Rabu, 23 Juli 2014

TPA Kopiluhur Hanya 2 Tahun Lagi

KESAMBI- Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kota Cirebon Drs Sumanto memprediksi umur penggunaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopiluhur hanya tinggal dua tahun lagi. Hal ini karena melihat banyaknya volume sampah tiap hari di Kota Cirebon yang menjadi beban TPA saat ini. Sehingga diperlukan solusi untuk menanggulangi masalah sampah di masa yang akan datang.
“Saya rasa kalau sistem pengolahan sampah kita masih seperti ini, maka umur TPA hanya bisa bertahan dua tahun lagi,” ungkap dia kepada Radar, kemarin. Sumanto mengatakan untuk mengantisipasi hal ini pihaknya saat ini terus menganalisa. Ia melihat banyak cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi beban sampah di TPA Kopiluhur.
Salah satunya ia tengah mengkaji penggunaan sampah yang berumur lima tahun ke atas untuk mereklamasi pantai utara Kota Cirebon. “Ini bisa mengurangi beban TPA Kopiluhur,” katanya. Hanya saja saat ini ia mengaku belum berkoordinasi dengan Dinas Kelautan Perikanan Pertanian dan Peternakan (DKP3) terkait rencananya tersebut.
“Saya belum berkoordinasi dengan DKP3, kalau memang mereka punya program reklamasi pantai. Itu sangat membantu kami agar beban sampah di TPA bisa berkurang,” terangnya. Selain penggunaan sampah untuk reklamasi pantai. Pihaknya juga tengah berencana untuk menerapkan klasifikasi tarif sampah per rumah.
“Dana retribusi ini kan nantinya bisa digunakan untuk pengolahan sampah seperti komposing dan penghijauan. Tentunya dengan adanya pengolahan sampah itu bisa mengurangi beban TPA,” paparnya.
Sementara Kepala UPTD TPA Kopiluhur, Otang Sumantri ST menyebutkan volume sampah per hari di Kota Cirebon semakin meningkat. Rata-rata volume sampah yang tertampung di TPA Kopiluhur terdapat 700 meter kibik per hari. Dijelaskan Otang, pihaknya saat ini hanya bisa melakukan upaya buka tutup lokasi untuk menampung sampah-sampah tersebut.
“Saya kira kalau sistem ini masih seperti ini maka lambat laun akan menjadi masalah, apabila TPA nanti sudah penuh,” ungkapnya. TPA Kopiluhur, lajut Otang, memiliki luas sekitar 15 hektare, terdiri dari 9 ha lokasi lama, dan 6 hektare lokasi baru yang dibangun pabrik kompos.
Walaupun masih menyisakan ruang yang cukup, akan tetapi pihaknya mengaku kesulitan tiap kali membuka lokasi baru.
Hal ini mengingat lokasi TPA yang terlalu dekat dengan masyarakat. “Kalau terus dibuka lokasi baru khawatir bisa mengganggu masyarakat, nanti kita diprotes karena terlalu dekat, ini yang jadi pertimbangan,” ungkapnya. Dikatakan, satu lokasi penampungan sampah tersebut hanya bisa bertahan 2-3 bulan. Dengan demikian, setiap tahun pihaknya harus membuka lokasi baru empat kali. “Jadi kalau sudah penuh kita harus membuka lokasi baru di sekitar TPA untuk menampung sampah,” terangnya lagi.
Oleh karenanya, pihaknya menginginkan agar ada pembenahan sistem pengolahan. Salah satunya bisa dengan menfungsikan kembali pabrik kompos yang sejak tahun 2010 terbengkalai. “Saya rasa untuk pengelolaan pabrik kompos harus oleh pihak ketiga, karena terus terang saja, biaya operasional untuk pabrik kompos ini sangat besar,” katanya. (jml)

No Banner to display

Posted by:

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Comments are closed.