Walhi Desak Uji Emisi Pembakar Sampah yang Tersebar di Kabupaten Cirebon

Kabupaten Cirebon
PEMBAKAR-SAMPAH-BUATANBAKAR SAMPAH : Sejumlah pekerja membakar sampah di incinerator. Walhi Jabar mendesak pemerintah melakukan uji emisi alat bakar sampah. FOTO: ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

CIREBON– Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jabar meminta pemerintah melakukan uji emisi untuk alat pembakar sampah (incinerator) buatan yang saat ini tersebar banyak di sejumlah desa di Kabupaten Cirebon. Hal tersebut disampaikan Deputi Walhi Jabar, Dwi Retanstuti ST saat dihubungi Radar Cirebon, Rabu (12/9).

Menurut Dwi, pemerintah sangat perlu melakukan uji emisi untuk alat pembakar sampah yang diklaim disebut incinerator. Karena diyakininya, alat pembakar sampah tersebut masih mengeluarkan emisi berbahaya dan berdampak negatif terutama bagi manusia.

“Harusnya ada instansi pemerintah yang turun dan melihat alatnya. Karena ada asapnya, maka harus dilakukan uji emisi, aman tidak asapnya untuk manusia. Karena saya yakin asapnya ini mengandung dioksin, yang dampaknya sangat negatif terutama untuk tubuh manusia,” ujarnya.

Perempuan yang akrab disapa Rena ini menjelaskan, sampah yang umum di Indonesia sangat rendah nilai kalornya. Di mana ketika dibakar harus ditambahkan bahan atau material lainnya, sehingga tidak ada kestabilan suhu yang membuat potensi munculnya dioksin.

“Suhu untuk alat incinerator ini harus di atas 800 derajat celcius. Kalau suhunya di bawah angka itu bisa berbahaya, bisa muncul dioksin,” imbuhnya.

Dioksin sendiri, menurut Rena, bisa memicu dan menyebabkan munculnya kanker. Sehingga tidak hanya para pekerja atau operator alat pembakar tersebut yang berpotensi terkena kanker melainkan jika dioksin tersbeut jika tertiup angin ke pemukiman dan terpapar manusia maka akan sangat membahayakan sekali.

“Suhu alat-alat yang ada kemungkinan sekitar 300 sampai 400 derajat celsius, ini masih jauh dari idelanya di angka 800, jadi munculnya dioksin sangat mungkin,” jelasnya.

Saat ini, lanjutnya, belum ada laboratorium di Indonesia yang mampu kadar dioksin. Laboratorium yang terdekat menurut Rena ada di Singapura dan itupun biayanya sangat mahal.

“Apalagi kalau sampahnya semua dibakar tanpa pemilihan, ini potensi munculnya dioksin sangat besar, yang paling cocok untuk kondisi Indonesia itu TPS 3R (reduce, reuse, recycle, red) bahkan kalau perlu pakai Biodigester,” paparnya.

Sementara itu, operator alat pembakar sampah di Desa Blender, Rasjan mengatakan, sudah beberapa bulan terkahir bekerja di tempat pembakaran sampah di desa tersebut. Sampah-sampah yang dibakar pun tidak dipilah. Melainkan langsung dibakar baik sampah organik maupun sampah nonorganik.

“Untuk bahan bakar tambahannya kita gunakan gas elpiji, yang disambungkan ke blower dengan aliran listrik, untuk sampah satu gerobak itu bisa habis dalam waktu sekitar satu jam, sisa pembakarannya abu, abunya belum bisa kita manfaatkan,” ungkapnya.

Rasjan menjelaskan, saat mengoperasikan alat tersebut, bersama seorang rekan lainnya tidak menggunakan masker maupun alat untuk melindungi diri lainnya. Tapi, dirinya belum merasakan sakit baik terkait pernapasan ataupun sakit lainnya.

“Sampai sekarang sehat-sehat saja meskipun kadang asapnya tebal, tapi belum pernah sakit. Saya juga tidak pakai masker. Alhamdulillah, alat ini bisa mengatasi persoalan sampah di sini,” ucapnya. (dri)