Tahun Ini Pasar Sumber Sudah Ditempati Pedagang, Pasar Pasalaran Tahun 2020

ilmi-bangunan-pasar-sumber-(5)Pembangunan Pasar Pasalaran terus digenjot. Untuk tahap kedua tahun 2018 dengan alokasi anggaran Rp9 miliar ini, pembangunannya mencapai 95 persen.FOTO:ILMI YANFA UNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON-Progres pembangunan dua pasar tradisional milik Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon, yakni Pasar Sumber dan Pasalaran terus mengalami kemajuan. Rencananya, Pasar Sumber mulai ditempati pedagang akhir 2018, sementara Pasar Pasalaran tahun 2020.

Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Cirebon Drs H Eka Hamdani MSi menuturkan, Pasar Pasalaran dilakukan pembangunan revitalisasi melalui empat tahap, sedangkan untuk Pasar Sumber dua tahap.

Tahap pembangunan Pasar Pasalaran, tahap pertama dibangun pada tahun 2017 dengan alokasi anggaran Rp6,7 miliar, tahap kedua pada tahun 2018 dengan alokasi anggaran Rp9 miliar. Sedangkan untuk Pasar Sumber, tahap pertama telah dibangun pada tahun 2017 dengan alokasi Rp11,5 miliar dan tahap kedua masih proses pembangunan dengan alokasi Rp4,8 miliar.

“Data sementara, tahap dua Pasar Pasalaran progres pembangunannya sudah 95 persen, Pasar Sumber sudah 97 persen. Untuk Pasar Sumber hanya dilakukan pembangunan dua tahap, sekarang sudah 97 persen. Tinggal finishing saja. Deadline pengerjaan sendiri hingga tanggal 24 Oktober 2018. Nah, untuk Pasalaran tahap duanya sudah 95 persen, dengan deadline pengerjaan tanggal 28 oktober 2018,” tutur Eka Hamdani kepada Radar Cirebon.

Lebih lanjut, ujar Eka, pembangunan kelanjutan tahap ketiga Pasar-Pasalaran akan dibangun pada tahun 2019 dengan rencana alokasi anggaran Rp11,7 miliar. “Rencananya, Pasar Sumber akhir tahun 2018 bisa diresmikan dan ditempati. Sedangkan untuk Pasalaran targetnya tahun 2020 selesai pembangunan secara 100 persen. Pada tahun itu juga bisa langsung ditempati,” harap Eka.

Diketahui, kedua pasar tradisional ini sebelum dilakukan revitalisasi pembangunan pernah terjadi kebakaran hebat. Pasar yang sedang direvitalisasi itu masing-masing akan didesain seperti pasar modern. Penempatan lokasi pasar akan diberi petunjuk lokasi zonasi atau tempat berjualan.

“Nanti kedua pasar tradisional yang sedang dibangun (revitalisasi, red) ini, akan didesain memiliki zonasi. Jadi, akan tertata dan ada zonasinya. Khusus pedagang pakaian untuk pakaian, begitupun pedagang daging-ikan, sayuran, sembako, kelontongan dan lain-lain,” ucapnya.

Untuk Pasar Sumber yang dibangun dua lantai, didesain seperti Pasar Jagasatru. Pedagang los berada di tengah-tengah dan kios di sampingnya mengelilingi bangunan pasar. Lebih lanjut, kata Eka, revitalisasi kedua pasar tradisional ini akan dibuat nyaman. Keduanya dipastikan akan memiliki fasilatas umum (fasum) dan fasilitas sosial (fasos) seperti standarisasi jalan, drainase, alat hydrant pemadam kebakaran, parkir, pengelolaan sampah, dan lain-lain.

Fasum jalan, lanjutnya, harus ada standarisasinya. Misalnya jalan gang pasar dengan lebar 1-60 m2 ya harus segitu. Pedagang, pengelola pasar harus komitmen, jalan dilarang keras untuk dipergunakan untuk aktivitas lainnya. Apalagi untuk jualan. Kedisiplinan dan komitmen ini, agar semua pengunjung, maupun pedagang merasa nyaman, tidak berdesakan dan berjubel saat belanja. Begitupun drainase tidak boleh ditutup sembarangan karena akan menghambat proses serapan air.

Ditambahkannya, ada sembilan pasar milik pemda yakni Pasar Ciledug, Babakan, Cipeujeh, Sumber, Pasalaran, Palimanan, Kueh, Jamblang dan Pasar Batik Weru. Revitalisasi dan penataan pasar tradisional sangat penting guna meningkatkan daya saing terhadap pasar modern yang perkembangannya cukup pesat, hampir pada setiap kecamatan. (via)