Mahasiswa Cari Tempat Aman

oleh -11 views

CIREBON – Makin memanasnya situasi politik di Mesir menyusul demontrasi yang menuntut mundurnya Presiden Hosni Mubarak, membuat cemas dan gelisah para keluarga mahasiswa Mesir yang berada di Cirebon. Salah satunya dialami Aidin Tamim Lc warga Perbutulan Sumber, Kab Cirebon yang memiliki dua anak Anu Nashar (23) jurusan Ushuludin Hadist dan Iryan Novitasari (19) jurusan Ulushuludin di Universitas Al-Azhar Kairo.
Abu Nashar mengatakan dirinya sudah menyelesaikan program S1 nya di Mesir. Ia pulang ke Indonesia 3 minggu sebelum terjadinya keributan di Mesir. Rencananya Februari ini ia akan berangkat ke Mesir untuk meneruskan S2 di universitas yang sama. Tapi, berhubung gejolak yang terjadi di sana ia mengurungkan niatnya sementara sampai suasanya kondusif, padahal paspor dan tiketnya sudah ada.
Aidin Tamim Lc, mengatakan keluarganya merasa cemas akan keselamatan Novi yang baru beberapa bulan kuliah di Universitas Al-Azhar. Aidin menyayangkan sikap pemerintah yang terkesan tak gesit dalam melakukan evakuasi warga negara Indonesia (WNI) tak seperti negara-negara lainnya. Lokasi tempat tinggal Novi di sana jaraknya sangat dekat dengan wilayah konfilk. “Keluarga sangat cemas dengan keselamatan anak di Mesir,” katanya. Ia menambahkan ketakutan lain baginya ialah bekal hidup. Masalahnya dengan terjadinya konflik di sana otomatis toko pada tutup. Meskipun komunikasi dengan anaknya hingga  kini masih berjalan baik.
Yang menjadi persoalan bagi anaknya yang merupakan lulusan dari pondok pesantren Gontor ini adalah kebutuhan makan setiap harinya. Selama di Mesir makanan pokoknya roti. “Kalau pabriknya tutup gara-gara itu, terus mau makan apa?,” katanya.
Sementara itu, ketika dihubungi Radar, Novi yang masih berada di Mesir menyatakan beberapa hari kemarin malam masih sering terjadi suara ledakan senjata dan teriakan orang. Tapi, semalam (31/1) sudah jarang terdengar. Mahasiswa yang tinggal di flat diberlakukan  jam malam. Mulai dari jam 16.00-,8.00. ketika siang hari diperbolehkan keluar hanya untuk membeli makanan saja. “Beberapa hari lalu sering terdengar suara ledakan senjata dan teriakan,” ungkapnya. Ketika  disinggung mengenai langkah yang dilakukan Dubes RI di Mesir dirinya menjawab selama seminggu ini, mahasiswa ditanggung perbekalan makannya oleh pemerintah. Sebab, tersiar kabar toko akan ditutup. Ia bersama teman-temannya kini buta akan informasi. Sebab, akes Internet dan televisi ditutup. “Kami tak bisa mengakses informasi, sebab akses internet dan TV tak ada,” tandasnya.(mul)