oleh

Welcome To The Jungle..!!!

APAKAH pantas kita menyapa para pendatang Kota Cirebon dengan istilah yang saya tulis dalam judul tulisan ini? hmmm…pantas dan tidak pantas. Pantas, karena suasana Kota Cirebon seperti di rimba dengan sederet kejadian-kejadian kriminalitas. Membuat warga seolah dihantui rasa was-was jika berada di kota ini. Jangankan di tempat sepi, di tengah keramaian pun kita agaknya belum aman betul. Di depan banyak saksi mata warga yang ada di tempat kejadian.

Mulai dari aksi premanisme, tawuran yang seperti “terjadwal” di kawasan Perjuangan, hingga pembunuhan yang melibatkan Geng Motor. Belum genap sebulan aksi tawuran yang melibatkan Geng Motor hingga mengakibatkan pemuda asal Kabupaten Kuningan Moh Indra Jaeni (18) tewas. Sabtu (7/9), seorang santri MA Husnul Khotimah, Muhammad Rozien, asal Kalimantan tewas ditusuk pemuda bertato yang menuduhnya melakukan pemukulan terhadap temannya.

Belum lagi peristiwa-peristiwa kriminal hingga menelan korban jiwa terjadi di beberapa daerah penyangga Kota Cirebon yang kerap melibatkan pemuda tanggung. Premanisme dan geng motor menjadi persoalan serius di Wilayah Cirebon sekarang ini. Setidaknya coba kita cermati kejadian demi kejadian. Bukan di tempat sepi, tetapi di tengah keramaian.

Para pemuda (pelaku) seolah tidak ada rasa takut ketika dia membawa senjata tajam. Pelaku begitu santainya ketika dirinya menusuk si korban lalu dengan santai meninggalkannya, kabur dan merasa tidak akan diusut akibat perlakuannya. Apakah ada yang membekingi setiap melakukan aksi atau kah spontan berjalan dengan sendirinya.

Jadi kondisi ramai tidak menjamin tempat tersebut aman. Terlebih kawasan tersebut lekat sekali dengan aktifitas ekonomi yang pastinya melibatkan banyak orang yang terlibat di dalamnya. Akhirnya kembali lagi, kewaspadaan menjadi prioritas. Siapa saja bisa mengalaminya. Tidak pantas disebut “Jungle“. Pastinya banyak yang protes dengan istilah rimba ini. Saya sebagai warga Kota Cirebon pun setidaknya risih dengan sebutan itu.

Jika mendengar setiap peristiwa awalnya emosi memuncak, memang seperti rimba. Tapi, sudah tidak ada kah yang merasa peduli dengan sederet kejadian kriminalitas itu? Sebagian warga, sudah pasti akan membantu dan merespon cepat setiap kejadian dengan aksi pedulinya sebagai sesama manusia. Tidak bisa disebut rimba jika masih ada warga yang membantu secara kemanusiaan.

Pihak kepolisian setidaknya akan bekerja keras mengungkap kejadian-kejadian tersebut, sambil merumuskan hingga meracik formula bagaimana meminimalisir aksi premanisme tersebut terus-terusan berlangsung yang mengakibatkan korban jiwa. Setidaknya ada tempat mengadu bagi warga yang kesusahan dan mengalami musibah.

Mencari jalan keluar baik dari sisi hukum dan kepantasan. Pihak pemerintah daerah pun melalui dinas-dinas terkait, setidaknya tidak akan tinggal diam guna mengeliminir masalah dan akan terus berupaya melakukan pembinaan dari segi sosial, moral dan agama tentunya. Juga memberikan ruang aman dan nyaman baik untuk warga kota maupun warga pendatang yang melakukan aktifitas di kota wali ini. (sah)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed