WhatsApp Ulang Tahun dan Bagi-bagi Hadiah?

Whatsapp tengah merayakan ulang tahun ke-10 dan membagikan kuota internet gratis sebanyak 35 GB? Hoax

Beberapa hari ini—mungkin juga sudah Anda dapatkan—beredar pesan melalui aplikasi Whatsapp bahwa aplikasi percakapan ini tengah merayakan ulang tahun ke-10 dan membagikan kuota internet gratis sebanyak 35 GB dengan syarat masuk ke dalam tautan yang dilampirkan.

Seorang juru bicara Whatsapp menyatakan bahwa informasi tersebut tidak benar, “Itu hoaks, enggak ada sama sekali. Waspada terhadap link broadcast seperti itu. Pengguna harus teliti terhadap setiap link yang dicantumkan.”

Terkait dengan berita hoax dan himbauan pihak Whatsapp agar Anda harus teliti terhadap pesan-pesan serupa, apakah hal ini mudah untuk dilakukan?

“Orang-orang lebih mengandalkan jawaban intuitif yang langsung muncul di kepala mereka, daripada merenungkan dan mengecek jawaban tersebut benar atau salah,” jelas Steve Sloman, seorang professor ilmu kognitif dari Brown University serta pemimpin redaksi jurnal Cognition.

Menurut Sloman, kelengahan manusia terhadap hal ini adalah kurangnya kesadaran untuk merefleksikan dan memeriksa kembali semua informasi.

“Trik mengatasi berita palsu adalah verifikasi. Jika Anda cukup reflektif maka Anda lebih mungkin melakukan proses tersebut,” tambah Sloman lebih lanjut.

Namun pada kenyataannya tidak semudah itu untuk melihat berita dengan fakta yang keliru, dan ini dikarenakan sifat alamiah manusia untuk menerima apa yang kita baca tanpa mempertanyakan hal tersebut lebih lanjut.

Dilansir dari The New Yorker pada Jumat (25/1/2019), jurnalis Elizabeth Kolbert me-review beberapa penelitian mengenai batasan dalam berpikir jernih dari pikiran seorang manusia, dimulai dari penelitian Stanford 50 tahun lalu.

“Sampai 1970-an, sekelompok akademisi berpendapat bahwa orang-orang tidak dapat berpikir jernih. Pendapat yang mengejutkan,“ tulis Kolbert. “Namun tidak lama setelahnya, ribuan hasil eksperimen mengonfirmasi pendapat tersebut.”

Penyebab merosotnya logika

Ada sejumlah penjelasan mengenai kegagalan menyerap logika, menyebabkan kita rentan terhadap berita keliru yang menyebar seperti virus dan menginfeksi pemahaman kita terhadap apa yang nyata dan tidak.

Salah satu konsep psikologi yang relevan adalah “Motivated reasoning” tulis Adam Waytz, profesor manajemen dan organisasi dari Northwestern’s Kellogg School.

Berita palsu dibuat senyata mungkin agar mudah mengecoh.

Motivated reasoning adalah konsep yang menyatakan bahwa kita termotivasi untuk percaya pada apapun yang menyetujui dan sejalan dengan pendapat kita.

“Jika anda termotivasi untuk mempercayai hal-hal negatif mengenai Hillary Clinton (ataupun Donald Trump), Anda akan cenderung mempercayai berita buruk mengenai dia,“ ujar Waytz.

“Seiring dengan waktu, motivated reasoning dapat berujung pada konsesus sosial yang keliru.”

Konsep lainnya adalan “naïve realism,” konsepsi mengenai pandangan yang kita miliki adalah satu-satunya yang akurat. Gagasan tadi menambah polarisasi dalam diskusi politik. Bukan tidak menyetujui orang lain, kita malah menolak pandangan mereka.

“Kita cepat mempercayai apa yang telah memotivasi kita untuk percaya, dan kita seringkali menyebut suatu berita sebagai hoax hanya karena berita tersebut tidak mendukung pandangan kita mengenai sebuah realitas,” ungkap Steve Sloman.

Riset Sloman fokus pada gagasan bahwa pengetahuan itu menular. Sebagaimana tertuang dalam buku Sloman berjudul The Knowlege Illusion: Why We Never Think Alone (Ilusi Pengetahuan: Mengapa Kita Tidak Pernah Berpikir Sendirian).

Steven Sloman mempublikasikan artikel berjudul “Your Understanding Is My Understanding” dalam jurnal Ilmu Psikologi. Dalam eksperimen berbasis web tersebut, yang menguji 700 relawan, Brown dan Rabb (turut serta dalam penulisan jurnal) membuat berita mengenai fenomena hujan helium yang ditemukan oleh para ilmuwan.

Suatu waktu, mereka mengatakan pada para relawan bahwa ilmuwan-ilmuwan tadi tidak terlalu mengerti untuk dapat menjelaskan apa yang terjadi dalam fenomena tersebut, sebelum menanyakan penilaian para relawan terhadap pemahaman mereka.

Hasilnya, para relawan mengaku tidak memahami mengenai fenomena tersebut. Sebagian besar dari mereka menilai pemahaman mereka terhadap fenomena tadi dengan angka yang rendah.

Dalam penelitian kedua, Sloman dan partnernya mengatakan pada para relawan bahwa ilmuwan-ilmuwan yang terlibat, memahami dan dapat menjelaskan fenomena tersebut dengan baik.

Saat para relawan ditanya mengenai pemahaman mereka terhadap fenomena tadi, kelompok relawan ini mengungkap jawaban yang berbeda dengan penelitian sebelumnya.

Banyaknya informasi membuat manusia tertipu dengan berita palsu.

Pemahaman para relawan dalam eksperimen kedua meningkat satu angka. Fakta tentang pemahaman para ilmuwan membantu mereka merasa paham juga, jawab Sloman.

Gagasan ini bisa dengan mudah diterjemahkan ke dalam dunia politik.

“Sepertinya pemahaman menular,” ujar Sloman. “Jika semua orang di sekitar Anda mengatakan bahwa mereka mengerti mengapa seorang politisi korup, hanya dengan menenton sebuah video dari YouTube, lalu Anda akan berpikir bahwa Anda memahami hal tersebut juga,” ujar Sloman.

Cara untuk melawan

Setelah mengetahui apa saja yang membuat kita rentan terhadap berita palsu, kini muncul pertanyaan baru. Adakah cara untuk mempertahankan diri kita dari kepalsuan tersebut?

“Saya kira mungkin saja melatih orang-orang untuk mem-verifikasi apapun yang mereka temukan. Hanya saja, terlalu manusiawi untuk percaya apa yang kita dengar tanpa mempermasalahkannya,” ujar Sloman.

Bagaimanapun juga, Sloman mengatakan bahwa Ia melihat adanya potensi dalam melatih masyarakat untuk peduli dengan proses verifikasi.

Coba bayangkan headline dari segala cerita yang dibagikan di laman media sosial Anda setiap hari, sebagian besar, sesuai dengan cara Anda memandang dunia. Sloman mengimbau agar masyarakat mulai mencoba untuk melakukan cek dan ricek lebih sering lagi.

Hanya dibutuhkan satu orang untuk berkomentar mengenai satu hal dengan pandangan yang berbeda.

“Kembangkan sebuah norma di masyarakat yang menyatakan, ‘kita harus meninjau ulang sesuatu sebelum menelannya mentah-mentah’,” ujar Sloman.

Verifikasilah sebelum Anda (terlanjur) percaya.

Yuk! Baca Juga, Berita Terkaitnya

Terkini Lainnya