SMA Negeri 4 Terapkan Subsidi Silang

oleh -14 views
CEGAH DROP OUT. SMAN 4 menerapkan subsidi silang antara si miskin dan si kaya, dibebankan sesuai kemampuan penghasilan orangtua murid, kemarin (16/7).

CEGAH DROP OUT. SMAN 4 menerapkan subsidi silang antara si miskin dan si kaya, dibebankan sesuai kemampuan penghasilan orangtua murid, kemarin (16/7).

PERJUANGAN – Menepis anggapan bahwa sekolah hanya milik warga yang punya uang, SMAN 4 Kota Cirebon memberlakukan subsidi silang kepada siswa yang kurang mampu. Cara ini sebagai bagian strategi sekolah dengan orangtua siswa dan komite sekolah, untuk menekan angka drop out.
“Kami tak mau melangkah dulu. Tetapi setelah dirapatkan dengan komite sekolah belum lama ini, semua biaya dibebankan kepada anak dengan besaran bervariasi, ada Rp2 juta, Rp1,5 juta, Rp1 juta atau bahkan gratis. Sistem ini kami sebut subsidi silang,” kata Wakasek Kesiswaan SMAN 4, Drs Irman Darojat ditemui di ruang kerjanya, kemarin (16/7).
Pihaknya juga memastikan, subsidi silang ini tidak memengaruhi fasilitas dan pelayanan yang diberikan kepada siswa yang iurannya besar atau kecil, semua siswa diperlakukan sama dalam hal fasilitas dan pelayanan belajar. “Para siswa akan diberikan perlakuan yang sama,” ucap dia.
Selain itu, Irman mengaku, satu minggu ini agenda masa orientasi siswa SMAN 4 memiliki agenda penuh, di antaranya Senin-Rabu telah dijadwal untuk pengenalan sekolah, Kamis untuk pengenalan ekskul, Jumat pengenalan lingkungan, dan Sabtu untuk ESQ. “Kami secara penuh memberikan materi MOS ini kepada siswa satu minggu penuh, tak ada waktu kosong,” ucap dia.
Namun Ghifari dan Wildan, siswa baru SMAN 4 itu  membantah, jika MOS berjalan sukses. Menurutnya, pelaksanaan MOS kurang berkualitas. Bahkan, setelah pelaksanaan MOS pada hari Kamis dan Jumat, lanjutnya, banyak waktu yang tidak dimanfaatkan sebaik mungkin, karena pihak sekolah melepas begitu saja.
“Sebenarnya saya kurang senang dengan waktu kosong pasca MOS ini, seperti tidak ada kegiatan saja. Ada yang ke kantin, ada yang pulang, ada juga yang ikut kegiatan, sekolah tidak tegas,” tutupnya. (ung)