Warga Simpayjaya Harus Berjalan 2 Km ke Sungai untuk Mandi dan Cuci

warga-berebut-air-bersih3BEREBUT AIR: Warga Desa Simpayjaya, Kecamatan Karangkancana, Kabupaten Kuningan, berebut air bantuan PDAM Tirta Kemuning, Rabu (18/7). Foto: M Taufik/Radar Kuningan

MUSIM kemarau tahun ini menjadi mimpi buruk bagi warga Desa Simpayjaya, Kecamatan Karangkancana, Kabupaten Kuningan. Belum lagi, fasilitas penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas) rusak akibat longsor, membuat warga Desa Simpayjaya krisis air.

Kini warga tak bisa lagi menikmati kucuran air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan untuk kebutuhan mandi dan cuci pun mereka harus rela berjalan kaki ke Sungai Citaal yang jaraknya sekitar 2 kilometer.

Di sungai berair keruh tersebut kerap dipenuhi warga setiap pagi dan sore hari untuk sekadar mandi dan mencuci pakaian. Sedangkan untuk kebutuhan cuci piring, warga mengambil air dari sumur yang dibuat warga di bibir Sungai Citaal.

Tak mudah warga menjangkau aliran sungai tersebut karena harus menelusuri jalan setapak yang menurun dan berkelok. Permasalahan baru muncul saat perjalanan pulang, karena mereka harus berjalan menanjak sambil memikul jeriken berisi penuh air atau ember pakaian basah.

“Kalau air yang berasal dari sumur dekat sungai masih agak bening sehingga kami bawa ke rumah untuk kebutuhan cuci piring atau mandi. Lumayan melelahkan bawa air dua jeriken penuh setiap pagi dan sore untuk kebutuhan di rumah,” ujar Delon, salah satu pemuda Desa Citaal.

Untuk kebutuhan air minum, Delon mengatakan, keluarganya harus membeli dari penjual air keliling seharga Rp 2.500 per jeriken. Pasalnya sumur-sumur warga di desa tersebut sudah satu bulan ini kering, kalaupun mengeluarkan air hanya sedikit saja.

“Air sumur harus menunggu semalaman, itu pun saat ditimba hanya bisa terkumpul satu hingga dua ember saja. Untuk kebutuhan minum dan masak pun masih kurang,” ujar Delon.

Solusinya, kata Delon, warga terpaksa memanfaatkan air dari Sungai Citaal tersebut. Meskipun jaraknya cukup jauh dan airnya pun keruh karena merupakan pembuangan dari areal persawahan, namun warga tetap menggunakan air tersebut untuk sekadar memenuhi kebutuhan mandi dan cuci saja.

Sementara itu, Kades Simpayjaya Dodo Kusumah mengungkapkan, pihaknya tengah mengupayakan penyedotan air Sungai Citaal tersebut menggunakan jet pump agar lebih dekat ke pemukiman warga. Sebanyak dua sumur dan satu bak penampungan telah dibangun Pemerintah Desa Simpayjaya untuk menampung air Sungai Citaal tadi.

“Sekarang kami sedang membuat dua sumur khusus di bibir Sungai Citaal yang akan ditarik oleh jet pump kemudian ditampung di bak penampungan di dekat masjid. Minimal untuk kebutuhan MCK, warga tak perlu jalan kaki ke sungai,” ujar Dodo.

Dodo mengaku terpaksa mengambil kebijakan tersebut untuk mengatasi masalah kekeringan di desanya itu. Sekalipun dia harus menanggung risiko yang mungkin dialami warga setelah menggunakan air Sungai Citaal yang sebenarnya merupakan aliran pembuangan dari areal persawahan.

“Yang penting ada air dulu, sehingga warga bisa mandi dan cuci tidak usah berjalan jauh. Kalau ada keluhan warga seperti gatal atau lainnya, itu urusan nanti,” tutur Dodo.

Pembangunan saluran air darurat tersebut, kata Dodo, masih dalam proses penggarapan. Dia menargetkan dalam kurun waktu dua atau tiga hari, pengerjaannya bisa selesai.

“Bak penampungannya sudah dibuat di belakang masjid dan sekarang masih basah. Mudah-mudahan dua atau tiga hari lagi sudah bisa mengalir. Sedangkan untuk air bersih, kami mengharapkan bantuan dari pemerintah Kabupaten Kuningan untuk bisa mengirim tiga tangki setiap hari selama musim kemarau tahun ini dan mengupayakan kembali Pamsimas sehingga tahun depan desa kami tidak kesulitan air bersih lagi,” pungkasnya. (fik)