Serba Serbi Segitiga Emas, Kawasan Pecinan Cirebon Sejak Abad 15

Warga Tionghoa di Kota Cirebon sangat berharap Pemkot Cirebon bisa mewujudkan penataan kawasan pecinan. Karena selain menjadi wisata sejarah, juga untuk bisa meningkatkan perekonomian.

Salah seorang warga Tionghoa Kota Cirebon, Sandi Yudha mengatakan, dirinya mempunyai harapan agar penataan kawasan pecinan bisa segera terwujud di bawah pemerintahan yang baru. “Pecinan itu kan mempunyai nilai histori bagi kami warga Tionghoa di Kota Cirebon,” ujarnya kepada Radar Cirebon. 

Baca: Optimis Penataan Kawasan Pecinan Cirebon Bisa Terwujud

Sedari dulu, kawasan pecinan Cirebon memang penuh hiruk-pikuk aktivitas ekonomi. Sejarahnya tak bisa lepas dari orang-orang Tionghoa yang kerap dicap spesialis dunia perdagangan. Banyak orang Tionghoa berdatangan pada masa awal Batavia dibangun oleh kongsi dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).

Sebagaimana dicatat dalam “Hikayat Jakarta” (1998) karya Willard Hanna dalam Tionghoa dalam Pusaran Politik (2008) oleh Benny Setiono, Gubernur Jenderal VOC yang berkuasa hingga 1929, Jan Pieterszoon Coen, percaya bahwa orang-orang Tionghoa adalah “… bangsa yang ulet, rajin dan suka bekerja… Tak ada tenaga yang lebih cocok untuk tujuan kita atau yang dapat dikerahkan dengan sama mudahnya selain orang Tionghoa.” Maka, tak heran banyak komunitas orang Tionghoa kemudian tinggal di sekitar benteng Belanda.

Baca: Mencari Benteng De Beschermingh Cirebon

Kawasan Pecinan awal terdapat di sepanjang Jl. Pecinan Cirebon (sekarang) yang berdekatan dengan Keraton Keprabonan dan Kanoman. Tahun 1970an di sepanjang Jl. Pecinan masih terdapat rumah-rumah khas etnis Tionghoa dengan ciri relief dua ekor naga yang bertolakbelakang pada bagian atap luar.

Sejak jalan itu diperlebar awal tahun 1980an ciri khas dua ekor naga tersebut dihilangkan. Apalagi dengan adanya peraturan yang rasis dari Pemerintah Orde Baru yang melarang memajang dan menggelar karya seni dari mancanegara, termasuk China.

Pasuketan – Pekiringan – Pekalipan merupakan segitigas emas untuk bisnis kalangan etnis Tionghoa. Di sekitar daerah itu terdapat rumah ibadah mereka, berupa kelenteng maupun vihara. Sebut saja Kelenteng (Lithang) Talang (berbelahan dengan PT.BAT) dan Vihara Welas Asih yang berhadapan dengan PT BAT.

Di bagian barat Pasar Kanoman terdapat vihara Balai Keselamatan. Di bagian timur terdapat Pasar Talang, yakni “pasar dedean” yang menjajakan barang bekas. Istilah “talang” sendiri diartikan sebagai “talangan” atau pengganti sementara untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Sedangkan nama “Pasuketan” diduga berasal dari kata “suket” yang berarti rumput. Pada masa kejayaan Kesultanan Cirebon, daerah tersebut dijadikan tempat atau gudang rumput (bahasa Cirebon = suket) hewan-hewan peliharaan kesultanan. Di sekitar itu terdapat pula masjid Jagabayan yang menurut pewarisnya (alm. KH. Abdul Qodir Wahab – saat masih hidup) merupakan pos penjagaan untuk kesultanan. Namanya juga “Jagabayan” yang berarti menjaga bahaya atau serangan dari luar.

Bangunan-bangunan pertokoan di sepanjang Jl. Pasuketan sekira tahun 1920an sudah mencerminkan adanya pengaruh art deco dari China. Lihat saja tiang-tiang besar penyangga bangunan sangat berbeda dengan tiang penyangga masa klasik kesultanan. Pengaruh China bisa dilihat dari tiang berbentuk persegi panjang, sedangkan pada masa klasik kesultanan Islam (baca Cirebon) berbentuk bulat panjang. Para rumah bangsawan keraton Cirebon saat ini masih tersisa di sekitar daerah tersebut.

Kini wajah modern kompleks Pasuketan tidak lagi menampakkan sisa arsitektur art deco China yang indah. Setelah sepanjang jalan itu diperlebar pada awal masa orde baru, yakni pada masa Walikota Tatang Suwardi. Dampak dari pelebaran jalan tersebut juga menghancurkan bangunan lama digantikan dengan bangunan modern. Kota Cirebon sejak itu berubah wajah secara total.

Bersebelahan dengan Jl. Pasuketan, terdapat jalan raya yang kini dikenal sebagai Jl. Pecinan. Jalan ini merupakan arah strategis menuju Keraton Kanoman, Kasepuhan dan Pengguron Kacirebonan. Pada masa lalu kompleks Pecinan memberikan warna yang khas bagi pertumbuhan kota itu sendiri.

Sebagai bangsa perantau yang datang bersamaan dengan datangnya kaum Tionghoa ke Cirebon sekira abad ke-15, para perantau China itu memilih tempat strategis, yakni berdekatan dengan pusat pemerintahan. Pada sekira tahun 1960an, rumah-rumah berkepala naga masih nampak menghiasi bangunan sekitar itu. Namun sejak memasuki tahun 1970an seiring dengan modernisasi kota, kompleks Pecinan mulai kehilangan daya tariknya. Tak ada lagi kepala naga. Justru yang ada hanyalah bangunan-bangunan megah bertingkat.

Kini para perantau bermata sipit dan dikenal sebagai Tionghoa itu telah menyatu dengan masyarakat setempat. Sisa-sisa kejayaannya masih bias dilihat saat perayaan imlek. Puluhan atraksi khas mereka, seperti barongsai, tari naga (liong), toapekong dan bag-bagi dodol China. Tata ruang kota sebenarnya sudah mulai tertata apik sejak dulu. (*)