Adieu Henry

oleh -10 views
(foto: afp) SERAGAM BARU . Thierry Henry memakai kostum klub MLS New York Red Bulls dengan nomor keramatnya, 14.

(foto: afp) SERAGAM BARU . Thierry Henry memakai kostum klub MLS New York Red Bulls dengan nomor keramatnya, 14.

Fokus Klub, Pensiun dari Timnas

NEW YORK– Publik Prancis harus mengucapkan adieu (selamat tinggal) kepada kapten timnas Thierry Henry. Seiring kepindahannya dari Barcelona ke New York Red Bulls, striker 32 tahun itu menyatakan pengunduran diri dari timnas. Alasan utama Henry, dia ingin konsentrasi membela klub barunya.
Henry mengutarakan niat itu dalam konferensi pers yang dihelat di kantor Associated Press Kamis malam lalu (kemarin dini hari, WIB). Menurutnya, bermain di Amerika Serikat (AS) selagi masih menyandang status sebagai pemain timnas akan sangat merepotkan. Dia harus siap hilir mudik dari AS ke Eropa tiap kali Prancis melakoni laga internasional.
“Saya selalu ingin berada di sini (AS, Red) seratus persen. Saya ingin menghormati komitmen dengan klub dan organisasi MLS dengan tetap tinggal di sini, meskipun sedang ada agenda internasional,” ungkap Henry. “Saya tidak siap bolak-balik ke Eropa seperti halnya yang dilakukan David Beckham dulu,” lanjutnya.
Sampai saat ini, Henry merupakan top scorer sepanjang masa timnas Prancis. Dari 123 caps, anggota skuad juara dunia 1998 itu sudah menyumbangkan 51 gol. Sayang, penampilan pemungkasnya buat Les Bleus berakhir pahit. Dia turun selama 35 menit kala Prancis menghadapi Afrika Selatan di Piala Dunia 2010. Kehadirannya tak mampu menyelamatkan Prancis dari kekalahan 1-2. Walhasil, Les Bleus harus pulang tanpa mencicipi babak knockout.
Nah, keputusan Henry untuk gantung sepatu dari timnas yang cukup mendadak memantik berbagai spekulasi. Yakni terkait dengan bobroknya prestasi Prancis di Piala Dunia. Banyak yang menuduh dia sebagai otak perpecahan tim, yang berakibat pada buruknya performa Les Bleus di lapangan.
Ya, sehari menjelang laga hidup mati melawan Afsel, pemain Prancis malah mogok latihan. Pemicunya, pelatih Raymond Domenech memulangkan striker Nicolas Anelka yang bersikap kasar. Bocoran yang beredar dari orang dalam timnas, Henry yang mengompori rekan-rekannya untuk menolak latihan. Ini ironis, mengingat dia masih berstatus sebagai kapten tim, plus sebagai salah satu pemain paling senior.
Namun, dengan tegas Henry menepis kemungkinan tersebut. Menurut dia, apa yang terjadi di Afsel sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan keputusannya pensiun. Apalagi, lanjut Henry, masalah pensiun sudah terpikir sejak jauh hari, bahkan sebelum Piala Dunia dimulai.
“Kejadian di Afsel tidak berkontribusi pada keputusan saya. Sudah lama saya ingin berhenti dari timnas. Hanya saja, saat itu saya tidak bisa mengatakannya, karena hal-hal semacam itu memang tidak pantas diumumkan sesaat menjelang Piala Dunia,” papar mantan bintang Arsenal tersebut.
Akhir karir Henry di timnas memang tidak bisa dikatakan manis. Bukan hanya itu kelakuan buruk yang mencoreng citra juara dunia 1998 dan Euro 2000 tersebut. November silam, dia menjadi musuh nomor satu publik Irlandia lantaran melakukan double handball dalam playoff kualifikasi Piala Dunia. Dengan pindah ke New York, dia sadar bakal menemukan komunitas Irlandia yang besar di kota tersebut. Namun, Henry tidak gentar.
“Setelah pertandingan itu, saya sudah minta maaf. Saya bahkan minta maaf kepada publik Irlandia yang menonton di tribun,” ungkap Henry. “Tapi, wasit tidak meniup peluit, maka saya tidak bisa menghentikan pertandingan. Dalam hal ini bukan saya yang salah,” kilah dia.
Dia lalu membandingkannya dengan gol Luis Fabiano saat Brazil melawan Pantai Gading di penyisihan Grup G Piala Dunia. “Aneh kan kalau Fabiano bisa mencetak gol yang juga berbau handball, tapi tidak ada yang protes. Memang seperti itulah pertandingan. Kita tidak menyalahkan pemain atas kesalahan semacam itu,” tandas pemain yang akrab disapa Titi itu.
Selanjutnya, Henry tidak khawatir bahwa pengunduran dirinya dari timnas akan banyak berpengaruh pada prestasi Les Bleus. “Prancis masih punya banyak pemain hebat. Kalau kalian lihat pemain-pemain kami bermain secara individu di klub, kualitas mereka tidak meragukan. Tapi memang ada masalah dalam pembentukan tim di timnas, dan saya yakin Laurent Blanc sebagai pelatih baru mampu mengatasi masalah itu,” tegas Henry. (na)