oleh

Transformasi dari Kota Udang ke Kota Garam

Kabupaten Cirebon punya garis pantai sekitar 77 KM. Otomatis, jika melihat kondisi tersebut, potensi bidang kelautan cukup dominan dan menjanjikan. Khususnya untuk industri garam.

YA, Cirebon harus bertranformasi menjadi kota garam karena Kabupaten Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan lahan tambak garam terbesar di Indonesia. Namun untuk produksi garam, masih sedikit sekali garam yang terserap industri karena kualitasnya di bawah standar.

“Cirebon harus jadi kota garam. Penghasil garam berkualitas yang bisa diterima industri. Pelan-pelan saya yakin bisa. Karena potensi itu kita punya. Beberapa petani sudah mulai. Bahkan ada yang secara mandiri sudah berproduksi.

Garam-garamnya sudah diproduksi di atas meja yang sudah menggunakan geomembrane,” ujar Kabid Pemberdayaan Dislakan Kabupaten Cirebon, Drs Yanto beberapa waktu lalu.

Garam yang dimaksud, menurut Yanto, harus memenuhi standar agar bisa diterima industri. Selain itu, jika garam yang dibuat adalah garam yang berkualitas, maka petani tidak akan khawatir terkait persoalan harga.

“Kalau garamnya bagus saya yakin harganya akan mengikuti. Yang selama ini tidak terserap dan harganya murah adalah garam krosok yang kualitasnya di bawah standar. Garam di bawah standar inilah yang paling banyak diproduksi oleh petani-petani garam di Cirebon,” imbuhnya.

Sementara itu, CEO Radar Cirebon Group Yanto S Utomo menyebut, kebutuhan garam untuk pasar domestik cukup besar dan belum bisa dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Oleh karena itu, pasarnya masih sangat terbuka. Dan peluang tersebut harus dimanfaatkan oleh para petani garam.

“Saya sudah keliling dan melihat beberapa tambak garam. Dari mulai yang menggunakan teknologi rumah prisma, geomembrane, sampai dengan petani garam krosok. Menurut saya, ada dua persoalan yakni terkait peningkatan kualitas dan kuantitas, serta masalah pasar.

Repot juga kalau kita bisa buat garam bagus, tapi pasarnya tidak ada. Tapi ini peluang yang harus dilihat secara jernih. Karena kita sampai saat ini masih kekurangan pasokan garam,” jelasnya.

Ditambahkannya, membuat garam lebih minim risikonya ketimbang budidaya udang. Hasilnya pun lebih cepat bisa diperoleh, asalkan sudah punya pasar. Dan garam yang dibuat sesuai kualitas garam industri.

“Garam ini minim risiko. Bahan bakunya tinggal ambil dari laut. Cirebon memang potensial jadi Cirebon Kota Garam. Brand-nya memang harus dibangun dari sekarang. Jadi kalau sudah begitu, kualitas pun akan mengikuti. Orang kalau cari garam bagus ya mesti datang ke kota garam. Ini yang perlu ditingkatkan,” ungkapnya. (*)

 

News Feed