Suku Tionghoa Cirebon Junjung Kebersamaan Antarwarga

cengbengWarga Tionghoa merayakan tradisi ceng beng di kawasan Ku Tiong Penggung, Kota Cirebon. FOTO:JAMAL SUTEJA/RADAR CIREBON

CIREBON-Warga suku Tionghoa sangat nyaman berdomisili di Kota Cirebon. Cirebon merupakan kawasan yang sangat majemuk dan memiliki tenggang rasa yang besar sehingga bisa hidup berdampingan.

Hal itu dikatakan salah satu warga Tionghoa Kota Cirebon, Yan Siskarteja kepada Radar Cirebon. Dikatakan Yan, warga Tionghoa bersyukur bisa hidup berdampingan dengan warga Kota Cirebon lainnya. “Kota Cirebon ini adalah kota yang benar-benar menjunjung tinggi kebersamaan antar warganya, tidak membeda-bedakan suku dan agama, semuanya hidup berdampingan,” ujarnya.

Yan mengatakan, suku Tionghoa berada di Cirebon sudah sangat lama bahkan sudah ratusan tahun. “Seperti kita ketahui, salah satu istri Sunan Gunungjati adalah Putri Ong Tien berasal dari Tionghoa, sehingga sudah sejak zaman itu juga kami warga Tionghoa sudah berdomisili di Cirebon. Bahkan banyak juga warga Tionghoa seperti kami ini sudah sangat pintar berbahasa Cirebon, dengan logat Cirebonnya juga,” tuturnya.

Sehingga, meskipun dari suku Tionghoa, Yan sudah menganggap Cirebon adalah tanah kelahiran. “Walaupun kami etnis Tionghoa, namun karena kami memang lahir dan besarkan di Kota Cirebon yang kami cintai ini, maka saya sudah tidak lagi membeda-bedakan, warga Kota Cirebon ya sama-sama saudara kami, dan Kota Cirebon adalah kota kelahiran kami,” ujarnya.

Senada dengan Yan, warga Tionghoa lainnya, Sandi Yhuda menyatakan, dirinya sangat mencintai Kota Cirebon. “Walaupun kami ini dari suku Tionghoa, namun darah kami ini adalah darah Cirebon, karena kami lahir dan besarkan juga di sini. kami sangat mencintai Cirebon karena kota kelahiran kami ini,” ujarnya.

Selaku warga Tionghoa, dirinya belum pernah mendapatkan perlakuan yang membeda-bedakan antara warga pribumi dan warga nonpribumi. “Kami di Kota Cirebon ini adalah satu yaitu warga masyarakat Kota Cirebon,” tandasnya. (den)