Satpol PP Usir PKL di Kebon Pelok Demi Tanaman Hayati

myg--penertiban-PKL-kewbon-peloq-(2)Petugas Satpol PP membongkar lapak PKL di area yang akan dipakai untuk Taman Hayati.FOTO:NOVRILA MAYANG PANGESTI/RADAR CIREBON

CIREBON-Perlu dua bulan bagi Ujang, dan Sarkamto untuk menertibkan pedagang kaki lima di area Kebon Pelok. Selama itu pula Ujang yang menjabat ketua LPM Kelurahan Kalijaga melakukan upaya persuasif. Namun tidak pernah digubris.

Sementara Sarkamto yang menjabat Lurah Kalijaga juga menerima surat dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Isinya, meminta dilakukan penetiban PKL. Musababnya, mereka menduduki lahan yang akan dipakai untuk Taman Keanekaragaman Hayati (Hayati). “Begitu ada surat dari DLH, kita pendekatan dengan pedagang. Ditegur juga sudah. Ya sampai akhirnya dibongkar,” ujar Sarkamto kepada Radar Cirebon.

PKL sebetulnya sudah diberi kesempatan untuk membongkar lapaknya masing-masing. Ada sekitar 20 pedagang di kawasan itu. Baik menggunakan gerobak maupun mendirikan bangunan semi permanen. Sayangnya, hingga batas waktu yang ditetapkan ada pedagang tak ikut membongkar. Sehingga ditertibkan paksa Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).

Ujang menambahkan, para PKL tersebut bukan warga setempat. Mereka pendatang dari berbagai daerah seperti, Kabupaten Cirebon, Kuningan bahkan sampai Ciamis. Saat upaya persuasif, para PKL  sempat meminta solusi. Namun, LPM bukan dalam kapasitas memberikan jawaban terkait hal ini. Dan tidak ada program penataan oleh pemerintah di kawasan itu. “Mereka juga dari awal tidak pernah ada izin dengan kami di sini,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH)  Drs H RM Abdullah Syukur MSi mengatakan, selepas penertiban, akan ada sekitar 450 pepohonan khas Cirebon yang akan ditanam di lokasi. Di Lahan selulas 4,7 hektare tersebut akan dipakai untuk Taman Hayati.

Sebelumnya pemerintah kota juga sudah menanam pepohonan seperti randu dan jati. Penambahan 450 pohon ini mencakup jenis kecapi, jamblang dan gayam. “Penanaman ini kita mulai dari bersih-bersih areanya dulu. Taman ini untuk melestarikan lingkungan, juga pohon-pohon lokal,” tuturnya.

Selepasnya penertiban, kawasan Taman Hayati akan dipagar bambu. Selain menjaga keamanan tanaman, juga agar tidak kembali ditempati PKL. Syukur mengakui, saat ini vegetasinya memang belum sempurna. Namun dengan pemeliharaan rutin diharapkan bisa semakin baik. “Ini aset daerah, mari kita jaga sama-sama,” pungkasnya. (myg)