Skutik; Bagi yang Tak Bisa Tawaf-Sai secara Mandiri

Jamaah Cirebon pun Terbantu

Catatan Perjalanan Haji
YANTO-S-UTOMO

SIANG itu, usai salat Duhur saya dikunjungi Ketua Harian Masjid At Taqwa Kota Cirebon Ustad Ahmad Yani. Kami makan siang di lantai P3 Mal Zam-Zam Tower. Menunya juga spesial. Nasi briyani. Seporsi lagi nasi ikan salmon.

Tempat itu memang langganan bagi jamaah yang tinggal di hotel-hotel di tower tersebut.

Juga meeting point bagi jamaah yang tidak tinggal di tempat itu. Lantai dasar, P1 dan P2 adalah tempat jamaah berbelanja ria. Apa saja ada di tempat itu. Sementara P3 dan P4 adalah food court. Hampir semua makanan apa saja juga ada. Paling banyak makanan ala Timur Tengah.

Dari habis duhur hingga menjelang asar, saya, Ustad Yani dan istri saya ngobrol. Macam-macam yang dibicarakan. Tapi yang menarik tentang banyaknya jamaah lanjut usia Kabupaten Cirebon yang serombongan denganya. Kebetulan Kang Yani, begitu biasa disapa, menjadi petugas haji rombongan tersebut.

Tentu bersama jamaah lain Kabupaten Cirebon berjuang ekstra untuk kesempurnaan ibadah haji para lansia. Juga yang membutuhkan pertolongan dan yang tidak bisa mandiri. Bagaimana tawaf dan sai para lansia tersebut? Menurut dosen IAIN Syekh Nurjati ini, tawaf dan sai tidak begitu masalah.

Banyak fasilitas yang bisa digunakan. Tapi yang masalah membawa jamaah berkebutuhan khusus dan lansia tersebut dari kendaraan terakhir menunju ke lokasi tawaf. Itu yang harus membutuhkan ekstra bantuan jamaah. Jalan terakhir jika tidak mampu harus minta bantuan orang setempat yang badannya lebih besar besar.

Untuk menggendong. Tentu tidak gratis. “Kalau tawaf dan sai bisa sewa kursi roda dan motor skutik,” ungkap pria asal Majalengka ini. Karena menjelang asar, obrolan berakhir. Kami pun terpisah di tempat wudu. Sempat Ustad Yani menelepon, tapi tak terangkat.

Kemudian dia pun mengirim foto makan bareng dan foto yang lain. Yang menarik foto Ustad Yani yang sedang naik skutik bareng jamaah berkebutuhan khusus tersebut.  Saya pun tertarik untuk menelusurinya. Saya ingin segera tahu lokasi tempat skutik itu.

SKUTIK-TAWAF-SAI
Ustad Ahmad Yani, petugas rombongan haji asal Kabupaten Cirebon, membawa jamaah lanjut usia dengan skutik untuk tawaf dan sai. Foto: Istimewa

Saya menuju ke sana. Lokasinya di lantai 3. Masuk dari tangga panjang dekat pintu King Abdul Azis. Kemudian belok ke kanan. Di dinding ada gambar skutik. Terus naik. Itu jalur khusus kursi roda. Kemudian sampai di lintasan tawaf. Tampak ratusan sekutik berjajar parkir. Di lintasan lantai 3 itu terlihat konvoi para pengguna skutik sedang tawaf.

Saya langsung menuju tempat loket penyewaan skutik. Ada dua ruangan. Satu ruangan untuk jamaah pria untuk beli tiket. Satu ruangan lagi untuk perempuan. Loket pembelian tiket itu lokasinya sebelum lampu hijau, start tawaf.

Setelah mendapat karcis terus menuju ke barisan skutik. Letaknya persis dekat start tawaf. Diberi petunjuk sebentar, langsung Bismillahi Allahuakbar! Jalan! Tawaf pun dimulai.

Inilah teknologi yang sangat membantu bagi jamaah yang tidak bisa menjalani tawaf dan sai secara mandiri. Namanya motor Skuter Matik (Skutik). Kendaraan itu memang memudahkan jamaah melaksanakan dua ibadah tersebut.

Skutik ini semula ditujukan bagi jamaah yang sudah lanjut usia, keterbatasan fisik, atau sakit. Namun, saat ini skutik di Masjidilharam dapat digunakan oleh siapa saja. Tujuannya bagi mereka yang ingin lebih cepat melakukan prosesi tawaf dan sai.

Motor skutik ini memang terobosan baru. Sudah setahun ini diberlakukan. “Ini tahun kedua. Alhamdulillah bisa membantu jamaah,” kata petugas yang sedikit-dikit bisa berbahasa Indonesia.

Berapa sewanya? Bervariasi. Untuk tawaf saja, untuk yang satu seat 50 riyal. Jika dua orang, dua seat, 100 riyal. Tapi jika untuk tawaf dan sai kapasitas 1 seat harga 100 riyal. Jika untuk 2 seat bersebelahan, harga sewa 200 riyal.

Areal jalur motor skutik berwana hijau ini memiliki tempat khusus. Jadi, tidak akan ada lalu lalang bersamaan dengan jamaah yang sedang melakukan tawaf dan sai. Hanya ada sesekali orang yang menyeberang jalur.

Pengoperasian motor dengan empat roda kecil ini juga cukup mudah. Kecepatan maksimal 20 km per jam. Pada stir, ada bagian seperti rem sepeda motor. Bila tuas sebelah kanan dimajukan maka motor akan jalan. Bila ditekan akan mengerem.

Sementara bagian tuas kiri berfungsi untuk memundurkan motor. Bila dimajukan akan mundur dan bila ditekan akan mengerem atau untuk menghentikan laju motor. Mudah sekali mengoperasikannya.

Di spedo meter tertera beberapa fitur. Yang paling saya hafal adalah kecepatan dan jumlah lintasan yang saya lalui. Hanya dua fitur itu kelihatannya error. Jika menaiki skutik dari motor listrik itu harus tetap harus hati-hati. Karena sering kali tabrakan kecil terjadi.

Tidak boleh terlalu cepat. Juga jangan terlalu lambat. Bisa ditabrak dari belakang. Walaupun sudah hati-hati tetap saja ada yang sering nyelonong. Terutama anak-anak muda.

Bagaimana kalau rusak di tengah jalan? Ada satu petugas yang “berpatroli”. Mengganti yang rusak dengan yang lain. Bahkan ada satu petugas yang mengingatkan kalau akinya hampir habis. Petugas menyetop untuk ganti sekutik.

Ketika sampai finis pun sudah ada yang menyambut. Sambil suruh terus jalan kaki. Petugas pun mengarahkan ke lokasi salat sunah dua rakaat setelah tawaf.

Bagi yang ingin melanjutkan sai, cukup memarkirkan skutik di tempat salat sunah tawaf. Si penumpang salat. Sehabis itu tinggal menyeberang tidak terlalu jauh sudah ada jalur sai. Jalannya enak. Petunjuknya sangat jelas. Tinggal melanjutkan sai sampai selesai.

Inilah pengalaman mencoba skutik di lintasan tawaf. Sungguh terkesan. Selain nyaman, tidak berdesak-desakan dan lumayan dingin. Karena pendingin ruangan hampir ada di mana-mana. Sepanjang jalur tawaf.

Teknologi motor listrik ini sungguh sangat membantu jamaah, terutama yang lanjut usia dan yang berkebutuhan khusus. Walaupun harus membayar sewa. Tapi bagaimana bila orang sehat menggunakan sarana tersebut? Apakah tawaf dan sainya sah? Ini yang harus ditanyakan kepada yang lebih tahu hukum.  (*)