Terima Kasih Jojo, bikin Emak-emak Engga Tidur di Jam-jam Ngantuk

Jojo, panggilan Jonatan Christie peraih medali emas tunggal putra bulu tangkis di ajang Asian Games 2018, berselebrasi dengan cara yang memicu ’’histeria’’. Katanya, itu murni spontanitas.

Ada dua hal yang membuat Nur Fadhilah begitu bungah setelah final tunggal putra bulu tangkis Asian Games berakhir. Yang pertama karena jagoan Indonesia, Jonatan Christie, memenangi duel melawan pemain Taiwan Chou Tien Chen.

Yang kedua? Karena cara Jojo –sapaan akrab Jonatan Christie– merayakan kemenangan. Begitu smes penentu kemenangan 21-18, 20-22, 21-15 tak mampu dijangkau Chou, pemain 20 tahun itu langsung membuka kaus. Memperlihatkan tubuh berototnya.

’’Kemarin-kemarin cuma bisa nonton di televisi, sekarang bisa lihat langsung. Malah deg-degan, hehehe,’’ ungkapnya saat ditemui di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (28/8).

Sepanjang Asian Games 2018, tercatat tiga kali Jojo berselebrasi dengan cara serupa. Pertama saat dia menang melawan Shi Yuqi, unggulan pertama, pada babak 32 besar.

Berikutnya ketika memastikan tiket ke final setelah menundukkan pemain Jepang Kenta Nishimoto. Bahkan, dalam semifinal Senin lalu (27/8) tersebut, Jojo sempat melempar jersey ke arah penonton. Dan, yang ketiga di laga final.
’’Ini Asian Games pertama buat saya. Kalau itu (melepas baju, Red) bisa buat orang bahagia, kenapa nggak?’’ ujar Jojo setelah final.

’’Kebahagiaan’’ atas selebrasi Jojo itu setidaknya bisa disimak lewat media sosial. Di Twitter, contohnya, kemenangan pemain yang pernah membintangi film King tersebut (dan tentu beserta cara dia berselebrasi) langsung menjadi trending topic.

Bahkan sampai larut malam masih bertahan di jajaran yang paling banyak diperbincangkan. Ada akun yang misalnya menulis, ’’Terima kasih Jojo sudah bikin emak-emak di kantor melek di jam-jam ngantuk ini.’’

Jojo menyatakan apa yang dilakukannya itu murni spontan. Bukan karena pamer bodi. Atau ada yang memintanya demikian.

Maklum, baik saat melawan Shi, Nishimoto, maupun Chou, dia harus melewati pertandingan yang sangat ketat. Semua lewat rubber game.

’’Sejauh ini oke saja, gak ada yang berlebihan,’’ kata Hendry Saputra, pelatih tunggal putra Indonesia, ketika dimintai komentar tentang cara Jojo berselebrasi.

Banyak yang menyebut selebrasi ala Jojo itu mirip megabintang sepak bola Cristiano Ronaldo. Tapi, sebenarnya, di bulu tangkis dunia, sudah ada yang pernah melakukannya.

Lee Yong-dae, contohnya. Ketika menjuarai nomor ganda putra Indonesia Terbuka 2016 berpasangan dengan Yoo Yeon-seong, dia juga sukses membuat publik Istora Senayan histeris. Seusai mengalahkan pasangan Tiongkok Chai Biao/Hong Wei di final, dia juga membuka kaus.

’’Oppa… oppa…,’’ teriak sebagian penonton perempuan di Istora kala itu. Oppa dalam bahasa Korea berarti panggilan dari perempuan untuk laki-laki lajang.

Maklum, drama Korea dan K-pop ketika itu sudah ramai menggempur Indonesia. Dan, Lee Yong-dae secara postur dan wajah memang tak ubahnya bintang pop Negeri Ginseng tersebut.

Sebelum kehebohan Lee Yong-dae di Istora, Lin Dan juga sudah melakukannya. Misalnya, ketika mengalahkan Lee Chong Wei di final Malaysia Terbuka 2017 di Kuala Lumpur.

Dengan begitu ekspresif, Lin Dan membuka baju. Lantas berselebrasi sambil telentang di lapangan. Dan, penonton yang notabene pendukung Lee Chong Wei toh memberinya aplaus.

Bagi Jojo, emas Asian Games ini bisa dibilang gelarnya di level senior yang paling prestisius. Apalagi, dia tak diunggulkan. Secara peringkat pun masih kalah dari koleganya, Anthony Sinisuka Ginting.

Jadi, wajar kalau cara merayakannya juga spesial. Apalagi, dukungan menggelora penonton di Istora turut memacu motivasi. ’’Penonton Indonesia itu luar biasa, berisik banget. Pelatih ngomong apa kadang juga gak dengar. Bersyukur bisa kasih yang terbaik,’’ terangnya.

Benang merah, sebut saja demikian, dari Lee Yong-dae, Lin Dan, dan Jojo adalah: ketiganya punya tubuh yang sangat terjaga. Six pack.

Dan, bagi Nur Fadhilah, itu bisa jadi inspirasi bagi para atlet lain. ’’Itu bukti dia latihan fitnes terus kali ya,’’ ujarnya.

Tapi, Hendry, sang pelatih, meminta, kalau pas bertanding di luar negeri, sebaiknya Jojo menghindari selebrasi ala Ronaldo. ’’Ini kan karena penonton di sini begitu antusias. Belum tentu kalau di luar negeri bisa diterima,’’ kata Hendry.

Maksud Hendry tentu bisa dipahami. Tapi, Lee Yong-dae dan Lin Dan sudah membuktikan, ’’histeria emak-emak’’ mampu menembus batas-batas negara, hehehe.

Nuris Andi Prastiyo, Jakarta

 

(*/c5/ttg/jpnn)

Berita Terkait