oleh

Sepak Terjang ‘Pasukan Kancil Merah’ Abdoel Kadir di Cirebon

PASUKAN Kancil Merah adalah nama samaran Pasukan Siliwangi yang berkedudukan di wilayah Cirebon dengan komandannya yang bernama Letnan Abdoel Kadir.

Pasukan Kancil Merah, merupakan salah satu pasukan gerilya yang memiliki persenjataan yang lengkap dengan jumlah personil yang cukup banyak serta dikenal dengan kedisiplinan dan keberaniannya.

Pasukan Kancil Merah mengalami beberapa kali kontak senjata dengan Belanda serta melakukan tindakan sabotese untuk memperlambat gerak pasukan Belanda. Arti nama Pasukan Kancil Merah sendiri dari binatang kancil merupakan binatang yang cerdik begitu pula dengan Pasukan Siliwangi yang Cerdik, sedangkan Merah berartikan berani dalam artian berani melawan Belanda.

Sekitar bulan Maret 1948 setelah Abdoel Kadir kembali dari Yogyakarta beliau mengadakan pertemuan dengan teman-teman pejuangnya yang masih berada disekitar pinggiran Kota untuk berkumpul di Sunyaragi di antaranya terdiri dari kawan-kawan pejuang antara lain : Eddy Hamzah, Eddy Yusuf, M.S. Djanaka, Abdoellah Marsoedi, Soeta, Misnen, Tadi, Ahmad Koelidi, Kemis, Kaim, dan Rais.  Mereka merumuskan untuk mengorganisir kembali kegiatan Gerilya di pinggiran kota dengan nama Pasukan Kancil Merah, salah satu pasukan gerilya yang memiliki persenjataan yang lengkap dengan jumlah personil yang cukup banyak sekitar 43 orang serta dikenal dengan kedisiplinan dan keberaniannya.

Sebagaimana dikutip dari Panitia Penelitian Monumen Perjuangan Kotamadya Cirebon,“ Sekelumit Kisah Perjuangan Masyarakat Kotamadya Cirebon”, (Cirebon: Panitia Penelitian Monumen Perjuangan Kotamadya Cirebon, 1976) pada 4 Mei 1949, Mahmoed Pasha memimpin Pasukan S. E. Oesman, Pasukan Boedhi Hardjo, Pasukan Boenawi, Pasukan Kancil Merah, dan beberapa Pasukan lain. Pukul 09.00 malam, serentak seluruh pasukan menyerang Kota Cirebon dari segala arah. Pasukan dari arah barat, yaitu dari arah Cideng menuju Prujakan dipimpin oleh Abdoel Kadir, sedangkan pasukan dari arah selatan, yaitu dari arah Sunyaragi dengan melewati Kesambi dipimpin oleh Serma.A. Soebari. Pasukan dari arah timur, yaitu Pegambiran melewati Jagasatru dipimpin oleh Sersan Rasman. Pasukan ini termasuk seksi S.E.Oesman. Markas komando dipimpin langsung oleh Mahmoed Pasha di Persil. Regu mortal ditempatkan di daerah Cideng dengan sasaran tembak tengsi militer Kesambi dan tengsi artileri Belanda.

Pada waktu serangan para gerilyawan dimulai, tentara Belanda mulai panik. Mereka menuju kearah pelabuhan untuk membentuk pertahanan. Ketika para gerilyawan memasuki kota Cirebon, ternyata kota dalam keadaan sepi, hanya tinggal polisi dan pasukan Po An Toei (Polisi Belanda keturunan Tionghoa) di tengsi Pamitran dan terjadilah tembak-menembak yang tidak begitu lama, kurang lebih sekitar sepuluh menitan.

Kemudian Polisi dan Po an Toei tersebut melarikan diri meninggalkan pos mereka. Dari pos tengsi polisi tersebut, pasukan Kancil Merah dan para Gerilyawan mendapatkan enam pucuk senjata berikut pelurunya dan pembekalan lainya. Setelah menduduki kota selama dua jam, gerilyawan dan Pasukan Kancil Merah mengundurkan diri ke induk Pasukan di Persil, dan selanjutnya beristirahat di kampung Banjaran, Desa Sampiran.

Pada 20 Mei 1949, pukul 05.30 pagi, Pasukan Kancil Merah yang sedang beristirahat di kampung Banjaran diserang oleh pasukan Belanda dan terjadilah pertempuran sengit disekitar Balai Desa Sampiran yang mengakibatkan korban dari kedua belah pihak, dari pihak Belanda ada empat orang dan mayatnya di angkat oleh rakyat menuju tengah jalan raya, sedangkan dari pihak Pasukan Kancil Merah tidak ada korban jiwa melainkan adanya korban jiwa dari penduduk desa sekitar yang tewas bernama Bisoe dan Bella Soeprijadi anggota Polisi Militer ditawan pasukan Belanda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed