Viral di Medsos, Begini Analisa Warganet Temukan Lokasi KKN Desa Penari

Ilustrasi.Twitter

BANYUWANGI-Rowo Bayu merupakan salah satu wisata yang masih alami di Banyuwangi dan memiliki pemandangan alam yang indah. Rowo Bayu terletak di Dusun Sambungrejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Atau sekitar 50 kilometer arah barat tenggara dari pusat kota Banyuwangi. Rowo Bayu adalah telaga yang terbentuk secara alami. Asal nama Rowo Bayu diambil dari kata ‘rowo’ yang berarti telaga dan ‘bayu’ adalah nama Desa Bayu. Atau, Rowo dalam bahasa Indonesia adalah rawa, sedangkan bayu berarti angin.

Telaga ini bersembunyi di balik rimbunnya hutan di kaki Gunung Raung di sisi Kabupaten Banyuwangi. Masyarakat setempat lebih sering menyebutnya Rowo Bayu.

Rowo Bayu, perlahan mulai terjamah banyak manusia seiring hasrat Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memajukan sektor pariwisatanya. Dalam sepekan terakhir, namanya dikait-kaitkan dengan cerita mistis hingga viral di jagad maya.

Di media sosial, Rowo Bayu dikaitkan dengan cerita #kkndidesapenari yang bertahan di trending topik Twitter Indonesia dalam beberapa hari terakhir. Bahkan tagar itu menjadi paling trending hingga pukul 16.32 Wib, Jumat (30/8/2019).

Cerita dari Versi Widya

Cerita dari Versi Nur

 

Seperti dikutip dari akun twitter SimpleMan, enam calon sarjana tersebut adalah Ayu, Nur, Widya, Wahyu, Anton dan Bima. Mereka melaksanakan KKN di daerah di Jawa Timur yang hanya disebut dengan inisial B. Untuk menjalankan program kerja yang telah disusun, Ayu berpasangan dengan Bima, Wahyu dengan Widya, dan Nur dengan Anton.

Berbagai kejanggalan atau hal berbau mistis sudah dirasakan Nur sejak pertama kali menginjakkan kaki di desa tersebut. Seperti mendengar suara gamelan di hutan, melihat penari bahkan hingga diikuti makhluk menyeramkan yang kerap disebut genderuwo (hantu yang konon serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu lebat).

Nur kemudian mencari tahu mengapa ia diikuti makhluk menyeramkan tersebut. Ia kemudian mendapat jawaban dari seorang tetua di kampung tersebut. Selain karena Nur memiliki sensitivitas untuk melihat makhluk-makhluk gaib, ternyata ia juga dilindungi seorang jin berujud nenek-nenek tua.

Singkat cerita, seabrek hal mistis yang ada di desa tersebut justru berujung tragedi setelah dua di antara mereka melakukan pelanggaran. Ayu, Bima dan Widya terlibat dalam sebuah cinta segitiga. Bima dan Ayu melakukan perzinaan meski dalam hati Bima ingin memiliki Widya.

Tidak sampai di situ, Bima juga berusaha memelet Widya dengan sebuah gelang yang didapatnya dari sosok perempuan (makhluk gaib yang berwujud seorang penari cantik jelita) yang berada di sebuah lereng petilasan. Sedangkan Ayu menyimpan kain selendang sang penari berwarna hijau agar bisa mengambil hati Bima.

Tabir kegelapan di kampung tersebut perlahan terbongkar setelah Bima dan Widya tiba-tiba hilang. Sedangkan Ayu tak sadarkan diri. Pak Prabu adalah orang yang memberikan izin mereka menggelar KKN. Ia menyesal telah memberikan izin setelah Nur menceritakan apa yang dilakukan Bima dan Ayu selama di desa tersebut. Terlebih menurut Prabu, Ayu dan Bima juga telah lancang memilih tempat untuk menjalankan program kerjanya. Yakni di sebuah lereng yang dikeramatkan warga desa.

“Tepat di samping lereng, ada tapak tilas. Tempat penduduk desa ini mengadakan pertunjukan tari. Bukan untuk manusia namun untuk jin hutan. Dulu, setiap di adakan tarian itu, untuk menghindari balak (bencana) bagi desa ini, seiring berjalannya waktu, rupanya, mereka yang menari untuk desa ini, akan ditumbalkan. Masalahnya, setiap penari haruslah dari perempuan muda yang masih perawan,” kata Prabu dalam cerita yang ditulis SimpleMan seperti yang dibaca radarcirebon.com,” Jumat (30/8/2019),”

“Itu masalahnya, kata Prabu, asumsi saya, Ayu sejak awal hanya sebagai perantara ke Widya lewat Bima. Namun Ayu tidak memenuhi tugasnya, akibatnya, Ayu dibuatkan jalan pintas, ia di beri selendang hijau itu. Selendang para penari,” imbuhnya.

Dengan bantuan tetua desa, Mbah buyut, Widya dan Bima ditemukan. Namun sayang nyawa Bima sudah tidak bisa kembali menyatu dengan tubuhnya. Ayu juga kemudian meregang nyawa dalam upaya penyembuhan yang mengharuskannya dibawa ke luar Pulau Jawa. (*)

Berita Terkait