Terkendala Cuaca, Produksi Ikan Asin di Kabupaten Cirebon Berkurang

Sejumlah pelaku usaha pengolahan ikan asin mengeluhkan cuaca yang tidak membuat produksi tidak bisa maksimal dilakukan. Hal tersebut berimbas tidak bisa terpenuhinya permintaan pasar. FOTO:ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON
Sejumlah pelaku usaha pengolahan ikan asin mengeluhkan cuaca yang tidak membuat produksi tidak bisa maksimal dilakukan. Hal tersebut berimbas tidak bisa terpenuhinya permintaan pasar. FOTO:ANDRI WIGUNA/ RADAR CIREBON

CIREBON-Cuaca yang tak menentu membuat sejumlah pengusaha ikan asin di Kabupaten Cirebon kewalahan. Pesanan yang datang dari berbagai daerah pun saat ini tak bisa dipenuhi karena produksi ikan asin yang terkendala minimnya panas matahari.

Bahkan, produksi pun terpaksa diturunkan hampir setengahnya. Karena jika dipaksa, ikan akan cepat membusuk karena lama kering dan dikerumuni belatung. Pengusaha ikan asin asal Kecamatan Mundu HM Ujang Bustomi menyatakan, produksi ikan asin jenis teri yang biasanya setiap hari bisa mencapai tiga ton lebih, saat ini hanya bisa setengahnya saja diproduksi.

“Mau tidak mau, produksi kita turunkan. Dari yang tadinya 3 ton kini hanya setengahnya saja. Bukan karena permintaan yang turun tapi produksinya saat ini terkendala panas matahari yang minim,” ujarnya.

Kondisi tersebut menurut Ujang sudah terjadi sejak musim hujan datang pada akhir Desember 2018 lalu. Padahal menurutnya, bahan baku atau ikan teri saat ini stoknya sedang banyak meskipun harus mengambil ke wilayah Indramayu dan beberapa daerah di pesisir Jawa Tengah.

“Untuk bahan baku sebenarnya aman, stok ikannya juga sedang banyak. cuma produksinya yang terhambat. ini tentu mempengaruhi, karena kita tidak bisa serap ikan dari nelayan secara maksimal, kita terbatas tempat penyimpanan,” imbuhnya.

Untuk harga ikan teri basah sendiri menurut Ujang saat ini masih di angka 11 ribu sampai 12 ribu perkilogram. Ikan tersebut nantinya direbus dengan garam dan dikeringkan sebelum dijual dan di pack dan diedarkan kebeberapa daerah di luar Cirebon.

“Untuk pemasaran ada di Bandung, Jakarta, Palembang dan Jambi. Kita kalau full produksi bisa support banyak tempat, tapi karena kondisinya seperti ini hanya bisa support Jakarta dan Bandung saja,” bebernya.

Dijelaskan Ujang, perhatian pemerintah terkait usaha olahan ikan asin terbilang minim. Setahun terakhir memulai usaha tersebut, ia belum pernah mendapat pelatihan pengolahan ataupun program bantuan untuk pelaku usaha olahan ikan asin.

“Harapan kita tentu ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Cirebon. Sama seperti di Rembang. Di sana bupatinya benar-benar peduli dan perhatian untuk nelayan dan pelaku usahanya, bahkan bupatinya sampai punya gudang penyimpanan dan pemerintah di sana siap membeli hasil laut dengan harga standar untuk menghindari permainan tengkulak,” tukasnya.

Sementara itu, Suyanto salah seorang nelayan di Desa Gebangmaker kepada Radar mengatakan harga ikan teri relatif stabil dan tidak terganggu dengan cuaca ataupun permintaan pasar. Bahkan harga yang ada saat ini sudah berjalan sejak dua tahun terkahir. “Sudah dua tahun harganya ada dikisaran 10 ribu sampai 12 ribu, pernah jauh dari itu, naiknya itu kalau bisa direbus dan diolah. Bisa tiga kali lipat,” jelasnya. (dri)

Yuk! Baca Juga, Berita Terkaitnya

Terkini Lainnya