oleh

Tradisi Keraton Sarat Makna dan Sejarah, Namun Belum Jadi Daya Pikat

CIREBON-Keraton kecireboan memiliki beberapa tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini. Tradisi ini sudah berjalan secara turun temurun. Uniknya tradisi-tradisi yang ada selalu berkaitan dengan peringatan hari besar agama islam, yang dikaitkan dengan tradisi keraton.

Ketua Kolompok Penggerak Pariwisata (Kompepar) Keraton Kacirebonan R Agus Zulkarnaen dalam tradisi-tradisi itu terdapat makna dan kekhasan. Tradisi yang masih dipertahankan tersebut, seperti tradisi suraan, ngisis wayang, tradisi rajaban, tradisi ruwahan, tradisi likuran dan panjang jimat dalam tradisi muludan. “Hampir seluruh tradisi yang ada di sini, berkaitan dengan ajaran Islam,” ujarnya.

Menurut dia, empat keraton tersebut masing-masing memiliki tradisi tersendiri yang dilakukan. Yang paling unik di keraton kacireboan, ialah tradisi saparan. Tradisi yang dilakukan di bulan safar ini ritual intinya berupa munajat doa tolak bala dan pembagian kuliner tradisional Cirebon, yakni kue Apem. Kue yang berbentuk bulat dan persegi empat yang diberi lautan gula merah dan dicampur dengan parutan kelapa.

Acara safaran sendiri dilaksanakan biasanya setelah ashar. Salah satu prosesi yang paling ditunggu warga ialah prosesi saweran kepada warga sekitar keraton yang dilakukan oleh Sultan Kacirebonan beserta keluarga.

Adapula tradisi membuat bubur sura pada perayaan suraan. Tak kalah menarik dalam perayaan itu juga digelar pentas wayang kulit. Wayang kulit yang dipakai ini juga termasuk barang kuno, peninggalan leluhur keraton.

Wayang ini disimpan di Museum Keraton. Setiap hari jumat kliwon biasanya wayang-wayang ini akan dijemur. Tradisi menjemur wayang ini disebut dengan ngisis wayang. Tradisi ini rutin dilakukan setiap pagi di hari jumat kliwon hingga bada jumat oleh petugas atau dalang wayang. Tradisi ini bertujuan agar koleksi wayang yang telah berusia ratusan tahun itu tetap terjaga. (jml)

News Feed