oleh

17 Warga Dipenggal di Afghanistan

Serangan Taliban Juga Tewaskan 10 Tentara Lokal-Dua Serdadu AS

JADI SASARAN. Tentara AS membersihkan berbagai mortir di Pangkalan Operasi Teruskan Joyce, Provinsi Kunar, Afghanistan. Keberadaan mereka selalu menjadi incaran Taliban.

KANDAHAR– Taliban kian gencar melancarkan aksi brutal. Kemarin (27/8) kelompok militan Afghanistan itu memenggal kepala 17 warga yang kedapatan berpesta di wilayah selatan negara itu. Dalam dua serangan lain yang terpisah, Taliban juga menjadi dalang di balik tewasnya 10 serdadu Afghanistan dan dua tentara Amerika Serikat (AS).

“Dua perempuan dan 15 pria tewas dengan kepala terpenggal. Sebelumnya, mereka menggelar pesta dengan iringan musik di wilayah yang berada di bawah kekuasaan Taliban,” ungkap Daud Ahmadi, jubir kantor gubernur Provinsi Helmand. Dia yakin Taliban berada di balik aksi itu. Meski begitu, aparat tetap melakukan penyelidikan atas insiden pemenggalan kepala tersebut.

Menurut Nematullah Khan, kepala Distrik Musa Qala, sebelum Taliban melancarkan aksinya, sejumlah warga di wilayahnya berpesta pada Minggu malam (26/8). Dua perempuan yang menjadi korban Taliban dalam aksi dini hari kemarin teresbut, kabarnya, adalah penari dalam pesta. “Pesta dengan mengundang penari perempuan gipsi sebenarnya cukup sering terjadi di wilayah ini,” tuturnya.

Khan menuturkan, Taliban memang menentang keras dan melarang pesta dengan iringan musik dan tari-tarian. Belakangan, Taliban secara gencar melakukan razia karena menganggap pesta seperti itu haram atau melanggar agama. Jika menemukan sekelompok pria yang sedang berpesta dengan penari, Taliban akan langsung beraksi. Mereka pun mengakhiri pesta dengan membunuh para pesertanya.

Taliban juga menentang keras seluruh aksi yang dinilai tidak sesuai dengan ajaran Islam. Terutama, bersekongkol dengan pasukan asing dan menjadi mata-mata mereka. Saat memerintah di Afghanistan pada 1996-2001, Taliban malah melarang perempuan dan laki-laki yang tidak terikat oleh pernikahan atau hubungan kekerabatan untuk berkumpul atau berada di tempat yang sama.

Haji Musa Khan, salah seorang tetua di Musa Qala, mengatakan bahwa aksi pemenggalan kepala makin marak sejak pasukan AS dan Afghanistan melancarkan operasi anti-Taliban. Aksi Taliban memuncak saat Ramadan lalu. “Taliban memenggal kepala tiga warga ketika Ramadan. Lalu, belum lama ini, seorang pria lagi, putra salah seorang tetua, juga dipenggal,” bebernya.

Beberapa jam setelah melancarkan serangan di wilayah selatan Afghanistan itu, Taliban juga melanjutkan aksinya di perbatasan Distrik Helmand dan Distrik Washir. Mereka menyerang pos militer yang dijaga pasukan Afghanistan dan menewaskan 10 serdadu. “Empat tentara terluka dan enam lainnya hilang dalam serangan itu,” lapor Kolonel Mohammad Ismael Hotak, pejabat kepolisian setempat.

Secara terpisah, dua tentara AS yang tergabung dalam pasukan NATO juga tewas oleh Taliban. Mereka menjadi korban serdadu Afghanistan yang bersekongkol dengan Taliban. Serangan di timur Provinsi Laghman itu dikenal dengan istilah green-on-blue karena Taliban melibatkan orang dalam. “Tentara NATO melakukan perlawanan dan berhasil membunuh pelaku,” terang Brigjen Gunter Katz, jubir NATO.

Kendati aksi seperti itu kian marak, NATO berjanji tidak akan mengendurkan operasi di perbatasan Afghanistan. Bahkan, aksi antimilitan tidak akan membuat hubungan NATO dan militer Afghanistan renggang. “Saya tegaskan lagi bahwa semua ini tidak akan membuat kami mengubah hubungan yang sudah terjalin atau program yang berjalan,” tandas Katz.  (AP/AFP/hep/dwi)

News Feed