Sultan Muhammad V Turun Takhta, Malaysia Menanti Raja Baru

Internasional
SULTAN-MUHAMMAD-VTURUN TAKHTA: Raja Malaysia, Sultan Muhammad V, memutuskan turun takhta, Minggu (6/1). Foto: AP

KUALA LUMPUR – Monarki konstitusional Malaysia diguncang oleh pengunduran diri mendadak Sultan Muhammad V pada Minggu (6/1). Keputusan tersebut, menandai pertama kalinya seorang raja turun takhta di negara berpenduduk mayoritas Muslim, sejak Malaysia memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada tahun 1957.

“Istana Nasional menginformasikan Yang Dipertuan Agung telah mengundurkan diri sebagai raja ke-15 yang berlaku 6 Januari,” ujar sebuah pernyataan dari istana, seperti dilansir laman The Guardian.

Pada hari Senin, Conference of Rulers dilaporkan bertemu untuk memilih seorang raja baru. Sementara itu, Sultan Nazrin dari Perak, wakil raja, akan bertindak sebagai kepala negara.

Meskipun ada ketidakpastian mengenai siapa yang akan mengambil alih dalam beberapa minggu mendatang, mereka yang diwawancarai oleh Channel NewsAsia mengatakan rasa hormat masyarakat terhadap monarki tidak akan terpengaruh.

Oh Ei Sun, seorang rekan senior di Institut Urusan Internasional Singapura mencatat, Malaysia tidak mempraktikkan monarki dinasti di tingkat federal, tetapi lebih bersifat rotasi.

Karena itu, penghormatan rakyat terhadap institusi dan bukan raja individu. Jadi pengunduran diri satu raja akan diikuti oleh penobatan raja lainnya, yang akan terus menikmati rasa hormat seperti itu, katanya.

Ooi Kee Beng, Direktur Eksekutif Institut Penang menambahkan, pengunduran diri Raja Malaysia mungkin tidak mengejutkan bagi rumah-rumah kerajaan. Ketidakpastian sekarang adalah tentang siapa Agong berikutnya.

“Saya sangat meragukan ini akan berarti ketidakstabilan bagi negara, mungkin untuk kantor (raja) itu sendiri, tidak lebih,” katanya.

Mantan raja telah secara resmi memberi tahu penguasa Melayu tentang pengunduran dirinya melalui surat yang dikirimkan kepada Sekretaris Konferensi Penguasa.

“Yang Mulia berharap semua orang Malaysia akan terus tetap bersatu, toleran, dan setuju dalam memikul tanggung jawab untuk menjaga kedaulatan negara sehingga Malaysia akan tetap damai dan harmonis,” kata pernyataan itu.

Wakil perdana menteri Wan Azizah Wan Ismail mengaku sedih dengan pengunduran diri itu, tetapi keputusan itu harus dihormati.

Rumor turun tahta itu beredar online pekan lalu, meskipun Mahathir mengatakan dia tidak menerima berita resmi mengenai masalah itu.

Malaysia adalah monarki konstitusional, dengan pengaturan unik di mana takhta berpindah tangan setiap lima tahun antara penguasa sembilan negara bagian Malaysia yang dipimpin oleh kerajaan Islam berusia berabad-abad. (der/fin)