Wisata Ziarah dan Pentingnya Makam Bagi Orang Cirebon

Wisata ziarah atau pilgrimage tourism adalah wisata atau traveling yang dilakukan individu atau kelompok untuk tujuan ziarah atau untuk menjalankan bagian dari kepercayaan spiritual atau agamanya, untuk misionari, atau untuk kesenangan spiritual.

Menurut data World Tourism Organization, situs-situs ziarah masih menjadi tujuan utama para wisatawan seluruh dunia. Setiap tahun sekitar 330-350 juta wisatawan dari berbagai macam agama dan kepercayaan mendatangi situs-situs ziarah di seluruh dunia.

Satu bentuk baru dari wisata ziarah adalah secularism tourism atau wisata sekuler, yakni wisata ziarah yang bukan berdasarkan motif agama atau kepercayaan adat, tetapi karena latar belakang ikatan spiritual, kekaguman, dan popularisme.

Di Cirebon, banyak terdapat situs peziarahan Islam. Satu di antaranya adalah makam Sunan Gunung Jati. Kompleks makam seluas 5 hektare yang telah berusia lebih dari enam abad itu terdiri dari sembilan tingkat pintu utama, yakni pintu Lawang Gapura di tingkatan pertama, pintu Lawang Krapyak, Lawang Pasujudan, Lawang Gedhe, Lawang Jinem, Lawang Rararoga, Lawang Kaca, Lawang Bacem, dan Lawang Teratai di puncak kesembilan.

Wisatawan hanya diizinkan berkunjung sampai bangsal Pesambangan, di depan pintu Lawang Gedhe, di tingkatan pintu keempat. Sedangkan pintu kelima sampai kesembilan terkunci rapat, hanya sesekali dibuka khusus bagi anggota keluarga Kerajaan Cirebon, atau orang yang mendapat izin khusus dari Keraton Kasepuhan Cirebon dan Keraton Kanoman.

Dalam Ziarah dan Wali di Dunia Islam (2010), Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot mencatat bahwa di Pulau Jawa terdapat puluhan ribu makam orang-orang Islam yang dihormati dengan jumlah pengunjung berbeda-beda antara yang satu dengan lainnya. Makam Wali Songo menjadi situs yang paling populer dikunjungi pejiarah.

Makam para wali ini dikunjungi oleh peziarah yang datang dari seluruh Indonesia, baik secara perorangan, berkeluarga atau berombongan 50 sampai 60 orang. Pada bulan Rabiulawal, lalu lintas peziarah tiada hentinya, ribuan pengunjung datang setiap hari selama bulan itu.

Di Gunung Jati (Cirebon) dan Gunung Kawi (Malang), jumlah peziarah melebihi 150.000 selama periode yang sama. Di tempat makam Sunan Muria, para pengunjung berdatangan sepanjang tahun dalam jumlah yang besar sehingga waktu yang diberikan kepada masing-masing orang untuk berdoa dibatasi.

“[Para peziarah] dikelompokkan dalam grup-grup sebesar sepuluh orang, dibatasi secara ketat hanya empat menit, dan diumumkan dengan bunyi bel,” tulisnya.

Dalam batas yang lebih jauh, penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap suci bahkan kerap ditandai dengan memuliakan petilasannya, yakni makam yang tanpa ada jasad dipendam, melainkan penanda bahwa tokoh tersebut sempat singgah di tempat itu.

Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot menyebut tokoh seperti itu adalah tokoh-tokoh rekaan, sebab identitasnya diragukan. Selain petilasan, yang terbanyak, tulis mereka, adalah makam yang diyakini karena konon berisi tulang-belulang seorang ‘wali’ Islam yang menyandang nama yang sangat umum.

“Seperti misalnya Syekh Abdul Rahman atau Abdul Rahim (berasal dari ungkapan Bismillah irrahman irrahim) dan yang riwayat hidupnya amat pendek dan penuh klise—seorang mubalig asal Arab yang pernah mengislamkan desa atau daerah sekitarnya,” tulis Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot.

Penghormatan terhadap makam tokoh-tokoh terkenal tentu tak hanya terjadi di Jawa. Di Sumatera, pada abad ke-17, seperti dicatat oleh Henk Schulte Nordholt dkk (ed), dalam Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia (2008), makam raja-raja Aceh dan ulama-ulama terkenal senantiasa dirawat.

Sultanah Safiat al-Din Taj al-Alam (1641-1675) menaburi makam ayahnya, Sultan Iskandar Muda, dengan emas dan batu manikam serta mengupah lima belas orang perempuan untuk menjaganya setiap hari. Para penjaga itu memanjatkan doa sambil membakar kemenyan. Sementara Iskandar Thani, suami Safiat, mengungkapkan dalam suratnya kepada Stadhouder Frederik Hendrik mengenai makam bertabur emas yang sudah disiapkan baginya.

Dalam pelbagai bentuknya, penghormatan kepada para tokoh yang dilakukan orang-orang, menurut Henri Chambert-Loir dan Claude Gulillot dalam Ziarah dan Wali di Dunia Islam (2010) adalah sebagai jembatan bagi yang masih hidup dengan alam yang tak bisa ia jangkau.

“Manusia sesungguhnya paling takut menghadapi dalam kesendirian ujian maut yang menandai ajalnya. Untuk membantunya melangkahi batas yang penuh bahaya antara hidup dan mati itu, dia mengandalkan orang yang telah mendahuluinya, yang dianggap memegang kunci rahasia agung itu,” tulisnya.

Mereka menambahkan bahwa para wali, raja, ulama, kiai, yang telah melalui jalan pengalaman manusia biasa, sekaligus diketahui telah berhasil mengatasi segala kendala dan mencapai dunia seberang dengan baik, memiliki semua syarat yang dibutuhkan untuk mengambilalih fungsi para leluhur.

Di luar tradisi Islam di Nusantara, kematian para leluhur dan tempat mereka bersemayam di alamnya yang baru, juga menjadi sesuatu yang penting bagi mayoritas etnis yang telah meninggali kepulauan ini sejak lama.

Anne Schiller dalam “How to Hol a Tiwah: The Potency of the Dead and Deathways among Ngaju Dayaks” yang dihimpun di buku The Potent Dead: Ancestors, Saints and Heroes in Contemporary Indonesia (2002), mencatat bahwa Tiwah adalah upacara terpenting dalam ritus kematian masyarakat Dayak Ngaju. Bagi suku ini, orang mati dianggap sebagai sumber potensial karuhei tatau—istilah yang mengacu pada pengetahuan esoteris yang membawa nasib baik dan kekayaan.

Dalam upacara ini, jasad leluhur yang mati mula-mula dikubur dalam peti kayu berbentuk lesung atau raung, yang dianggap sebagai pemakaman sementara. Beberapa tahun kemudian, pada upacara Tiwah, tulang belulang tersebut digali kembali, dibakar, dan abunya ditaruh pada suatu bangunan kayu yang disebut sandung, yakni bangunan tinggi yang dihiasi ukiran-ukiran indah yang dianggap sebagai makam yang tetap. Sandung umumnya dibangun di pekarangan rumah.

Setelah seluruh rangkaian upacara dilaksanakan, menurut M. Junus Melalatoa dalam Ensiklopedi Suku Bangsa di Indonesia (1995) roh yang meninggal dianggap akan sampai di alam abadi di dunia roh. Sebelum Tiwah dilaksanakan, mereka yakin roh leluhur yang meninggal belum sampai ke dunia roh dan masih bisa kembali gentayangan ke sekitar kediaman kerabat yang masih hidup.

“Oleh sebab itu orang yang belum melaksanakan Tiwah bagi kerabat, terlebih orangtua dan leluhurnya, akan tetap merasa berutang dan tidak tenang sebelum melaksanakan kewajibannya, yaitu menyelenggarakan upacara Tiwah,” imbuhnya.

Dalam kehidupan suku-suku lainnya di Nusantara, seperti dilakukan oleh suku Dayak Ngaju, kematian dan kuburan selalu menjadi ritus dan tempat penting dalam kehidupan yang terus berlangsung.

Mereka yang mati, tidak lantas mewujud menjadi masa lalu dan gampang dilupakan. Melainkan terus dikenang dan dihormati. Di titik ini, apa yang dilakukan Sandiaga Uno dengan melangkahi makam merupakan sebuah laku tak patut, setidaknya bagi mereka yang menghormatinya. (*)