjoget pula dengan Arifin, lalu Bachtiar. Seorang sahabat Samsul berdiri dengan memegang gelas anggurnya dan berpidato. Lalu saat malam tiba, mereka duduk mengelilingi meja makan. Mula-mula menyantap sup, lalu keroket, lalu kentang dan salada. Mereka mencuci mulutnya dengan aneka buah dan kopi.

Roman yang pada 2009 menjadi salah satu pilihan penyair Taufik Ismail untuk dicetak ulang dalam edisi khusus Indonesian Cultural Heritage Series itu, masih menyimpan sesuatu yang bagi saya menggetarkan—sesuatu yang tak mungkin diterima adat “kuno” Minangkabau. Saat itu Siti Nurbaya yang sudah menjadi budak Datuk Meringgih minggat ke Batavia, menyusul Samsul yang dicintainya. Di sana, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri berjalan bergandengan tangan menyusuri malam Batavia. Mereka naik bendi. Naik kereta keliling kota. Dan makan di restoran. Malam itu, Nurbaya lupa akan segala derita yang ditanggungnya. Ia benar-benar dirundung bahagia. Mereka pun percaya pada kebebasan yang ditawarkan modernitas. Mereka, dengan luapan sukacita dan optimisme yang menyala-nyala, mencium hari esok yang gilang gemilang. Kata Nurbaya dalam takjubnya:

“Sesungguhnya Batavia ini sangat besar dan sangat ramai; penuh dengan toko dan rumah yang besar-besar dan bagus-bagus. Harus jadi ibu negeri Indonesia.”

Sulit agaknya menganggap Samsul Bahri sekadar siasat di hadapan lembaga sensor Balai Pustaka. Sebab dikesankan kuat, Samsul Bahri mencenderungi ilmu pengetahuan, budaya dan gaya hidup Eropa. Namun di sisi lain, Samsul Bahri tetaplah seorang pribumi yang tak benar-benar bisa lepas dari segala lokalitas bangsanya. Di sela-sela pertempuran terakhirnya, Samsul Bahri bahkan menyatakan kesadaran relasional antara yang akrab dan yang asing, yang menjajah dan yang terjajah. Bagaimanapun, ia yang telah berpangkat letnan adalah bagian dari kaumnya, kaum dari bangsanya. Jika Datuk Meringgih dalam sekaratnya mengumpat anjing, Samsul Bahri meninggal sebagai seorang muslim dengan menyeru Allahu akbar. Oleh sebab itu,  dengan daya eklektisismenya, Samsul Bahri adalah representasi dari hubungan Belanda-Pribumi yang tidak hitam-putih.

Pendapat Prof Faruk mengarah juga pada sikap dan posisi Marah Rusli. Sebagai lembaga penerbitan Belanda, Balai Pustaka memang memiliki sejumlah kualifikasi untuk tiap karangan. Namun jika ada yang bukan Marah Rusli dari roman Siti Nurbaya—mengikuti kritikus Bakri Siregar dalam Sedjarah Sastera Indonesia, itu hanya pada gaya bahasa. Roman Siti Nurbaya lebih menggunakan apa yang disebutnya sebagai bahasa Melayu “gaya Balai Pustaka”. Selebihnya, ambiguitas roman Siti Nurbaya lebih mirip sebuah manifesto pikiran dan kegelisahan penulisnya.

Kita tahu, Marah Rusli adalah putra Minang yang berpendidikan Barat. Ia modernis sekaligus westernis. Ia juga kritis terhadap budayanya. Bukan sebatas wacana ia menolak ide perjodohan. Marah Rusli, sastrawan yang oleh H.B. Jassin dijuluki Bapak Roman Modern Indonesia, memilih minggat dari tanah Minang dan menikahi perempuan Bogor yang dicintainya daripada pulang dan taat pada perjodohan di kampuang—satu pengalaman hidup yang kelak dituliskannya juga dalam roman Memang Jodoh.

Namun sebagai penghuni third space, kakek musisi Harry Roesli yang berpendidikan Barat ini ikut juga mendirikan Jong Sumatera Bond. Sesaat setelah proklamasi kemerdekaan ia bahkan bergabung dengan ALRI, Angkatan Laut Republik Indonesia. Ia benar-benar tak berada dalam situasi Timur-Barat yang hitam-putih. Ia tidak bisa disebut Melayu totok, tapi bukan juga Belanda. Ia liminal dan hibrid. Hingga pada akhirnya baik Samsul Bahri maupun Marah Rusli, keduanya memang, memelintir istilah Bhabha, “not white, but quite”. (*)

*Direktur RK Press, tinggal di Rumah Kertas