Warga Kuningan Korban Tsunami Palu Masih Belum Ditemukan

Kabupaten Kuningan
hilangSiti Fatimah menerima telepon dari orang bernama Suryo yang mengabarkan Nining Khoiriyah (kerudung merah) sempat terlihat di sekitar Jembatan Kuning, Palu.FOTO: M TAUFIK/RADAR KUNINGAN

KUNINGAN- Nining Khoiriyah belum juga ditemukan. Alumni SMAN 1 Mandirancan, Kuningan, itu hilang setelah gempa dan tsunami menerjang wilayah Palu, Sulawesi Tengah. Meski demikian, pihak keluarga masih yakin Nining bisa ditemukan. Kemarin muncul informasi terbaru bahwa ada orang yang melihat Nining di sekitar Jembatang Kuning, jembatan kebanggan warga Palu yang juga dihantam tsunami itu.

Siti Fatimah (38), ibunda Nining, mengaku mendapat kabar tentang kemungkinan anak sulungnya itu selamat dari bencana gempa dan tsunami. Fatimah mengatakan, ia mendapat telepon dari seorang mahasiswa teman anaknya di Universitas Tadulako (Untad), Palu, tentang kemungkinan Nining dalam keadaan selamat dan berada  di pengungsian.

Dari foto yang disebar tim pencari dari Kampus Untad, kata dia, diperoleh petunjuk tentang keberadaan Nining dari seorang ibu yang melihatnya pada hari keempat setelah kejadian. “Saya barusan (Selasa, red) dapat telepon dari Suryo, senior Nining di kampus. Katanya ada ibu-ibu melihat Nining pada hari keempat setelah gempa di daerah Donggala Kodi. Ibu itu melihat Nining dengan luka pada bagian kaki. Setelah itu entah ke mana,” kata Fatimah saat dijumpai Radar di rumahnya di Desa Tajur Buntu, Kecamatan Pancalang, Kabupaten Kuningan, Selasa (9/10).

Dijelaskan Fatimah, daerah Donggala Kodi berada tak jauh dari Jembatan Kuning yang kini kondisinya rusak berat akibat dihantam tsunami. Di lokasi tersebut, kata dia, tak jauh dari acara pameran peringatan HUT Kota Palu. “Suryo mengaku melihat Nining di kampus sekitar pukul 17.00 WITA atau setengah jam sebelum kejadian gempa dan tsunami. Dari sana mungkin Nining pergi bersama temannya ke tempat pameran tersebut dan kemudian terjadi gempa,” ungkap Fatimah.

Dengan adanya kabar kemungkinan Nining selamat, Fatimah mengaku sedikit lega dan berharap kabar tersebut benar. Pasalnya, sudah sepuluh hari ini dia tak enak makan dan tidur. Selalu memikirkan anaknya yang hilang sejak kejadian gempa tersebut. “Dia meninggalkan rumah pamannya hanya membawa HP dan mengenakan pakaian biasa. Laptop dan dompet ditinggalkan di rumah,” cerita Fatimah.

Kemungkinan, sambung Fatimah, saat kejadian gempa dan tsunami, Nining panik sehingga telepon selularnya terjatuh dan hilang. “Mungkin HP-nya jatuh. Hilang, jadi gak bisa hubungi keluarga. Ditambah kondisi luka yang dialami (seperti cerita Suryo, red) membuat dia tidak bisa ke mana-mana,” ujar Fatimah.

Fatimah kini masih menunggu kabar baik berikutnya dari Suryo dan pihak kampus Untad. Fatimah yang pernah kuliah di STAIN Palu itu juga meminta bantuan pencarian kepada teman-temannya semasa kuliah dulu. “Kami adakan pengajian tiap malam mendoakan keselamatan Nining. Semoga kabar baik ini menjadi jawaban doa kami dikabulkan oleh Allah SWT bahwa benar Nining selamat dan bisa pulang kembali ke Tajur Buntu dalam keadaan sehat,” harap Fatimah.

Fatimah sendiri sangat berkeinginan berangkat ke Palu mencari keberadaan Nining. Namun karena kondisi ekonomi dan juga situasi di daerah bencana yang belum memungkinkan, membuat dia harus berpikir ulang untuk berangkat.

“Sampai teman-teman saya saat kuliah dulu melakukan penggalangan dana untuk biaya saya berangkat ke Palu. Namun karena kondisi daerah Palu masih sering digoyang gempa, saya belum diperbolehkan berangkat. Saya hanya bisa berdoa semoga anak saya selamat dan bisa pulang,” ucap Fatimah dengan mata berkaca-kaca.

Nining merupakan mahasiswi semester tiga Jurusan Bimbingan Konseling (BK) Universitas Tadulako, Palu. Nining kuliah di Universitas Tadulako setelah mendapat beasiswa dari program Bidik Misi. (fik)