Tiba-tiba Ingin Membunuh

oleh -21 views
DITAHAN. Sebanyak 15 orang tersangka pembunuhan Tarsih (68), yang disangka sebagai dukun santet terus menjalani pemeriksaan di Mapolres Kuningan, kemarin (21/7).

DITAHAN. Sebanyak 15 orang tersangka pembunuhan Tarsih (68), yang disangka sebagai dukun santet terus menjalani pemeriksaan di Mapolres Kuningan, kemarin (21/7).

KUNINGAN – Penyesalan tampak pada raut wajah 15 tersangka pembunuhan Tarsih (68), seorang wanita lansia yang disangka sebagai dukun santet, di Blok Pasir Bungur, Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, Kabupaten Kuningan. Akibat perbuatan brutalnya, mereka bukan hanya harus merasakan pengapnya penjara, tetapi meninggalkan keluarga tercinta.
”Saya menyesal sekali. Apalagi kalau ingat anak sama istri di rumah. Kasihan mereka,” ungkap Ja’i (33), salah satu tersangka, saat diwawancara Radar, di sel tahanan Mapolres Kuningan, Rabu (21/7).
Menurut warga RT 3/1 Blok Karanganyar itu, keresahan warga kepada sosok korban yang diduga dukun santet itu sudah berlangsung lama. Korbannya juga sudah banyak, mulai perut warga yang membuncit, kemasukan batu dan lainnya. “Di Desa Cipakem, perbuatan Bu Tarsih sudah terkenal pak. Jadi bagaimana warga tidak resah, apalagi sudah banyak korban meninggal,” ungkap pria berpendidikan terakhir Madrasah Ibtidaiyah (MI) itu.
Dengan begitu, kata Ja’i, warga menjadi kesal. Bahkan, katanya, anak korban, Rusnadi juga merasakan malu dengan perbuatan korban. Perasaan itu pernah dibicarakan dengan warga. Rusnadi mengaku pasrah kepada warga.
Keresahan dan emosinya bersama warga lain kemudian memuncak. Apalagi saat mendengar ancaman dari korban bahwa semua warga akan diteluh jika berani mengganggu korban. “Bu Tarsih (korban, red) mengancam akan meneluh semua warga Pasir Bungur. Dan hanya akan disisakan dua orang saja,” imbuhnya.
Dari hal itu, warga mengambil kesepakatan untuk menggrebek rumah korban. Awalnya Ja’i mengaku tidak ada niatan untuk langsung menghabisi korban. Tetapi saat korban diambil warga dan diseret keluar, warga mendadak sepakat untuk membunuh korban. “Saya sendiri sebenarnya kurang tahu persis pekerjaan Bu Tarsih itu. Saya hanya mendengar dari warga lain,” aku Ja’i.
Ja’i mengaku tidak melaporkan samasekali rencana tindakannya bersama sekelompok temannya kepada aparat desa, termasuk RT dan RW. Semua terjadi atas kesepakatan warga.
Terpisah, Kepala Desa Cipakem, Diding Wahyudin saat dihubungi via ponselnya, merasa kaget dengan kejadian tersebut. Ia samasekali tidak menyangka, karena padahal selama ini pihaknya tidak pernah lelah melaksanakan penyuluhan kepada warga. “Kita sering mengadakan penyuluhan termasuk mengenai pencegahan keributan apapun. Sekarang ada peristiwa begini, saya kaget sekali,” ucap Diding, seraya menolak  untuk  komentar lebih jauh terkait kasus ini.
Sementara, sampai saat ini jumlah tersangka yang ditahan di Mapolres Kuningan masih berjumlah 15 orang. Belum ada tambahan, karena proses pemeriksaan masih terus dilanjutkan.
Tarsih tewas setelah dihabisi secara keji oleh warga secara beramai-ramai. Setelah dipukuli dengan batu, kayu dan benda tajam, korban dilempar ke kolam, meski masih dalam keadaan hidup. Keesokan harinya korban ditemukan sudah tidak bernyawa di pinggir kolam yang tidak jauh dari rumahnya. Hasil otopsi yang dilakukan oleh tim medis, korban mengalami luka bacok di kepala dan punggung. (tat)