Waduh, Sembako dan Daging di Kabupaten Cirebon Masih Mahal

Waduh, Sembako dan Daging di Kabupaten Cirebon Masih Mahal - Radar Cirebon

CIREBON–Tiga hari setelah Idul Fitri 1439 Hijriyah, harga kebutuhan sembilan bahan pokok (sembako) belum normal bahkan cenderung mengalami kenaikan. Berdasarkan pantauan Radar Cirebon di sejumlah pasar tradisional, harga sembako dan daging rata-rata mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Hal ini karena permintaan masih tinggi, banyak masyarakat yang menggelar hajatan.

Salah satu pedagang Pasar Sumber Hj Eep Uripah mengatakan, lantaran pedagang grosir belum berjualan dan kendaraan pengangkut sayur mayur seperti cabai merah, kentang, telor dan daging ayam belum bisa beroperasi membuat sejumlah komoditas meningkat. “Ini karena belum pada jualan yang grosirnya, jadi barangnya langka dan mahal. Ditambah musim orang hajatan,” ungkap Hj Eep kepada Radar Cirebon.

Disebutkannya, harga daging ayam yang normalnya Rp28 ribu-Rp30 ribu/kg usai Lebaran tembus di harga Rp50 ribu-Rp52ribu/kg. Harga cabai merah pun meroket yakni Rp40 ribu/kg. “Ya masih pada mahal karena belum ada kiriman dari grosirnya. Cabai merah lagi Rp40 ribu/kg malah sebelumnya Rp55 ribu/kg,” kata Hj Eep.

Diungkapkannya pula, naiknya harga kebutuhan pokok membuat daya pembeli menjadi menurun. Dalam artian, naiknya harga sejumlah jenis sayuran mengakibatkan para konsumen, terutama ibu rumah tangga mengurangi kebutuhannya. “Inginnya sih harga terus stabil apalagi tahu sendiri kalau harga terus naik, pembeli juga semakin berkurang,” ungkapnya.

Sementara itu, pedagang daging Pasar Pasalaran Weru Haryati mengungkapkan, saat ini harga daging kambing nomor satu Rp110.000/kg, harga daging sapi Rp130.000/kg dan daging ayam Rp50.000/kg. “Tahun ini memang harganya tak kira-kira, tapi karena musiman yang harganya memang begini saling bersaing,” ujarnya.

Seorang ibu rumah tangga asal Desa Weru Lor Kecamatan Weru, Lili Muslikhah mengatakan, mahalnya harga kebutuhan pokok membuat para ibu rumah tangga kebingungan. “Justru yang pokoknya yang mahal, jadi kitanya dirit-irit,” kata Lili.(via)

Koran Radar Cirebon

Komentar Pembaca