Harga Sembako-Sayur Mayur Naik

oleh -15 views
NAIK. Pedagang tradisional Pasar Gunung Sari Kota Cirebon, Rosita melayani pembeli beras. Dalam pekan ini, naik Rp200-Rp400.

NAIK. Pedagang tradisional Pasar Gunung Sari Kota Cirebon, Rosita melayani pembeli beras. Dalam pekan ini, naik Rp200-Rp400.

CIPTO – Harga berbagai kebutuhan pokok jelang bulan suci Ramadan sudah mulai merangkak naik. “Bulan puasa tahun ini naiknya merata, bahkan sirup favorit untuk berbuka pun ikut-kutan naik,” kata pedagang pasar Gunung Sari, Rosita, kemarin (30/7).
Dirinya menjelaskan, untuk harga beras jenis Bl Rp5.700/kg dari harga sebelumnya Rp5.500, beras jenis Jago Rp6.000/kg dari harga Rp5.500/kg, telor ayam Rp14.800/kg dari harga sebelumnya Rp14.000/kg, minyak goreng Rp8.200 dari harga  Rp7.900/kg.
Kemudian untuk Sirup Tjampolay Rp14.500 dari harga Rp13.000/botol, kecap manis Rp9.000 dari harga Rp8.000/botol, tepung terigu harga Rp5.000 dari harga Rp5.000/kg, gula merah harga Rp7.800 dari harga Rp 7.500/kg. “Pokoknya banyak naik. Kalau ambil stoknya aja naik, ya terpaksa kami naikkan juga,” bebernya.
Sedangkan untuk jenis sayur mayur kentang Rp6.000 dari harga Rp5.000, cabe jepun Rp20.000 dari harga  Rp18.000/kg, cabe merah Rp20.000 dari harga Rp19.000. “Sayur mayur justru juga ikut-ikutan naik, padahal minggu lalu sebagian turun,” ucap dia.
Ruci Aman, seorang konsumen yang ditemui koran ini saat berbelanja mengaku sangat khawatir seiring makin tingginya harga-harga sembako. “Kami berharap pemerintah melakukan operasi pasar menyetabilkan harga pasar,” papar dia.
Saat dikonfirmasi, Kabid Perdagangan Dalam Negeri, Eddy Tohidi MM MBA menjelaskan, melihat pola permintaan tahun-tahun sebelumnya, yang perlu diawasi adalah stok barang dan memantau jalur distribusi atau mata rantai pemasok untuk mencegah adanya penimbunan. “Operasi pasar, biasanya cukup efektif. Kami berencana akan melakukan operasi H-3 puasa, tujuannya membuat harga tetap stabil,” tegas dia.
Eddy berharap para pedagang tidak menimbun barang untuk meraih keuntungan. Sebab, hal ini bisa merusak harga di pasar, karena kekhawatiran warga atas langkanya barang di pasaran.(ung)