Terus Merosot, Harga Satu Karung Garam Hanya Rp50 Ribu

Kabupaten Indramayu
Kho-Panen-garam1Petani garam pesisir pantura Eretan menikmati masa panen. Produksi melimpah, harga garam merosot sampai Rp50 ribu per karung.FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU–Musim panen raya, harga garam di tingkat petani diwilayah pesisir pantura Kabupaten Indramayu merosot tajam. Meski demikian, petani masih tertolong dengan tingginya tingkat produksi garam yang dipanen.

Petani garam rakyat asal Eretan, Kecamatan Kandanghaur, Sutarno menyebutkan, harga garam saat ini di kisaran Rp800-900 per kilogram. Padahal, saat awal musim panen, harganya masih dikisaran Rp1300-Rp1500 per kilogram. “Harganya sekarang lagi turun terus,” ucap dia kepada Radar Indramayu.

Namun dia mengakui, produksi garam rakyat lagi banyak-banyaknya. Sampai-sampai garam produksi petani tidak dijual dengan hitungan kilogram tapi karungan. Jika ditimbang beratnya dikisaran 55-60 kg perkarung. “Kemarin masih Rp80 ribu, sekarang ditawar Rp50 ribu sekarung. Kalau lagi mahal bisa tembus Rp150 ribu per karung,” sebutnya.

Untungnya, permintaan garam tetap lancar. Umumnya permintaan datang dari para pengusaha ikan asin lokal. Karena itulah, dia tidak memilih untuk menyimpan garam ke gudang lalu menjualnya saat harga garam naik. “Begitu panen langsung dijual. Buat makan,” tuturnya.

Petani garam lainnya, Amin menjelaskan, anjloknya harga garam lantaran saat ini disebabkan makin banyaknya lahan garam yang memasuki masa panen raya. Dia pun memperkirakan harga garam di tingkat petani bisa lebih turun lagi. “Sudah siklusnya seperti itu, produksi melimpah harga turun,” ujarnya.

Meski harga garam merosot, tapi petani masih tertolong dengan produksi yang cukup tinggi. Hal itu terjadi karena didukung dengan kondisi cuaca panas yang bagus. Untuk sekali panen, petani garam saat ini bisa memperoleh puluhan karung garam per hari. Jika kondisi cuaca terus mendukung, diperkirakan dalam satu musim kali ini, petani bisa memperoleh ratusan ton per hektare.

Sama halnya dengan Sutarno, Amin memilih untuk langsung menjual garamnya. Dia belum berniat untuk menyimpan garamnya karena masa panen yang diperkirakan masih cukup lama. (kho)