Ternyata PDAM Kota Cirebon Tak Punya Sumber Air Alternatif

ILUSTRASI

CIREBON–Sebagian besar pelanggan Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Tirta Giri Nata, tak punya sumber air alternatif. Saat terjadi gangguan jaringan, mereka terpaksa membeli air isi ulang. Ada juga yang menggunakan pompa untuk menyedor air dari pipa distribusi.

Ketua RW/RT 04, Kelurahan Panjunan, Kota Cirebon H Ahmad mengungkapkan, krisis ini membuat warganya benar-benar kesulitan. Karena tidak adanya air bersih untuk keperluan rumah tangga. “Mati total pagi sampai malam. Nyala lagi jam 10 malam,” ungkapnya kepada Radar Cirebon.

Layanan Perumda Air Minum hingga kemarin masih terganggu di beberapa lokasi. Bahkan dampaknya meluas. Seperti di RW 11 Samadikun Utara di mana beberapa rumah warga mulai mengalami kesulitan air bersih.

Meski demikian, ada juga beberapa lokasi yang berangsur normal seperti di RW 08 Merbabu Asih,  RW 07 Mekar Asih, Kelurahan Kecapi dan RW 19 Larangan Timur. Dari temuan Radar Cirebon, beberapa warga menempuh jalan pintas. Mereka menggunakan mesin pompa untuk menyedot air di pipa jaringan distribusi. Meski tahu tindakan ini menyalahi aturan, namun ketiadaan sumber air alternatif membuat mereka terpaksa menempuh cara ini.

Di RW 04 Panjunan misalnya. Air tidak bisa keluar tanpa bantuan pompa. Diakui Ketua RT setempat, Ahmad banyak warga yang melakukan ini. “Di sini fasum juga nggak ada air. Terpaksa pakai pompa,” ucap dia.

Hal serupa dirasakan warga RW 14 Galunggung. Namun warga masih beruntung karena air tanah relatif baik kondisinya dan bisa dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari. Budiharjo warga setempat mengaku mengeluarkan uang Rp2,5 juta untuk membeli pompa. Ia sudah tidak tahan dengan krisis air. “Kalau nunggu air normal sampai kapan? Kepaksa bikin sumur bor,” ungkapnya.

Dalam wawancara dengan koran ini beberapa waktu lalu, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Giri Nata, Sofyan Satari meminta warga tidak menggunakan pompa untuk menyedot air dari pipa jaringan. Tindakan ini, dalam kondisi normal sekalipun akan berdampak pada pelanggan lainnya. “Sebetulnya ada aturan ini. Tidak boleh nyedot air pakai pompa,” katanya.

Perumda Air Minum juga memberlakukan aturan kepada pelanggan baru. Mereka wajib membangun penampungan air bawah tanah (ground tank). Dengan adanya penampungan ini, bila debit air PAM terganggu sementara bisa teratasi. “Aturan ini sudah diberlakukan empat tahun. Jadi pelanggan baru kita minta bikin ground tank,” tuturnya.

Perumda Air Minum sendiri tengah mengupayakan beberapa solusi. Untuk jangka pendek melakukan dropping air bagi pelanggan terdampak. Kiriman air menggunakan tanki ini gratis. Kemudian melakukan optimalisasi penyelaman sumur, pembuangan udara yang terjebak dalam pipa, baik pipa transmisi maupun distribusi.

“Kami juga mengoptimalkan operasional pompa yang ada menjadi lebih besar agar tekanan air lebih tinggi. Tim kami juga menangani kebocoran secara maksimal dan merevitalisasi pipa yang sudah berumur,” terangnya.

Sedangkan untuk penanggulangan jangka menengahnya adalah menyelesaikan program Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) yang sedang dibangun. Penanggulangan jangka panjangnya, pihaknya sudah mengikuti program SPAM Regional Jatigede dan kerjasama dengan PDAM Kabupaten Kuningan untuk menambah debit air baru. “Mudah-mudahan segera dapat diatasi. Kami akan sekuat tenaga berusaha memberikan pelayanan yang terbaik,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Kota Cirebon Agung Supirno mendorong Perumda Air Minum mempermudah pengiriman air bersih dengan tangki. Hal ini sebagai bentuk tanggung jawab  kepada pelanggan yang layanannya terganggu. “Ini kompensasi karena pelanggan tidak mendapat haknya,” tandasnya.

Distribusi air ini, kata dia harus gratis dan siap dikirim ke pelanggan dimanapun sesuai wilayah PAM Tirta Girinata. Karena pelanggan sudah membayar iuran, pelanggan juga berhak mendapatkan pelayanan. “Kita akan memantau dan mengawasi pelaksanaan komitmen direksi pada waktu pertemuan dengan kita,” tegasnya. (myg/gus)