Sempat Ditangkap Terkait Bom Panci, Warga Indramayu Dilepas Densus

TERORISME-PIXABAYIlustrasi. Foto Pixabay.com

INDRAMAYU- Salah satu terduga teroris yang ditangkap polisi beberapa waktu lalu di Indramayu, Munawar (39), dibebaskan. Munawar diantarkan pulang oleh Densus 88 dengan didampingi petugas Polres Indramayu dan Polsek Kandanghaur, Rabu (8/8).

Kepulangan ayah dua orang anak di rumahnya di Blok Desa RT 04 RW 01, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kandanghaur, disambut keluarga dan kerabat serta tetangganya. Kristin Maharani (35) istri Munawar  mengaku kaget bercampur bahagia saat mendapatkan kabar suaminya dibebaskan.

Polisi yang datang ke rumahnya mengabarkan berita itu dan meminta Kristin untuk datang menjemput Munawar di Mapolsek Kandanghaur. “Saya disuruh datang ke Polsek Kandanghaur, karena suami saya ada di sana. Polisi yang mengantarkan pulang tidak langsung membawa suami saya ke rumah, tapi mampir dulu ke polsek. Sekitar jam 11.00  siang suami saya baru dibawa pulang ke rumah,” tuturnya.

Kristin mengaku senang suaminya bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Menurutnya setelah ditinggal pergi suami yang dibawa Densus 88, anak pertamanya kerap menanyakan sang ayah. Kristin mengaku kaget saat rumahnya didatangi polisi dan membawa Munawar pada waktu itu.

“Kalau yang bungsu kadang-kadang saja menanyakan bapaknya. Tapi kami bilang lagi jalan-jalan. Kami sekeluarga bersyukur suami saya bisa pulang,” kata Kristin.

Munawar ditangkap Densus 88 Pada Sabtu (14/7) lalu bersama tiga terduga teroris lainnya. Yakni Ahmad Syafii dan anaknya berinisial AZ, warga Desa/Kecamatan Anjatan.

Esok harinya polisi mengamankan pasutri Galuh Rasita dan Nurhasanah. Pasutri itu yang diduga membawa bom panci ke Mapolres Indramayu pada Minggu dini hari (15/7) sekitar pukul 02.00 WIB.

Dua pekan kemudian Densus 88 mengamankan satu terduga teroris lainnya, Ahmad Sutomo. Ahmad diketahui satu desa dengan Munawar. Munawar sendiri ditangkap karena diduga ikut jaringan Ali Hamka, warga Haurgeulis yang merupakan Jaringan Ansharut Daulah (JAD).

Ditemui di rumahnya, Munawar menuturkan, dirinya kaget saat didatangi polisi lalu membawanya ke tempat yang ia tidak ketahui. Menurutnya, saat dibawa polisi matanya ditutup. Sampai di tempat tersebut dirinya kemudian diinterogasi seputar keterlibatannya ikut jaringan teroris.

“Di tempat yang saya sendiri tidak tahu itu, juga ketemu dengan lainnya yang ditangkap. Tapi yang IZ itu kemudian dipindahkan ke tempat lain. Saya kenal mereka karena pernah bertemu saat di rumah Pak Fauzan, Haurgeulis,” ujarnya.

Munawar menceritakan, awal mengenal mereka saat dirinya diajak temannya bertandang ke rumah Fauzan di Haurgeulis pada tahun 2014. Di rumah Fauzan itu bertemu dengan mereka. Dirinya kemudian ditawari untuk membeli buku Khilafah sekaligus dibaiat. Namun, karena tidak punya uang Munawar tidak membeli buku tersebut.

“Saya juga tidak tahu maksud dari baiat tersebut. Saya pun kemudian pulang. Selanjutnya saya diajak kembali ke rumahnya dan diberikan ceramah tentang keimanan. Adapun ada pertemuan lagi, ketika di antara mereka ada yang menggelar hajatan. Tapi untuk masalah lain saya tidak ikutan. Saya bilang ke mereka, kalau saya lebih sibuk jualan asongan,” tuturnya. (kom)