Selter Makin Sepi, PKL di Bima Tak Terkendali, 39 Lapak Ditinggal

Kota Cirebon
awr-PKL-Bima-(7)Deretan kios kosong di Selter Stadion Bima. FOTO:KHOIRIL ANWARUDIN/RADAR CIREBON

CIREBON-Keberadaan pedagang kaki lima (PKL) di Stadion Bima, kian tak terkendali. Upaya penataan yang dilakukan Pemerintah Kota Cirebon, tak bisa dibilang berhasil. Selter yang disediakan untuk 72 pedagang, pelan-pelan ditinggal.

Dari pantauan Radar Cirebon, di luar selter sedikitnya terdapat 51 PKL. Satu lapak rata-rata diisi 5-10 meja. Tak terkendalinya PKL non selter, membuat pedagang yang sudah ikut penataan memilih pindah ke lahan lama. Ada 39 lapak di selter yang dibiarkan kosong.

Dari penuturan sejumlah pedagang, omzet mereka jualan di selter maksimal Rp300 ribu. Dalam kondisi sepi anjlok sampai Rp50 ribu. Berbanding dengan mereka yang jualan di lapak-lapak lesehan. Yang bisa dua kali lipatnya.

Salah seorang pedagang, Mami (57) mengaku harus putar otak untuk bisa bertahan. Dia tetap menempati selter. Tetapi buka ”cabang” lapak lesehatan. Tujuannya supaya tak mati angin. Tetap dapat pembeli. “Daripada bengong nonton mereka yang lesehan ramai. Ya kita juga mau dagangannya ramai,” ucap dia.

Dari pendataan yang dilakukan Dinas Perdagangan Koperasi Usaha Kecil Menengah (Disdagkop-UKM), memang tercatat penambahan pedagang secara signifikan. Survei yang dilakukan sebelum penertiban untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX tahun 2016 itu, mencatat hanya ada 72 pedagang. Pedagang yang terdata ini kemudian ditempatkan ke dalam selter setahun berselang.

Disdagkop-UKM dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) sepertinya belum punya solusi untuk masalah ini. Kepala Bidang UMKM Disdagkop-UKM, Saefudin Jufri mengatakan, keberadaan selter ini akan dirundingkan kembali. Sesuai dengan pertemuan yang dihadiri oleh perwakilan Korem 063 Sunan Gunung Jati (SGJ). “Nanti semua pihak yang berkepentingan ini akan diundang lagi. Kita cari solusinya,” ujar Jufri.

Masalah PKL Bima ini memang pelik. Bukan hanya keberadaan PKL lesehan dan selter. Tapi juga ada PKL pasar dadakan yang buka tiap akhir pekan. Yang kondisinya kian semerawut dan mulai mendapatkan komplain dari warga setempat.

Menurutnya, ini merupakan imbas dari pengelolaan kawasan Stadion Bima yang tak kunjung ada kejelasan. Makanya, dalam rapat itu diusulkan pula bahwa pengelolaan kawasan ini diubah menjadi satu pintu. Sehingga tidak terjadi permasalahan terkait peruntukan kegiatan, penempatan PKL, pungutan dan lainnya. “Mudah-mudahan ini nanti jadi solusi untuk semuanya. Bukan cuma masalah PKL di selter saja,” katnaya. (myg)