Sebab Banyak Motor Mogok, Warga Ramai-ramai Ontrog SPBU Burujul Wetan

SPBU-DIGERUDUKONTROG SPBU: Sejumlah warga di Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka mendatangi SPBU Desa Burujul Wetan, Senin (15/10). Diduga, SPBU mengoplos pertalite dengan solar. FOTO: ONO CAHYONO/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Sejumlah warga di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, ramai-ramai mendatangi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Desa Burujul Wetan, Senin (15/10) sekitar pukul 08.30 WIB.

Kedatangan mereka sebagai bentuk protes lantaran banyaknya kendaraan masyarakat mogok yang diduga akibat adanya campuran (oplosan) BBM. Sepeda motor mereka diduga rusak setelah mengisi bahan bakar di SPBU tersebut.

Salah seorang warga, Suhadi mengaku tidak hanya dirinya melainkan puluhan warga di wilayahnya mengeluh motornya tiba-tiba mati usai membeli Pertalite di SPBU tersebut. Setelah dicek di bengkel terdekat ternyata bahan bakar yang diisikan bukan Pertalite melainkan sudah tercampur solar.

“Sehingga warga pun mendatangi pom tersebut dengan membawa jeriken untuk meminta ganti rugi. Bahkan tidak sedikit warga membawa kendaraannya dan membuang Pertalite dengan menggunakan selang untuk diganti bahan bakarnya,” ujarnya.

Suhadi menceritakan, peristiwa itu bermula saat warga mengisi BBM dari SPBU tersebut tiba-tiba terlihat kepulan asap dari kendaraannya. Kondisi mesinnya mengalami macet sebelum tiba di rumah sehingga terpaksa dibawa ke bengkel terdekat, yang pada akhirnya warga pun meminta pihak SPBU untuk mengganti rugi.

“Kedatangan warga juga sekaligus memprotes kinerja karyawan yang diduga telah teledor dalam menjalankan pekerjaannya,” ujarnya.

Kapolsek Jatiwangi Kompol Asep S Fiqih didampingi Kanit Reskrim Ipda Iwan Sutari dan Kanit Lantas Ipda Dalyanto menyebutkan, kronologi itu bermula pada Jumat (12/10) sekira pukul 09.00 WIB. Pengelola SPBU melakukan pengisian BBM jenis Pertalite 24 ton dan solar 24 ton yang diisikan ke bak penampungan.

Pada hari Sabtu (13/10)  sekitar 10.00 WIB ada dua orang Warga Desa Andir melapor guna mengadukan pengelola SPBU bahwa setelah melakukan pengisian Pertalite, motor miliknya terjadi kerusakan. Setelah itu kendaraan dibawa ke bengkel untuk diservis.

”Hasil dari bengkel setelah dibersihkan karburator mesin motor tersebut bisa hidup kembali sehingga pihak bengkel memberikan keterangan bahwa Pertalite yang ada di dalam karburator bercampur dengan solar, sehingga menyebabkan mesin kendaraan mogok,” paparnya.

Kemudian, pada Sabtu (13/10) datang warga Desa Cicadas sekitar 15 orang melaporkan atau mengadukan keluhan yang sama. Namun, pada hari itu SPBU tersebut tidak operasional karena banyaknya keluhan dari warga sekitar. Sekira pukul 16.00 WIB dilakukan pengisian kembali 24 ton Pertalite ke bak penampungan dan SPBU akhirnya operasional kembali.

“Sekira pukul 21.30 WIB, lagi-lagi ada warga melaporkan kembali keluhan yang sama dan disarankan oleh pihak SPBU agar datang ke SPBU pada hari Senin (15/10). Penjualan BBM jenis Pertalite dari hari Jumat (12/10) sampai Minggu (14/10) kurang lebih sekitar 4 ribu liter,” jelas Kompol Asep.

Menurutnya, dari hasil analisis di lapangan, kerusakan kendaraan yang terjadi akibat pertalite tercampur dengan solar. Sehingga mengakibatkan mesin kendaraan tidak bisa jalan dan ditemukan adanya kelalaian dari seorang karyawan SPBU.

Karyawan itu bernama Suhara selaku petugas pengisian dari mobil tangki ke bak penampungan. Dia memasukkan selang solar ke lubang bak penampungan pertalite sekitar 4 ribu liter.

“Guna pengamanan wilayah hukum agar Kamtibmas tetap terjaga dan kondusif kami mencoba memediasi kedua belah pihak. Dan hasil mediasi antara pihak manajemen SPBU Cicadas dengan warga, pihak SPBU akan mengganti kerugian warga yang jadi korban pembelian pertalite dengan menyiapkan bengkel untuk memperbaiki setiap kendaraan yang mengalami kerusakan,” ujarnya.

Menurut Asep, pihak SPBU juga akan mengganti pengisian kembali pertalite yang telah dibeli warga dengan BBM jenis pertamax. Pengisiannya disesuaikan dengan harga pembelian dari jenis pertalite ke jenis pertamax.

Sementara itu, koordinator SPBU Wemfi Tubagus mengakui bahwa hal tersebut akibat adanya keteledoran atau kelalaian. Dia juga mengaku tidak memiliki niat atau dengan sengaja mengoplos atau mencampuradukkan dari satu produk ke produk lainnya.

“Kronologi itu bermula saat kejadian masuk pengiriman bahan bakar 48 ton terbagi masing-masing pertalite 24 ton dan bio solar 24 ton. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba ini tercampur. Satu pengisian ada 4 ribu liter. Berdasarkan analisis salah memasukkan produk. Kita akan bertanggung jawab atas kejadian ini,” tandasnya. (ono)