Tradisi Rebo Wekasan, Warisan Turun-temurun sejak Zaman Wali Songo

Kabupaten Cirebon
ilmi-cs-rebo-wekasan-(15)Warga berebut uang koin yang dilemparkan seorang sesepuh dalam tradisi tawurji.FOTO : ILMI YANFAUNNAS/RADAR CIREBON

CIREBON-Tradisi Rebo Wekasan sudah ada sejak zaman Wali Songo. Tradisi ini tidak terlepas dari pengaruh ajaran Islam. Bahkan, masih kental di tengah masyarakat Cirebon. Sebab, tradisi tersebut merupakan warisan secara turun-temurun dari para leluhur penyebar agama Islam untuk tolak bala.

Rebo Wekasan merupakan akhir hari di bulan Safar dalam kalender hijriah. Konon, pada saat itulah Allah SWT menurunkan 320.000 bencana atau malapetaka ke muka bumi. Karena itu, Rabu (7/11) warga Blok Pesarean, Kelurahan Gegunung, Kecamatan Sumber, menggelar berbagai kegiatan Rebo Wekasan di Kawasan Situs Makam Pangeran Pasarean. Kegiatan yang dilakukan itu salah satunya memanjatkan doa kepada Allah dengan melaksanakan Salat Hajat Tolak Bala sebanyak dua rakaat.

Setelah itu, mereka membaca kidung air atau tisting yang berarti asal mula air dan kidung kerhayuan yang berarti keselamatan. Dengan harapan, memohon dijauhkan dari bala dan bencana. Selanjutnya melakukan tawurji, ngapem dan menyantap nasi uduk bersama.

Ketua Paguyuban Pangeran Pasarean sekaligus Juru Kunci Situs Makam Pangeran Pasarean, R Hasan Ashari menjelaskan, doa tawurji ini biasa berkumandang setiap malam Rabu terakhir pada Bulan Safar. Fungsinya, untuk mengingat kematian Syekh Siti Jenar. Menurutnya, tawurji sendiri berarti sedekah uang koin yang dibagikan secara masal kepada warga, terutama anak yatim.

“Tawurji berasal dari suku kata tawur yang berarti melempar uang koin, dan aji yang berarti tuan haji atau orang yang mampu. Inti tradisi Rebo Wekasan adalah doa bersama untuk meminta dijauhkan dari segala bencana dan musibah. Sebab, menurut kaum sufi, Allah menurunkan lebih banyak bencana di Bulan Safar,” terangnya.

Selain doa, lanjut Hasan, tradisi ngirab mandi di Sungai Cipager yang menjadi rangkaian acara Rebo Wekasan ini bermula, dari kebiasaan Sunan Kalijaga memandikan warga saat Cirebon terkena pagebug atau wabah penyakit di Sungai Drajat. Setelah dimandikan di Sungai Drajat, ternyata langsung sembuh. “Tradisi itu kami teruskan sampai sekarang untuk meraih karomah Sunan Kalijaga. Hanya saja, karena sungai di Drajat sudah kotor, ngirab mandi dipindahkan lokasinya ke Sungai Cipager yang berdekatan dengan Situs Pangeran Pasarean,” terangnya.

Dia mengungkapkan, Tradisi Rebo Wekasan ini dihadiri ratusan warga dari berbagai daerah. Meski demikian, seluruh rangkaian Rebo Wekasan yang dimulai sejak pukul 08.00 di situs Makam Pangeran Pasarean berlangsung khidmat.

“Alhamdulillah acara berjalan lancar dan sukses. Semoga kita yang hadir di sini dan untuk masyarakat Kabupaten Cirebon dijauhkan dari bencana ataupun musibah. Pada intinya, kita hanya berikhtiar agar diberikan keselamatan,” tandasnya.

Sementara itu, Sekretaris Camat Sumber, Carmin mengapresiasi warga Kelurahan Gegunung Blok Pesarean yang masih mempertahankan adat istiadat leluhur. Ada hikmahnya, bisa silaturahmi dengan sesama di acara Rebo Wekasan. “Ini adalah aset budaya kita yang harus dipertahankan dan dilestarikan. Karena keragaman inilah, kita bisa bersatu. Itulah Indonesia yang kaya akan budaya,” tuturnya.

Menurutnya, Tradisi Rebo Wekasan ini mempunyai efek positif bagi masyarakat Kabupaten Cirebon. Yakni, menjaga tatanan adat yang ada di Cirebon. Selain itu, doa di dalam rangkaian acara Rebo Wekasan ini untuk menolak bala. Sebab, dulu Masjid Agung Sang Cipta Rasa pernah terbakar dan banyak musibah lainnya yang turun di Rebo Wekasan. “Jadi, ketika masuk di hari Rabu terakhir bulan Safar, masyarakat melakukan doa tolak bala. Salah satunya acara yang digelar di Situs Pangeran Pasarean,” pungkasnya. (sam)