Walah, Pesantren Dirusak Warga, Ini Penyebabnya

Insiden 24 jam
pesantren-dirusak-wargaKondisi Ponpes Miftahul Iman di Desa Segong, Karangkancana, Kabupaten Kuningan, kemarin. Setelah aksi penyerangan, polisi memastikan situasi di lapangan sudah aman dan terkendali.FOTO:M TAUFIK/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN-AS alias Aa sebenarnya sudah ditahan pihak kepolisian. Atas dugaan pencabulan. Tapi, data terbaru tentang jumlah korban pencabulan yang bertambah bikin warga marah lagi. Disebut-sebut ada 12 santri yang menjadi korban pencabulan. Pondok Pesantren Miftahul Iman Desa Segong, Karangkancana, Kabupaten Kuningan, pun jadi sasaran. AS adalah pengasuh di pondok pesantren tersebut.

Data yang dihimpun Radar Cirebon, penyerangan dilakukan puluhan warga dari beberapa daerah sekitar pondok pesantren itu. Mereka kemudian merusak bangunan pesantren, Sabtu malam (22/9). Warga memecahkan kaca kantor dan ruang kelas, mendobrak pintu, merusak pagar, taman, hingga sarana bermain PAUD.

Polsek Ciwaru yang mendapatkan informasi kejadian itu  langsung turun meredam emosi warga. Warga dihalau agar tak melanjutkan perusakan bangunan pesantren. Tak lama kemudian, datang bantuan pengamanan dari Polres Kuningan. Satuan Sabhara diturunkan, dipimpin langsung Wakapolres Kompol Nanang Suhendar dan Kasat Reskrim AKP Syahroni.

Hampir 2 jam puluhan warga berkumpul di lingkungan ponpes tersebut hingga akhirnya dibubarkan oleh petugas. Saat warga bubar, petugas langsung memasang garis polisi mengitari seluruh bangunan pesantren untuk mengamankan aset lainnya.

Kapolsek Ciwaru AKP Suriadi saat dikonfirmasi mengatakan penanganan kasus ini diambil alih Satuan Reskrim Polres Kuningan. Suriadi pun tak bersedia bercerita banyak tentang kejadian tersebut. Tapi ia memastikan situasi di tempat kejadian saat ini telah kondusif. “Kami sudah memasang garis polisi di lokasi kejadian. Penanganannya oleh Polres Kuningan,” ujar Suriadi.

Terpisah, Toto Hidayat selaku ketua RT setempat yang rumahnya bersebelahan dengan Pesantren Miftahul Iman, menceritakan kronologi perusakan tersebut. Aksi itu, kata Toto, terjadi saat warga sedang berkumpul di Balaidesa Segong untuk membahas kelanjutan lembaga pendidikan tersebut. Saat itu ada permintaan dari pengurus pesantren akan melanjutkan kegiatan lembaga pendidikan tersebut kembali ke awal. Yaitu untuk PAUD dan TPA. “Saat rapat warga berjalan, tiba-tiba kami mendapat informasi pesantren diserang. Seketika rapat dihentikan dan seluruh warga berhamburan keluar mendatangi tempat kejadian bersama Pak Kuwu dan perangkat desa lainnya,” ujar Toto.

Ia mengatakan, penyerangan tersebut dilakukan oleh warga desa tetangga yang tak ingin pesantren tersebut kembali beroperasi. Tampaknya warga masih kesal dengan perilaku AS yang telah melakukan pencabulan terhadap santri. Bahkan beredar kabar di masyarakat jumlah korbannya mencapai 12 orang.

“Mungkin warga desa tetangga yang ada salah satu warganya menjadi korban Ustad AS tidak terima pesantren akan dibuka lagi. Saat tahu ada rapat membahas tentang keinginan dari pihak pesantren tersebut, mereka datang dan melakukan perusakan. Jadilah seperti ini,” kata Toto.

Sebenarnya, kata Toto, seluruh warga Desa Segong telah bersepakat tidak ingin pesantren tersebut beroperasi kembali. Hal ini dibuktikan dengan pemasangan spanduk penolakan di gerbang pesantren pada beberapa hari setelah penangkapan AS. “Tidak ada warga Segong yang ikut dalam penyerangan itu. Semuanya sudah sepakat agar pesantren tersebut ditutup selamanya. Mungkin warga desa tetangga tersulut dengan informasi akan dibuka lagi, padahal mah tidak,” tandas Toto.

Toto menjelaskan, sudah lama warga Desa Segong di sekitar Pesantren Miftahul Iman merasa tidak nyaman dengan keseharian AS sebagai pengasuh pondok pesantren. Selain dikenal kurang bermasyarakat, beberapa perilaku AS dalam sehari-hari juga banyak dicibir warga. “Contohnya saat ada warga yang meninggal dan rumahnya bersebelahan langsung dengan pesantren, AS tidak ada perhatian sama sekali. Parahnya lagi, kegiatan pengajian di dalam pesantren kala itu tetap berjalan dengan volume speaker kencang. Jangankan melayat, menghormati warga yang sedang berduka dengan mengecilkan volume speaker saja tidak dilakukannya,” kata Toto.

Selain itu, kata Toto, saat hari raya, warga pesantren memilih menyelenggarakan Salat Id di dalam lingkungan pesantren, sekalipun masjid desa yang digunakan warga jaraknya sangat dekat. Hal ini, kata Toto, bukti AS kurang bermasyarakat dan terkesan memisahkan diri.

Toto melanjutkan, pesantren itu sehari-hari menyelenggarakan pendidikan untuk tingkat PAUD, TPA dan SMP dengan jumlah santri cukup banyak. Pengajar adalah para alumni pesantren. Selain pendidikan, di situ juga menyelenggarakan pengajian rutin setiap Rabu pagi dan malam Jumat untuk warga sekitar dengan AS sebagai penceramahnya. “Peserta pengajian biasanya paling banyak warga dari luar Desa Segong. Karena warga di sini tahu Ustad Aa (AS, red) sehari-hari, jadi hanya beberapa orang saja dari sini yang suka ikut pengajian,” ungkap Toto.

Atas kejadian penangkapan AS saat pulang haji beberapa waktu lalu, Toto mengaku banyak warga yang merasa senang. Bahkan ada yang tidak peduli. Apalagi saat beredar informasi tentang perbuatan cabul sang ustad, ternyata tak hanya dilakukan terhadap satu santri, tapi mencapai 12 orang. “Sempat beredar kabar kalau ada salah satu korban sampai hamil. Tapi sampai saat ini belum ada kepastian siapa orangnya dan dari mana. Dengan disebutkan banyak korban saja, kami sangat kesal sehingga bersepakat tidak ingin lembaga pendidikan ini dibuka lagi,” tutur Toto.

Toto dan warga yang lain mengaku malu desanya tercoreng oleh perilaku AS yang mencabuli santrinya tersebut. “Selama ini Desa Segong dikenal damai dan adem ayem, malah sekarang dihebohkan pencabulan. Pelakunya seorang pengasuh pondok pesantren pula,” kesal Toto. (fik)