Warna Air Kotor, Ditumbuhi Lumut dan Jentik Nyamuk

oleh -14 views
TERBENGKALAI. Kondisi kolam renang Catherine Surya milik Pemkot Cirebon sangat memprihatinkan, tidak terawat dengan baik.

TERBENGKALAI. Kondisi kolam renang Catherine Surya milik Pemkot Cirebon sangat memprihatinkan, tidak terawat dengan baik.

Pada era tahun 1990-an dan awal tahun 2000, Kota Cirebon memiliki atlet renang yang patut dibanggakan, karena mampu mengukir berbagai prestasi di tingkat nasional, yakni Catherine Surya. Bahkan, hingga saat ini, belum ada yang mampu menandingi prestasi yang diraih Catherine Surya.

Imam Bukhori, Cirebon

SEBAGAI bentuk penghargaan terhadap prestasi yang ditorehkan Catherine Surya, Pemkot Cirebon membangun kolam renang di kompleks olahraga Sunyaragi dengan nama kolam renang Catherine Surya. Sayangnya, kolam renang kebanggaan masyarakat Kota Cirebon itu, saat ini kondisinya sangat memprihatinkan.
Bagaimana tidak, air kolam renang yang biasa dijadikan tempat untuk berlatih para atlet, kotor dan berwarna hijau serta ditumbuhi lumut dan jentik nyamuk. Bahkan, di kolam yang biasanya untuk latihan lompat indah, berwarna hitam serta sampah memenuhi air kolam.
Tidak hanya itu, tribun penonton, selain sudah banyak yang retak, juga ditumbuhi rumput liar. Sekeliling kolam pun banyak pepohonan dan semak belukar yang tidak terawat dengan baik.
Melihat kondisi itu, sontak saja membuat Wakil Walikota H Sunaryo HW SIP MM marah dan geram. Menurutnya, kondisi kolam renang Catherine Surya yang memprihatinkan tersebut disebabkan kesalahan dalam pemeliharaan.
“Saya sangat kecewa melihat kondisi kolam renang seperti ini, apalagi saya pernah menjadi bagian dari Persatuan Renang Seluruh Indonesia (PRSI) Kota Cirebon. Menurut saya, ini disebabkan karena terjadi salah urus, sehingga menjadi terbengkalai,” kata dia kepada Radar saat meninjau kolam renang Catherine Surya, Jumat (16/7).
Saking geramnya, Wawali menyamakan kolam renang itu dengan Balai Benih Ikan (BBI) milik Pemkot Cirebon yang ada di kawasan Grenjeng. Padahal, keberadaan kolam renang tersebut menjadi kebanggaan dan penghargaan atas prestasi Catherine Surya yang telah mengharumkan nama Kota Cirebon di pentas nasional bidang olahraga renang.
“Tetapi, kalau kita melihat kondisinya seperti sekarang, kita jadi malu dengan Catherine Surya. Padahal kita tahu kolam renang ini sebenarnya telah memenuhi standar internasional untuk latihan maupun pertandingan,” ujar dia.
Mantan ketua DPRD ini menyatakan, kondisi kolam renang yang sangat memprihatinkan tersebut, terkesan ada aksi pembiaran, kurangnya kepedulian, dan kelalaian dari semua pihak untuk memelihara. Oleh karena itu, Wawali meminta agar dilakukan pembicaraan ulang tentang pemeliharaan kolam renang yang sudah mulai rusak tersebut.
“Jika kendala dalam pemeliharaan adalah anggaran, maka harus diajukan melalui APBD. Kolam renang ini aset dan harus dijaga serta dipelihara secara bersama-sama,” kata Sunaryo.
Meski kondisinya sudah berangsur rusak, namun dirinya yakin kolam renang tersebut masih bisa diselamatkan, asal ada kemauan dari semua pihak. Sebab, lebih baik memelihara yang sudah ada dibandingkan harus membangun yang baru.
“Mungkin kalau saat ini Pemkot Cirebon diminta untuk membangun sarana olahraga seperti di kompleks olahraga Sunyaragi belum tentu mau. Sehingga daripada membangun, maka lebih baik memelihara yang sudah ada tentu lebih murah biayanya,” katanya.
Langkah pertama yang bisa dilakukan untuk memulai menyelamatkan kolam renang adalah menginventarisir permasalahan yang ada. Setelah itu, barulah dicarikan solusi bagaimana memecahkan persoalan tersebut. “Bisa saja keberadaan kolam renang ini dikerjasamakan dengan pihak ketiga agar bisa lebih terawat dengan baik,” tandas dia.
Terpisah, Kabid Pemuda dan Olahraga Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Periwisata (Disporbudpar) Drs Agus Muharam mengungkapkan, sejak 6 bulan lalu keberadaan kolam renang Catherine Surya sudah tidak terawat dengan baik. Bahkan, untuk persiapan menghadapi Porda Jawa Barat, tim renang Kota Cirebon harus berlatih secara berpindah-pindah.
“Untuk pengelolaan sendiri, awalnya oleh pemkot, tetapi selanjutnya diserahkan kepada Disdik. Oleh Disdik kemudian diserahkan kepada IGOKU, tetapi pada perjalanannya, oleh IGOKU pengelolaan kompleks olahraga Sunyaragi dikembalikan kepada Disdik,” ungkapnya. (*)