Sengonku Malang Sengonku Tersayang

Pohon Sengon (Twitter)

LEMBAGA Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan pohon Sengon bisa bertumbuh hingga 30 sampai 45 meter. Pohon Sengon disebut menjadi penyebab utama pemadaman listrik di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Tengah.

Sebelumnya, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menjelaskan penyebab utama pemadaman listrik di DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah.

Dedi mengatakan sejumlah pohon di sekitar PT PLN UPT Ungaran diduga menjadi penyebabnya. Ketinggian pohon di sana melebihi 8,5 meter. Hal itu berdasarkan penelusuran Polda Jawa Tengah, dan telah mewawancarai empat petugas UPT.

Namun, di sisi lain, tanaman sengon terbukti memiliki banyak keunggulan. Pucuk daunnya bisa digunakan untuk makanan ternak. Batangnya bisa dijadikan bahan bangunan atau bahan pembuat kertas. Bahkan akarnya bisa menyuburkan tanah sehingga berguna bagi lahan hutan yang terdegradasi. Tetapi tanaman asli Indonesia itu bisa jauh lebih bernilai jika diolah dengan rekayasa genetik.

Bahkan, fasilitas Uji Terbatas Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah menghasilkan tanaman sengon (Albazia Falcataria) transgenik pertama di dunia.

Adalah Enny Sudarmonowati, peneliti LIPI dan penyandang gelar profesor lulusan University of Bath, Inggris, yang membuktikannya. Ini bermula ketika Enny mulai menekuni dunia genetika molekuler pada 1991. Kini kerja keras Enny berbuah manis. Sengon transgenik xyloglucanasehasil karyanya telah dipublikasikan dan mendapat pengakuan dari para pakar genetika sejagat. “Ini yang pertama kali di dunia,” ujar Enny bangga.

Menurutnya, insersi gen xyloglucanase telah berhasil dilakukan ke dalam tanaman sengon. Tanaman sengon transgenik yang mengandung gen xyloglucanase terbukti tumbuh lebih cepat dan mengandung selulosa lebih tinggi daripada tanaman kontrol di Fasilitas Uji Terbatas (FUT) sehingga berpotensi tumbuh lebih cepat saat dipindah dari FUT ke lapangan, ujarnya.

Kayu sengon bernilai ekonomis yang digunakan untuk tiang bangunan rumah, papan peti kemas, perabotan rumah tangga, pagar, hingga pulp dan kertas.

Di sisi lain juga memiliki keunggulan akar tunggangnya yang kuat sehingga baik ditanam di tepi kawasan yang mudah terkena erosi dan menjadi salah satu kebijakan pemerintah (Sengonisasi) di sekitar daerah aliran sungai (DAS).

Dengan insersi gen tersebut tanaman sengon ini juga lebih mudah dihidrolisis dan menghasilkan ethanol lebih tinggi, ujarnya.

“Gen yang telah dikloning dari sengon yaitu sucrose synthase dan gen penyandi lignin 4-CL akan ditransformasikan lebih lanjut, ” katanya.

Tanaman keras lain yang juga telah diujicobakan secara transgenik di dalam negeri adalah acasia mangium yang mengandung gen selulose dan dapat menghasilkan gula lebih banyak serta jati (Tectona grandis) yang disisipi gen LEAFY yang ditujukan untuk pembesaran batang.

Indonesia, ujarnya, sangat ketinggalan dalam penelitian transgenik di sektor kehutanan, bahkan sampai sekarang belum ada yang diujikan ke lapangan terbatas, dari tahap sebelumnya diuji di laboratorium dan diuji di FUT.

Ia juga memaparkan, hasil penelitian rekayasa genetika tanaman kini semakin banyak dimanfaatkan, dimana pada 2009 jumlah negara yang sudah menanam tanaman transgenik secara komersial ada 25 negara dengan luas 800 juta hektare.

“Untuk saat ini masih didominasi tanaman pertanian seperti jagung, kedelai dan kapas, dengan gen pembawa sifat ketahanan terhadap serangga dan herbisida, dengan negara yang paling banyak mengembangkan transgenik adalah Amerika Serikat, ” katanya.(*)

Berita Terkait