Ditemukan Fosil Azimut

oleh -15 views
foto: moh junaedi FOSIL. Salah satu fosil yang ditemukan oleh aktivis lingkungan di bukit Azimut, Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.

foto: moh junaedi FOSIL. Salah satu fosil yang ditemukan oleh aktivis lingkungan di bukit Azimut, Kecamatan Waled Kabupaten Cirebon.

Aktivis Lingkungan Tetap Lakukan Penyelamatan
WALED – Setelah dibubarkan oleh Polres Cirebon saat melakukan penanaman pohon di sekitar bukit Azimut (Maneunteung) pada Minggu lalu (19/9), sejumlah aktivis lingkungan yang tergabung dalam Petakala Grage tidak akan mengurungkan niatnya untuk menyelamatkan bukit di perbatasan Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Kuningan ini dari kelongsoran.
Menurut Upri Embeng, Koordinator Lapangan (Korlap) aksi penanaman tersebut bahwa reboisasi akan terus dilaksanakan dan akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian. “Kedepan kita akan meminta izin kepada Kapolres Cirebon agar tidak dianggap melangkahi polisi yang sedang melakukan penyidikan kasus pengrusakan lingkungan,” katanya.
Dibubarkannya aksi taman pohon oleh pihak kepolisian dikarenakan para aktivis tersebut dianggap tidak memiliki izin. “Katanya sih gitu, tapi saya sudah menyerahkan surat izin ke Polsek Waled pada pukul 07.00 dan katanya surat tersebut baru dibaca pada pukul 11.00. Alhamdulillah dari kami tidak ada yang ditahan, kami hanya diberi peringatan saja,”katanya.
Yang melatarbelakangi para aktivis tersebut untuk melakukan penanaman di bukit Azimut (Maneunteung) adalah ditemukannya beberapa bukti retakan yang membentang dari ujung Barat hingga Timur dan apabila tidak segera diantisipasi akan terjadi bencana besar. “Kami hanya tidak ingin terjadi bencana besar karena bukit Maneunteng ini longsor, untuk itu kami berusaha mengantisipasinya. Kami tidak ingin menunggu terlalu lama proses hukum yang terbilang lamban, siapa yang akan bertanggung jawab apabila tiba-tiba bukit itu longsor,” tambah Upri.
Sundoro, Budayawan asal WTC mengungkapkan dengan ditemukannya sejumlah fosil, keramik peninggalan peradaban zaman dulu dan benda-benda bersejarah lainnya, menandakan bahwa bukit Maneunteng merupakan pusat kebudayaan dan perjuangan bangsa. Kini kondisinya hancur karena ulah manusia yang mengatasnamakan pembangunan. “Berarti hal itu sama saja menghancurkan dan tidak menghormati suatu peradaban bangsa,” paparnya.
Dia melanjutkan, selain menghancurkan peradaban bangsa orang-orang yang terlibat dalam pengrusakan bukit Azimut (Maneunteng), juga sama saja menghilangkan fakta sejarah rakyat WTC. “Ingat pesan Bung Karno, kalau bangsa ini mau maju jangan pernah lupakan sejarah. Namun, kalau melihat Azimut, bukan hanya melupakan sejarah tapi sudah merusak aset sejarah dan berusaha menghilangkannya,” tutur pria yang aktif di KPCT ini.
“Jangan sampai generasi muda kita hanya bisa mendengar bukit Azimut melalui dongeng dan tidak bisa menyaksikan langsung kokohnya bukit yang menjadi pusat peradaban nenek moyangnya,”  lanjut Sundoro. Pihaknya sangat prihatin dengan sikap bupati Cirebon yang terkesan ambivalen (mendua) dan saling lempar tanggungjawab. “Jadi, di Cirebon sudah terjadi kekosongan sosok pemimpin, apakah pemkab baru bertindak sesudah menimbulkan korban jiwa,” tuturnya.
Pihaknya mendesak kepada Polres Cirebon untuk berani menangkap para pelaku kejahatan lingkungan ini, siapa pun yang terlibat dalam pengrusakan ini Polres Cirebon harus bersikap tegas, objektif dan tidak tebang pilih. ”Jangan hanya berani tangkap penjahat kelas teri, tapi harus berani tangkap penjahat kelas hiu atau paus,” ungkapnya.
Menurut analisis Deddy Madjmoe berdasarkan literatur yang ada, benda-benda purbakala yang ditemukan di bukit Azimut (Maneunteng) merupakan peninggalan kerajaan Purwasanggarung yang berdiri kurun waktu 300-400 masehi yakni pada zaman kerajaan Tarumanegara. ”Berarti sebelum Padjajaran masuk ke Cirebon, sudah ada kerajaan kecil, sebab dahulu sungai Cisanggarung merupakan sarana transportasi yang cukup ramai di kala itu,” paparnya.
Sedangkan, fosil tulang dan beberapa mahluk laut seperti fosil kerang membuktikan bahwa dahulu bukit Azimut (Maneunteng) merupakan laut. ”Dulu laut Jawa hingga ke wilayah Ciledug dan sekitarnya dan temuan yang sama hingga perbukitan wilayah Benda Kota Cirebon” ungkapnya. Selain itu, di sekitar bukit ditemukan juga benteng atau bangker peninggalan penjajahan zaman Belanda.  (jun)