oleh

Warga Salah Paham Poster Kegiatan Cirebon Festival

CIREBON-Ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik dari pelaksanaan HUT ke-650 Kota Cirebon. Mulai dari penanggung jawab pelaksana kegiatan, hingga aspek promosi yang membuat masyarakat salah paham.

Yang pertama soal pelaksanaan kegiatan. Dari sekitar 50 event yang dihelat pemerintah kota, sebagian besar tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD). Tanggung jawab pelaksanaan kegiatan diberikan kepada instansi, komunitas atau siapapun yang menghelat kegiatan terkait dengan hari jadi. Tentu saja, pihak-pihak ini hanya mengandalkan sponsorship dan besar kemungkinan tidak memiliki cukup pendanaan untuk mewujudkan konsep yang dibuat.

Ketua Panitia HUT ke-650 Kota Cirebon Agus Sukmanjaya mengakui, sebagian event itu secara teknis menjadi tanggung jawab pihak penyelenggara.  Pemkot berperan sebagai fasilitator kegiatan dalam rangka menyemarakan hari jadi Kota Cireon. “Event seperti Festival Cirebon dan Festival Empal Gentong itu, secara teknis merupakan tanggung jawab penyelenggara,” katanya kepada Radar Cirebon.

Sejak pelaksanaannya, hingga kini Festival Cirebon juga banyak dikeluhkan karena harga tiket masuk lokasi dan wahana. Soal ini, Menteri Perdagangan RI Enggar Tiasto Lukita sempat menyinggung saat pembukaan, Sabtu (31/9). Disebutkan dia, harga tiket perlu dimaklumi masyarakat. Mengingat acara memang tidak didanai oleh APBD. Melainkan hanya mengandalkan dari pelaksana kegiatan.

Beruntung Festival Cirebon relatif berjalan lancar. Meski ada keluhan soal harga tiket, tapi tidak ada ekses lainnya. Wahana-wahana yang dihadirkan tetap ramai pengunjung. Sementara panitia penyelenggaraan acara Festival Empal Gentong, sempat bermasalah di hari pertama pelaksanaan kegiatan. Masyarakat kecewa karena salah menafsir informasi yang disampaikan lewat poster kegiatan.

Ketua Bidang UKM dan Koperasi Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi), M Sulthon mengklarifikasi, pihaknya sama sekali tidak ada niat sedikitpun untuk mengecewakan masyarakat. Hal tersebut, semata  merupakan kesalahpahaman yang terjadi antara poster yang tersebar dengan persepsi yang ditangkap oleh masyarakat luas.

“Tidak ada sama sekali maksud kita membohongi publik. Atas nama panitia kami mohon maaf kalau ada yang merasa kecewa. Acara ini dipersembahkan untuk masyarakat agar bisa bersama-sama memeriahkan HUT Kota Cirebon,” jelasnya.

Di hari pertama, acara ini banjir protes. Warga yang mendapat pengumuman 31 Agustus dan 1 September ada empal gentong gratis sejumlah 650 porsi, kadung salah paham. Di hari pertama pelaksanaan acara, Sabtu (31/8), mereka rupanya harus membayar Rp25 ribu/porsi. Empal 650 porsi itu, rupanya baru disediakan setelah paripurna DPRD, Minggu (1/9). Warga pun berdesak-desakan mengantre kupon dan menukar dengan satu porsi empal gentong.

Pakar Ilmu Komunikasi, Dr Arief Rachman MSi menilai wajar masyarakat merasa kecewa dan meluapkanya pada media sosial. Kekecewaan muncul karena merasa informasi yang ditangkap berbeda dengan yang terjadi di lapangan.

Masyarakat menganggap panitia tidak memberikan info yang lengkap. Meskipun pada akhirnya, panitia benar membagikan 650 porsi empal gentong yang dijanjikan. “Siapapun yang akan menerima informasi dari poster itu, pasti akan menyangka kalau dalam event itu akan dibagikan empal gentong gratis sejak hari pertama. Tidak ada keterangan apapun terkait detil teknis pelaksanaanya,” ungkapnya.

Bila mengacu pada poster yang beredar, lanjut Arief, kesan yang ditangkap panitia melaksanakanya selama dua hari. Padahal dalam lazimnya poster promosi, selalu mencantumkan “syarat dan ketentuan berlaku” atau “selama persediaan masih ada”. “Sebenarnya dalam salah satu etika periklanan adalah harus ada keterangan yang benar, tdak hanya sebagai bagian dari marketing tapi justru mengesampingkan penerima informasi,” lanjutnya. (awr)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed