Waduh, Penderita HIV/AIDS di Majalengka Capai 330 Orang

Kabupaten Majalengka
SOBAHI-KARNA-SIKAPI-HIV-AIDSWAWANCARA: Bupati Majalengka Karna Sobahi beri keterangan kepada wartawan usai menghadiri talkshow pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Gedung Graha Sindangkasih Majalengka, Jumat (7/12). FOTO: ANWAR BAEHAQI/RADAR MAJALENGKA

MAJALENGKA – Jumlah Penderita HIV/AIDS di Kabupaten Majalengka sejak 2001 hingga September 2018 mencapai 330 orang. Namun, khusus sampai September 2018 ini, jumlah HIV/AIDS meningkat tajam hingga 56 kasus.

Hal itu menunjukkan peningkatan yang signifikan dari rata-rata 1,5 kasus per bulan menjadi enam kasus per bulan. Hal tersebut merupakan puncak “Gunung Es” yang terlihat hanya puncaknya saja.

“Apabila kita menyelam lebih jauh, akan lebih bayak kita dapatkan, sehingga diperlukan langkah-langkah nyata untuk mengendalikan dan menanggulanginya supaya tidak terjadi kasus luar bisa yang melanda Kabupaten Majalengka ini,” kata Kabag Sosmas Setda Majalengka, Shidarta pada saat Peringatan Hari AIDS Sedunia 2018 dan talkshow pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Gedung Graha Sindangkasih Majalengka, Jumat (7/12).

Menurutnya, Peringatan Hari HIV/AIDS Sedunia yang mengambil tema “Saya Berani Saya Sehat” bertujuan guna mempromosikan layanan untuk tes HIV serta menumbuhkan kesadaran dan pemahaman di masyarakat. “Untuk itu, upanya penanggulangan dan pengendalian HIV/AIDS di Kabupaten Majalengka harus dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan,” ungkapnya.

Sementara itu, Bupati Majalengka Karna Sobahi yang hadir pada kesempatan tersebut menyebutkan, HIV/AIDS merupakan penyakit kronis yang dapat dikelola layaknya penyakit kronis lainnya. Seperti diabetes melitus atau hipertensi.

Sehingga, lanjut Karna, saat ini penderita HIV sudah ada obatnya yakni dengan anti retro viral (ARV). Maka dengan pengobatan ARV dini, katanya, dapat menjaga orang dengan HIV/AIDS (ODHA) tetap sehat dan produktif serta dapat mencegah penularan baru.

Dijelaskan Karna, pelayanan HIV ini juga sudah masuk ke standar pelayanan minimal kesehatan daerah untuk pelayanan kesehatan orang dengan risiko terinfeksi virus HIV.

“Kendati demikian, saat ini orang yang menderita HIV/AIDS masih mendapat stigma di tengah masyarakat. Oleh karena itu, kami mengajak kepada seluruh warga masyarakat Majalengka, untuk jauhi penyakitnya bukan orangnya. Karena mereka awalnya mungkin saja tidak tahu, bahwa telah tertular HIV. Bahkan mungkin juga mereka korban,” tandasnya.

Mantan wakil bupati Majalengka dua periode ini juga meminta agar setiap kecamatan segera membentuk komisi penanggulangan HIV/AIDS. Tujuannya untuk menindaklanjuti penyebaran, sekaligus pencegahan penyakit HIV/AIDS.

“Pembentukan komisi penanggulangan HIV/AIDS ini, tentu saja sebagai solusi untuk menindaklanjuti sekaligus mencegah penyebaran virus HIV/AIDS di Majalengka,” katanya sambil mengatakan jika sudah terbentuk komisi penanggulangan, kecamatan harus memfasilitasi pencegahan maupun pengobatan terhadap pengidap ODHA.

Sementara itu, Kepala Dinkes Majalengka Alimudin mengatakan, akan segera berkoordinasi dengan kecamatan-kecamatan untuk membentuk komisi pemberantasan HIV/AIDS. (bae)