Tujuh Anak Terduga Teroris Surabaya Diserahkan ke Kemensos

Nasional
KORBAN: Walikota Surabaya Tri Rismaharini saat penyerahan anak terduga teroris di Mapolda Jatim, Selasa (12/6). (SURYANTO/RADAR SURABAYA)

Tujuh anak terduga teroris yang sebelumnya dilakukan pendampingan di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jatim akhirnya diserahkan ke Kementerian Sosial (Kemensos), Selasa pagi (12/6). Mereka adalah, Ais, 7, (anak terduga teroris Tri Murtiono pelaku bom Polrestabes Surabaya), AR, 15,  FP, GHA, 11, (ketiganya anak dari terduga teroris Anton di Rusunawa Wonocolo), DNS, 14, AISP, 10, dan HA, 6, (ketiganya anak terduga teroris Dedi Sulistiantono terduga teroris Manukan Wetan).

Kapolda Jatim Irjen pol Machfud Arifin mengatakan, penyerahan ini dilakukan karena mereka telah selesai menjalani perawatan medis dan psikologis. Namun untuk selanjutnya pihak kepolisian menyerahkan penuh untuk memperbaiki kondisi psikologis dan keagamaan ke Kemensos.

“Perawatan medisnya sudah. Psikologis juga sebelumnya sudah pernah berkoordinasi dengan berbagai pihak. Selanjutnya perawatan akan diserahkan ke Kemensos. Paling penting pemahaman keagamaan yang perlu diperbaiki,” kata Machfud kepada awak media, Selasa (12/6).

Jenderal polisi bintang dua itu menjelaskan, saat ini kondisi ketujuh anak tersebut, kondisinya sudah membaik dan mulai ceria. Namun memang masih ada pemahaman yang perlu diperbaiki dari ketujuh anak yang rata-rata masih dibawah umur itu.

Nantinya lanjut Machfud, Kemensos akan memberikan pendampingan, dan menyediakan sekolah untuk anak-anak. Terkait kepada siapa nanti yang berhak mengasuh anak-anak tersebut, Machfud mengatakan keputusan ada ditangan pihak Kemensos.

“Kemensos nanti juga akan memfasilitasi sekolah juga, kalau mereka mau. Pokoknya sudah komplit. Nanti dipilihkan yang terbaik tempatnya oleh Kemensos, sekaligus yang menentukan anak-anak ini nanti setelah menjalani pendampingan akan diberikan kepada siapa,” sambungnya.

Sementara itu, Nahar Direktur Rehabilitasi Sosial Anak Kemensos mengungkapkan siap menerima ketujuh anak terduga teroris tersebut, untuk menjalani proses rehabilitasi sosial. Namun, pihaknya enggan menyebutkan dimana lokasi persis anak-anak tersebut akan ditempatkan.

“Prinsipnya, tempat nanti akan menyesuaikan kenyamanan anak-anak, kita memiliki beberapa tempat,” ujar Nahar saat ditemui Radar Surabaya usai acara serah terima.

Pihak Kemensos tidak bisa memastikan seberapa lama waktu yang dibutuhkan anak-anak untuk menjalani rehabilitasi. Karena, masing-masing anak memiliki kondisi psikologis yang berbeda-beda.

Terpisah sebelum acara penyerahan dimulai, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini juga menyempatkan untuk menjenguk ketujuh anak terduga teroris tersebut yang masih berada di RS Bhayangkara.

“Tadi Ais sudah ceria, saya beri buku. Dia menyampaikan senang punya teman banyak, dia ingin main-main sama temen yang lain. Sementara anak dari terduga teroris Manukan main bola,” ucap Risma saat ditemui di Lobi Tri Brata Mapolda Jatim.

Wali Kota perempuan pertama di Kota Surabaya itu menerangkan, alasan Pemkot tidak bisa mengadopsi karena penanganan agak sulit dan berat. Sebab juga terkait keamanan para anak terduga teroris tersebut.

Dari pantauan Radar Surabaya di lapangan, hadir juga saat penyerahan dua perempuan yang diduga sebagai anggota keluarga dari salah satu ketujuh anak terduga teroris tersebut. Kedua perempuan tersebut selalu menjauhi awak media dengan memakai masker berkerudung dan dijaga ketat.(rus/rud)

(sb/rus/jek/JPR)