Waduh, Harga Beras Mahal, Pedagang Nasi Menjerit

Nasib para pelaku usaha warung nasi di ujung tanduk menyusul lonjakan harga beras. FOTO: KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU

INDRAMAYU–Predikat Kabupaten Indramayu sebagai salah satu lumbung pangan nasional terusik. Soalnya harga komoditi beras di sejumlah pasar tradisional di Bumi Wiralodra sudah dianggap kelewatan mahalnya.

Kenaikan harga beras ini bukan hanya membuat masyarakat menjerit. Para pedagang nasi maupun pengusaha rumah makan juga meradang. Pasalnya, nasib mereka di ujung tanduk. Tinggal menunggu waktu saja usaha mereka bakalan kolaps.

“Sudah kelawatan mahalnya. Usaha kami sekarang di ujung tanduk. Istilahnya, hidup enggan mati tak mau,” keluh Sunanto, pedagang nasi di pinggir jalan raya pantura Losarang kepada Radar.

Saat ini sebut dia, harga beras kualitas medium mengalami kenaikan di angka Rp2.000 hingga Rp3.000 per kilogram. Jika sebelumnya Rp1 juta per kuintal, kini menjadi Rp1,2 juta sampai Rp1,3 juta se kuintal. “Padahal itu harga di pabrik penggilingan, angkut sendiri. Kalau beli di pedagang beras, harganya mungkin tambah tinggi,” katanya.

Yang membuat usahanya makin kejepit, kenaikan harga beras ternyata diikuti dengan perubahan harga bahan pokok, sayuran sampai lauk-pauk yang biasa dijual. Imbasnya, omzet penjualan berkurang signifikan.

Sementara dia mengaku tak sampai hati mengurangi takaran apalagi menaikkan harga barang dagangannya. Untuk beralih menggunakan beras dengan kualitas rendah, Sunanto tak mau citra warung makannya tercoreng. “Nanti pelanggan banyak yang komplain. Kalau sudah begini mah, lebih baik tutup saja dulu sementara sampai harga beras turun,” niatnya.

Serupa diungkapkan Barnawi, pedagang nasi di pinggir jalan raya pantura Patrol. Seingatnya, naiknya harga beras mulai terjadi sejak memasuki musim paceklik sekitar dua bulan lalu. Memasuki awal tahun 2018, harga beras melejit.

Tak cukup modal, diapun memilih mengurangi pembelian menjadi setengah kuintal setiap kali belanja. “Terpaksa dikurangi, yang beli juga turun. Pada kena paceklik,” ucapnya.

Bapak satu orang anak ini juga merasakan usahanya mulai kelimpungan. Apalagi prediksinya harga beras bakalan terus melonjak seiring masih berlangsungnya musim paceklik. “Mungkin naik terus sampai dua tiga bulan ke depan,” prediksinya.

Salah seorang pembeli, Cecep meminta pemerintah turun tangan untuk menstabilkan harga beras. Karena menurutnya, harga bahan pokok utama masyarakat Dermayu tersebut melampaui kemampuan rakyat dengan ekonomi sulit.

“Dengar-dengar Pemerintah Pusat turun tangan gelar operasi pasar. Mestinya pemerintah daerah juga ikutan. Jangan sampai citra Indramayu sebagai lumbung pangan malah masyarakatnya kesulitan beli beras,” saran dia. (kho)