2 Minggu, Tangkap 10 Pelaku Narkoba

Satreskoba Polres Cirebon Kota mengungkap 8 kasus narkotika jenis sabu dan obat-obatan terlarang daftar G. Total, polisi meringkus 10 orang tersangka dengan barang bukti total sebanyak 24,6 gram sabu dan 2.750 butir obat-obatan farmasi dengan berbagai macam jenis dan merk. FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
Satreskoba Polres Cirebon Kota mengungkap 8 kasus narkotika jenis sabu dan obat-obatan terlarang daftar G. Total, polisi meringkus 10 orang tersangka dengan barang bukti total sebanyak 24,6 gram sabu dan 2.750 butir obat-obatan farmasi dengan berbagai macam jenis dan merk.FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON

CIREBON-Jajaran Satreskoba Polres Cirebon Kota mengungkap 8 kasus narkotika jenis sabu dan obat-obatan terlarang. Total, polisi meringkus 10 orang tersangka dengan barang bukti total sebanyak 24,6 gram sabu dan 2.750 butir obat-obatan farmasi dengan berbagai macam jenis dan merk.

Para tersangka yang ditangkap antara lain S (40) dan SR (32) warga Jalan Pancuran, Kelurahan Sukapura, Kecamatan Kejaksan, Kota Cirebon, RA (47) warga Desa Pilangsari, Kedawung, Kabupaten Cirebon, SM (37) warga Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, dan MR (32) warga Desa Kedungjaya, Kecamatan Kedawung, Kabupaten Cirebon.

Selain itu, polisi juga meringkus tersangka PH (37) warga Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, VV (24) warga Kelurahan Drajat, Kecamatan Kesambi, Kota Cirebon, M (36) warga Kelurahan Jagasatru, Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon, dan MJ (39) serta S (41) warga Kelurahan Kecapi, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon.

Kapolres Ciko AKBP Roland Ronaldy mengungkapkan, para tersangka ditangkap dalam kurun waktu 2 pekan. Mereka ditangkap di sejumlah lokasi berbeda di Kota Cirebon. “Total yang berhasil kita ungkap ada 8 kasus dan barang bukti sebanyak 24,6 gram sabu dan 2.750 butir obat-obatan farmasi tanpa ijin edar,” ujarnya di Mapolres Cirebon Kota.

Selain para tersangka, polisi juga menyita sejumlah barang bukti berupa alat hisap, dan sejumlah telepon seluler sebagai alat komunikasi. Dalam praktiknya, para pengedar narkotika jenis sabu menggunakan modus tempel, yakni meletakkan barang haram di lokasi tertentu setelah menerima pesanan. “Kemudian pembeli mengambil barang tersebut, jadi mereka tidak saling kenal dan tidak pernah bertemu tatap muka,” ujar Roland.

Adapun peredaran obat-obatan terlarang lebih banyak bertransaksi dengan cara Cash on Delivery (COD) atau bayar di tempat. Para pengedar dan pembeli biasanya sudah beberapa kali melakukan transaksi.  Mantan penyidik KPK itu menjelaskan, maraknya peredaran narkotika di Kota Cirebon lantaran kota udang ini merupakan wilayah perlintasan.

Tidak sedikit warga yang masuk dan keluar melalui Kota Cirebon untuk menuju kota lain. “Dan kita mempunyai berbagai macam akses mulai dari pelabuhan, stasiun kereta api dan terminal,” kata Roland. Ironisnya, hingga kini, beberapa pintu masuk dan keluar akses Kota Cirebon belum dilengkapi alat pengeman, seperti pintu x-ray.

Hal ini memudahkan para pelaku untuk mengedarkan barang haram tersebut ke kota wali ini. “Dan kami sudah koordinasi dengan pihak-pihak tersebut tetapi memang membutuhkan waktu untuk menyediakan fasilitas pengamanan tersbut,” ucapnya. (day)

Berita Terkait